[PART 2] Otoritas dan Pernyataan Firman Tuhan yang Jadi Pedoman Bagi Orang Tua
Sumber: istockphoto.com

Parenting / 29 April 2023

Kalangan Sendiri

[PART 2] Otoritas dan Pernyataan Firman Tuhan yang Jadi Pedoman Bagi Orang Tua

Aprita L Ekanaru Official Writer
1913

Teologia Konservatif dan Reformasi setuju bahwa manusia memiliki sifat yang sangat mementingkan diri sendiri, bukan dalam bentuk perasaan, melainkan keinginan hati. Seperti yang telah Anda baca di bagian sebelumnya, manusia selalu ingin mencari keuntungan diri sendiri, bahkan ia mengambil keuntungan dari orang lain. Dua unsur penting dari sifat dasar manusia yang bersifat jahat secara rohani yang paling berpengaruh adalah kecenderungan untuk membenarkan diri sendiri dan keinginan untuk memuaskan diri sendiri. Tanpa adanya kehidupan yang memiliki disiplin pribadi, kedua faktor ini dapat sungguh-sungguh menghancurkan kehidupan anak maupun orang tua.

 

BACA JUGA: 3 Cara Membangun Keluarga Ilahi yang Berpedoman pada Nilai-Nilai dalam Alkitab

 

1. Membenarkan Diri Sendiri

Manusia diciptakan dengan kemampuan moral untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah. Di dalam Taman Firdaus, Adam dan Hawa berkuasa atas segala ciptaan (Kejadian 1:28). Tanggung jawab ini menumbuhkan dalam diri manusia kemampuan untuk memerintah. Ketika Adam berdosa, terjadi perubahan serius dalam keadaan moral manusia yang tadinya tidak ternoda. Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, di dalam dirinya tidak ada pertentangan antara penguasaan diri dan keinginan diri. Manusia tidak perlu berjuang untuk mengalahkan kepentingan dirinya sendiri yang biasanya lebih menonjol. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa. "diri sendiri' senantiasa menjadi pertimbangannya yang utama dan manusia selalu siap untuk membenarkan dirinya sendiri. 

Sejak saat itu, manusia dilahirkan dengan kecenderungan alami yang mementingkan diri sendiri. Sejak lahir, seorang anak memiliki sifat yang 'berpusat pada diri sendiri. Sewaktu anak bertumbuh, sifat ini mulai bertentangan dengan etika Alkitabiah yang berpusat pada Allah, baru kemudian orang lain dan dirinya sendiri. Tekanan dari keduanya menimbulkan konflik dalam diri anak dan kebutuhannya akan pendidikan dan latihan moral. Target kita sebagai orang tua bukan untuk membatasi tanggung jawab anak dalam menentukan pilihan. Hasil yang sangat ingin kita capai sebagai orang tua adalah membesarkan anak yang bergantung sepenuhnya kepada Tuhan melalui firman-Nya, bukan bergantung pada keinginan dagingnya. Penanaman nilai-nilai Alkitabiah dan pengendalian diri tidak akan mengganggu proses pertumbuhan anak, malahan sebaliknya akan mendukung proses tersebut. Nilai-nilai Alkitabiah bukan untuk menggantikan kelahiran baru, melainkan mewakili standar sikap yang sesuai dengan hukum moral Allah.

 

BACA JUGA: [PART 1] Prinsip-prinsip Dasar Membangun Keluarga Ilahi

 

Tidak ada orang tua yang pernah mengajarkan anaknya bagaimana merebut mainan dari temannya atau pergi menjauh pada waktu namanya dipanggil. Seorang anak dapat melakukan hal-hal yang buruk tapa diajarkan terlebih dahulu. Karena di dalam dirinya ada dorongan yang berasal dari sifat kedagingan manusia yang belum dapat ia kendalikan. Anak-anak belum dapat mengatur dirinya sendiri, oleh sebab itu orang tualah yang pada mulanya harus memegang kendali dalam memutuskan segala sesuatu untuk kebaikan si anak. Hal ini terus berlangsung sampai si anak dapat mengubah sikapnya dari yang memberikan respon hanya karena ia harus melakukan tanpa mengetahui alasannya menjadi anak yang hatinya mengerti mengapa ia harus bersikap tertentu dalam menghadapi situasi tertentu.

 

BACA HALAMAN SELANJUTNTYA >>

Sumber : Anne Marie Ezzo and Gary Ezzo | Jawaban.com
Halaman :
12Tampilkan Semua

Ikuti Kami