[PART 2] Prinsip-prinsip Dasar Membangun Keluarga Ilahi
Sumber: Adobe Stock

Parenting / 22 April 2023

Kalangan Sendiri

[PART 2] Prinsip-prinsip Dasar Membangun Keluarga Ilahi

Aprita L Ekanaru Official Writer
1312

Sebelum Anda melanjutkan membaca artikel ini, Anda dapat membaca bagian pertama terlebih dahulu. 

Kata "Keselamatan" mencakup seluruh makna Injil. Kata tersebut memadukan semua proses dan tindakan penyelamatan yakni: pembenaran, penebusan, anugerah, pendamaian, penyucian, pengampunan, pengudusan dan pemuliaan. Allah menebus orang berdosa di kayu salib. Di kayu salib itulah Yesus Kristus menjalani kematian yang seharusnya dan selayaknya kita jalani apabila kita terpisah dari Dia. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan Kristen memiliki pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun mereka mungkin tidak mengenal-Nya secara pribadi. Mereka perlu diselamatkan.

 

BAJA JUGA: 7 Tanggung Jawab Orang Tua dalam Membentuk Karakter Anak

 

Yesus Kristus berkata, "Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6). Alkitab berkata, "Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup." (1 Yohanes 5:12). Lebih lanjut Alkitab menyatakan, "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati. maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." (Roma 10:9-10)

Yesus Kristus menginginkan hati anak Anda, bukan hanya pikirannya. Yang terpenting bukan hanya pengetahuan dan pengakuan secara aka yang diberikan anak-anak Anda kepada Tuhan. Kristus menuntut penyerahan hati dan hidup secara total kepada-Nya agar kita dapat sungguh-sungguh dilahirkan kembali. Anak Anda perlu diselamatkan, sesuai dengan cara Allah.

Mengapa? Karena tapa lahir baru, orang tua tidak akan dapat mendidik anak secara Ilahi. Firman Tuhan memperingatkan akan hal ini. Kita tahu bahwa pada akhir zaman akan ada orang-orang yang "secara lahiriah menjalankan ibadah, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:5a). Yesus menentang adanya anggapan bahwa kita dapat menjadi serupa dengan Tuhan melalui pendidikan dan latihan. la pun menentang orang-orang yang menganggap dirinya benar hanya karena mereka telah berhasil mencapai tingkat moral tertentu (Matius 23:28; Lukas 16:15, 18:19). Yesus mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh benar (dengan kata lain; yang llahi) di hadapan Tuhan adalah mereka yang menyadari bahwa dirinya berdosa dan percaya akan adanya pengampunan dan kebenaran dalam Yesus (Yohanes 14:6; Matius 23:27-28; Lukas 18:9-14; Roma 3:23, 27-28).

 

BACA JUGA: Memahami Dampak Negatif Pola Asuh Otoriter pada Anak

 

Di luar Kristus manusia akan selalu diliputi keragu-raguan akan adanya kepuasan dan tujuan hidup yang pasti serta selalu mempertanyakan apakah kebenaran itu. Bila kita bicara soal kedudukan dalam keluarga, menjadi serupa dengan Tuhan adalah keputusan pribadi setiap anak, bukan orang tua. Pada prakteknya, titik awal pendidikan moral bagi setiap orang adalah dengan mengetahui dan melakukan standar etis yang Kristus ajarkan. Bagi mereka yang sudah dan belum lahir baru, satu-satunya standar yang digunakan untuk menunjukkan mana yang benar, salah, baik dan jahat adalah standar Tuhan sendiri. 

Sumber : Anne Marie Ezzo and Gary Ezzo | Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami