Orang Ini Harus Kehilangan Nyawanya Saat Memberikan Persembahan

Fakta Alkitab / 7 June 2022

Kalangan Sendiri

Orang Ini Harus Kehilangan Nyawanya Saat Memberikan Persembahan

Lori Official Writer
1475

Alkitab mencatat peristiwa tentang orang bersedekah atau memberi persembahan malah kehilangan nyawanya.

Kok bisa, apa penyebabnya?

 

Memberi Persembahan Harus Dengan Sukarela

Persembahan atau bersedekah merupakan bagian dari ibadah bagi banyak agama, termasuk umat Kristen.  

Namun bagi orang Kristen, memberi persembahan bukanlah sebuah kewajiban, tetapi harus dilakukan dengan sukarela sebab hal itulah yang berkenan di hadapan Tuhan.

"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

"Aku tahu, ya Allahku, bahwa Engkau adalah penguji hati dan berkenan kepada keikhlasan, maka akupun mempersembahkan semuanya itu dengan sukarela dan tulus ikhlas." (1 Tawarikh 29:17a) 

Walau dalam Perjanjian Lama ada aturan dan jumlah dari persembahan, tetapi umat dapat memberikan persembahan menurut kemampuannya masing-masing (Imamat 5:1-13). 

 

Baca Juga:

Di Tempat Ini Tuhan Yesus Mendirikan Gereja-Nya yang Pertama?

Fakta Alkitab: Sejarah Alkitab – Perusakan Rumah Ibadah di Zaman Alkitab

 

Tujuan Memberi Persembahan

Persembahan di Perjanjian Lama berhubungan dengan korban penghapus dosa atau penghapus salah (Imamat 4: 1-4; 13-14). Sedangkan bagi kita yang percaya pada Yesus Kristus, Dia telah menebus kita melalui pengorbanannya (2 Korintus 5:21; Yohanes 1:29) sehingga persembahan yang kita berikan adalah ungkapan syukur.  

Untuk itu Yesus mengajarkan bahwa memberi persembahan bukanlah untuk dipamerkan, tapi harus dilakukan secara diam-diam sehingga Tuhan mengetahui ketulusan hati kita.

"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matius 6:1-4)

 

Pasutri Lakukan Pansos Berkedok Persembahan

Ternyata melakukan pansos atau panjat sosial, atau meningkatkan status sosial mereka dengan bersedekah bukanlah hal baru. Hal ini terjadi di masa gereja mula-mula juga.  

Kisah Para Rasul 5:1-11 mencatat kisah suami-istri yang sepakat untuk menahan sebagian dari penjualan rumah mereka yang akan dipersembahkan bagi jemaat.  

Sang Suami, Ananias yang membawa persembahan itu di hadapan Rasul Petrus langsung mati. Bahkan ketika istrinya, Safira dikonfrontasi oleh Rasul Petrus, dia juga berbohong hingga mengalami nasib yang sama dengan suami.  

 

Baca Juga:

Fakta Alkitab: Terungkap! Inilah Saudara Kandung Yesus dan Pekerjaan Mereka

Segudang Keunikan Tempat Yesus Terakhir Berdoa yang Anda Perlu Tahu

 

Tren Memberi Persembahan di Masa Gereja Mula-mula 

Pada saat itu Rasul Petrus menekankan bahwa persembahan yang diberikan jemaat haruslah sesuai kerelaan mereka. Jadi tidak perlu berbohong supaya tampak  murah hati di hadapan banyak orang.

"Tetapi Petrus berkata: "Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah." (Kisah 5:3-4) 

Sebelum Ananias dan Safira sudah banyak orang yang menjual harta miliknya dan mempersembahkannya. Salah satunya adalah Yusuf yang disebut juga Barnabas (Kis 4:36-37). 

Tujuan dari persembahan itu adalah untuk mencukupkan kebutuhan jemaat  mula-mula saat itu, terlebih banyak dari antara jemaat itu adalah orang Yahudi dari berbagai wilayah yang sedang datang berziarah ke Yerusalem saat pencurahan Roh Kudus terjadi (Kis 4:32-35).  

Di kemudian hari pun, gaya hidup memberi dengan tulus hati ini menjadi ciri gereja mula-mula yang mengalami tekanan dari pemerintah Romawi.

"Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius. Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea. Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus." (Kis 11:28-30)

Jemaat yang dianiaya tersebar ke berbagai wilayah, namun dengan semangat saling menolong dan kasih membuat banyak orang percaya terus bertambah.  

Tentunya gaya hidup gereja mula-mula ini harus kita teladani. Kita harus saling menolong dan memberi dengan tulus hati.  

Percayalah pemberian yang tulus akan membuat mereka yang menerima merasakan kasih Tuhan dalam kehidupannya.  

 

Sumber : Fakta Alkitab
Halaman :
1

Ikuti Kami