Sikap dan Tanggung Jawab Gereja Menghadapi Tantangan Globalisasi
Sumber: google

Pelayanan Anak / 30 March 2014

Kalangan Sendiri

Sikap dan Tanggung Jawab Gereja Menghadapi Tantangan Globalisasi

Hevi Teri Official Writer
3189

II Tugas Kewarganegaraan Umat.

Anak-anak Allah adalah warga negara dua kerajaan; yaitu Kerajaan Allah dan Kerajaan di Dunia ini (Filipi http://www.jawaban.com/assets/uploads/hevi_teri/images/main/140324114505.JPG3:20-21). itulah sebabnya kita mengemban Mandat Illahi ganda. Yang pertama , Mandat Illahi Pembaruan, yang dipercayakan Allah kepada gerejaNya (dijelaskan diatas). Yang kedua, Mandat Illahi Pembangunan; yang dipercayakan Allah kepada semua insan, termasuk didalamnya orang-orang percaya. Kita adalah warga gereja yang sekaligus warga masyarakat Republik Indonesia, bertanggung jawab melaksanakan Mandat Illahi Pembangunan negara tercinta ini.

Ayat-ayat dalam Filipi diatas menegaskan bahwa tugas dan tanggung jawab gereja ialah sementara mempersiapkan manusia dengan hakekat dan kehidupan baru untuk memasuki Kerajaan Damai (Yohanes 3:3,5), juga harus terus dengan tekun menjalankan tugas pembangunan bangsa. Istilah kewarganegaraan dalam dua nats diatas dalam bahasa Yunani dipakai kata Poleteo , yang ditranslitasikan dari bahasa inggris kedalam bahasa Indonesia dengan kata politik. Dalam hal ini tugas pembangunan di sisi sosial, ekonomi, politik dan budaya adalah tugas tetap manusia sepanjang masa, sampai memasuki era globalisasi abad XXI.

Mandat Illahi Pembangunan (fisik) ini merupakan mandat dari Allah kepada manusia sebagai masyarakat apapun agamanya, untuk menjadikan bumi ini sebagai tempat yang baik untuk dihuni. Usahanya ditujukan kepada perbaikan kultur secara kuantitatif maupun kualitatif agar manusia dapat hidup dalam keadaan sehat sesuai sistem moral dan maksud luhur sang pencipta. Didalamnya manusia memperoleh keuntungan dan Allah dipermuliakan. Sarana bagi Mandat Illahi Pembangunan ini adalah negara ataupun perkumpulan-perkumpulan masyarakat atau bangsa-bangsa.

Dasar-dasar Alkitab mengenai mandat kultural ini disampaikan pada masa pradosa di taman Eden. (Kejadian 1:28) dan 2:15). Di sana Allah berfirman agar bumi dihuni, dipenuhi, ditaklukkan, dikuasai, dikerjakan, dan dipelihara sebagai tempat tinggal yang baik. Sesudah kejatuhan manusia kedalam dosa, tanggung jawab manusia diperbesar lagi. Ini ternyata dari Firman Allah kepada Nuh sesudah air bah (Kejadian 8:15; 9:17), dan seruan kepada para nabi lainnya.

Tuhan Yesus dan Paulus mempertegas pernyataan bahwa tanggung jawab ini dipercayakan kepada para pemerintah di semua negara di dunia ini tanpa ada perbedaaan.(Matius 22:21; Roma 13:1-7; Lukas 20:25; Markus 12:7). Semua jajaran pemerintahan dunia ini yaitu, raja-raja, presiden-presiden, para menteri, anggota MPR-DPR, kongres-kongres, senat, para gubernur, para walkota, para bupati, para camat, lurah, kepala desa dan berjuta-juta pegawai pemerintahan dalam menjalankan tugas, pada hakekatnya sedang menjalankan tugas/mandat ini (Roma 13:17). Dilengkapi dengan partisipasi masyarakat, pajak-pajak, sumbangan sukarela, sumbangan ilmu pengetahuan, moral, mental, material dan lain lain, menggambarkan bahwa barangkali 99% seluruh potensi dan personal yang ada di dunia ini sedang dicurahkan bagi suksesnya mandat ini.

Teologi Alkitabiah menerima Mandat Illahi Pembangunan ini sebagai buah iman, sekaligus sebagai sarana penginjilan. Meskipun ini penting namun nilainya temporal; kecuali bila dikawinkan dengan Mandat Illahi Rohaniah yang bersifat kekal itu.

Pada akhirnya, sasarannya ialah Tuhan Allah pencipta langit dan bumi; Allah Abraham, Ishak dan Yakub; Tuhan Yesus Kristus dipermuliakan.

By. Pdt.F.H.Saerang .   Lanjut >>>

Sumber : google
Halaman :
1

Ikuti Kami