Kolose 2: 13-14
"Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib..."
Penyaliban adalah cara hukuman mati yang paling kejam bagi orang-orang yang terbukti melakukan kejahatan di zaman Yesus. Para terpidana bisa bergantung berjam-jam - bahkan berhari-hari di bawah terik matahari sampai tubuh mereka tidak lagi kuat menahan beban sampai akhirnya paru-paru mereka berhenti bekerja. Tidak ada kematian yang lebih menyakitkan daripada cara ini.
Karena itu, orang Yahudi menganggap salib adalah simbol aib dan kehinaan. Bahkan nama-nya pun dianggap tabu untuk disebut dalam percakapan. Sebagaimana dicatat dalam Alkitab. Pertama, salib adalah penghinaan (Galatia 5:11). Kedua, salib adalah kebodohan dan batu sandungan (1 Korintus 1:23), dan salib adalah bentuk kutukan Allah (Ulangan 21:23).
Tetapi salib yang dianggap hina ini justru dipilih Allah sebagai jalan untuk menyatakan kasih-Nya. Yesus, anak Allah yang kudus dan tidak berdosa itu bukan tidak berkuasa dan tidak mampu, melainkan Ia ingin menunjukkan bahwa Ia rela mengambil tempat paling hina sebagai karya penebusan.
Melalui Yesus, salib yang dianggap kehinaan berubah makna menjadi "sebuah pengorbanan" yang tak ternilai. Bahkan Yesus yang tak berdosa rela disalibkan karena ketidaktaatan kita. Inilah yang ditekankan oleh Rasul Paulus, “Dan kamu, yang dahulu mati karena pelanggaran-pelanggaranmu dan karena ketidaktaatanmu, Allah telah menghidupkan kamu bersama-sama dengan Dia, setelah mengampuni semua pelanggaran kita dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib...” (Kolose 2:13-14).
Paulus menegaskan bahwa "Kristus telah menebus kita dari kutukan hukum Taurat dengan menjadi kutukan bagi kita." (Galatia 3:13). Ia yang tidak bersalah dihukum, supaya kita yang bersalah bisa dibebaskan. Inilah makna terbesar yang mengubah salib dari simbol kehinaan menjadi simbol kasih.
Dunia mungkin masih menganggap salib sebagai kebodohan. Tetapi bagi kita yang percaya, salib adalah bukti paling nyata bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita dalam dosa kita. Seperti yang dituliskan dalam 1 Korintus 1:18, "Sebab perkataan tentang salib itu adalah kebodohan bagi mereka yang binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan, itu adalah kuasa Allah."
Refleksi Pribadi:
Jumat Agung menjadi pengingat bahwa "hutang dosa kita sudah lunas dibayar di atas kayu salib." Mari mengucap syukur atas kasih-Nya yang telah kita terima.
"Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau rela menanggung kehinaan di atas salib demi dosaku. Tolong aku untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan-Mu, dan biarlah kasih-Mu di atas salib itu yang terus mengubah dan memperbarui hidupku setiap hari. Amin."