Lukas 5: 10-11
"...demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia. Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus."
Simon Petrus, Yakobus, dan Yohanes adalah nelayan biasa. Pekerjaan mereka sederhana dan berulang -mulai dari menebar jala di malam atau subuh hari, menunggu, menarik jala, memilah hasil tangkapan, membersihkan perahu selesainya di siang hari. Begitu aktivitas rutin setiap hari selama puluhan tahun. Mereka mengenal danau Galilea seperti mengenal rumah sendiri, tetapi dunia mereka terbatas pada apa yang bisa dijangkau oleh perahu kecil itu.
Ketika Yesus naik ke perahu Simon dan menyuruhnya menebar jala sekali lagi di tempat yang dalam, Simon sebenarnya sudah lelah dan gagal semalaman tanpa hasil. Mungkin awalnya Petrus berargumen dengan mengungkapkan apa yang mereka sudah lakukan. Tetapi pada akhirnya ia taat juga, "atas perkataan-Mu aku akan menebarkan jala juga," ucap Petrus. Hasilnya luar biasa—begitu banyak ikan hingga jala mereka mulai koyak dan perahu nyaris tenggelam. Di titik itu, Petrus justru jatuh di kaki Yesus dan berkata, "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." Ia merasa tidak layak.
Namun Yesus tidak membiarkan Petrus tinggal dalam rasa tidak layak itu. Ia berkata, "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." (Lukas 5: 10) Yesus melihat kapasitas yang lebih besar dalam diri Petrus daripada yang Petrus lihat dalam dirinya sendiri. Panggilan itu bukan promosi karier biasa—itu adalah undangan untuk meninggalkan zona nyaman sebagai nelayan ikan, dan menerima tanggung jawab yang jauh lebih besar: menjadi penjala manusia, seorang pemimpin yang akan menggembalakan jemaat mula-mula.
Yang menarik, Alkitab mencatat bahwa mereka "meninggalkan segala sesuatu" untuk mengikut Yesus. Mereka tidak menunggu sampai merasa "siap" atau "layak". Mereka merespons panggilan itu dengan iman, bukan dengan kepastian. Kapasitas diri mereka diperbesar bukan karena mereka sudah hebat lebih dulu, tetapi karena mereka bersedia melangkah ke dalam tanggung jawab yang Tuhan percayakan, dan membiarkan Tuhan membentuk mereka di sepanjang jalan.
Prinsip ini berlaku untuk semua hal - bahkan atas hidup kita pribadi. Kapasitas seseorang tidak bertambah hanya dengan menunggu di zona nyaman. Kapasitas bertumbuh ketika seseorang berani menerima beban, tantangan, dan tanggung jawab yang lebih besar dari yang pernah ia pegang sebelumnya—meski itu berarti risiko gagal, lelah, atau merasa tidak layak.
Tetapi jika kita mau jujur dengan hati kita. Banyak dari kita berhenti bertumbuh bukan karena kurang talenta, tetapi karena terlalu lama berdiam di "perahu yang sama" - entah pekerjaan, peran atau rutinitas yang sudah nyaman dan aman. Ketika kesempatan atau tanggung jawab baru datang - bisa tentang memimpin sebuah tim, melayani di gereja, mengambil keputusan besar dalam keluarga, atau merintis sesuatu yang baru biasanya respons alami kita sering kali seperti Petrus: "Aku tidak layak, aku tidak mampu."
Saudara, hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan sering memanggil kita justru pada saat kita merasa paling tidak siap, karena di situlah Ia hendak membentuk kapasitas baru dalam diri kita. Menerima tanggung jawab yang lebih besar bukan tentang merasa sudah pantas, melainkan tentang percaya bahwa Tuhan yang memanggil juga akan memperlengkapi.
Pertanyaan Refleksi:
1. Adakah "perahu nyaman" dalam hidupku baik rutinitas, peran atau zona aman — yang selama ini membuatku enggan menerima tanggung jawab yang lebih besar?
2. Ketika Tuhan atau lingkungan sekitar mempercayakan sesuatu yang lebih besar kepadaku, apakah responsku seperti Petrus yang merasa tidak layak, atau seperti Petrus yang akhirnya taat dan melangkah?
3. Apa satu hal yang dengan komitmen aku mau ambil hari ini untuk mulai "menebar jala di tempat yang lebih dalam" dan bersedia memikul tanggung jawab baru.
Sebelum mulai mengambil langkah maju di minggu ini, datanglah kepada Tuhan dan ucapkan komitmenmu secara pribadi:
"Tuhan, ampuni aku ketika rasa tidak layak membuatku menolak panggilan-Mu untuk bertumbuh. Berikan aku keberanian seperti Petrus, untuk meninggalkan zona nyamanku dan melangkah dalam iman menerima tanggung jawab yang Engkau percayakan. Bentuklah kapasitasku sesuai rencana-Mu yang jauh lebih besar dari yang bisa kubayangkan. Amin."
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Blessed.