Mengasihi Seperti Bapa
Kalangan Sendiri

Mengasihi Seperti Bapa

Lori Official Writer
      188

Roma 5: 8 

"Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." 

 

Sebagai orang tua, kita sering membayangkan kehidupan anak-anak kita sebagai jalan lurus—pertumbuhan, kesuksesan, dan mengikuti nilai-nilai yang kita ajarkan kepada mereka. Tetapi hidup jarang sekali berupa garis lurus. Terkadang, anak-anak kita mengambil jalan yang tidak pernah kita duga, membuat kita patah hati, bingung, atau bahkan malu. 

Alkitab memberi kita landasan yang kuat tentang bagaimana menangani momen-momen ini. Dalam Roma 5:8 (TB), dikatakan: 

"Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." 

Allah tidak menunggu kita untuk "memperbaiki diri" sebelum Dia mengasihi kita. Dia tidak menjauhkan diri sampai kita terlihat lebih terhormat. Dia menemui kita tepat di tengah-tengah kekacauan kita. Sebagai orang tua, kita dipanggil untuk mencerminkan kasih yang persisten dan konsisten penuh pengorbanan yang sama seperti yang dipancarkan Kristus kepada kita sekalian. 

Mudah untuk mengasihi seorang anak ketika mereka memenangkan penghargaan atau duduk di samping Anda di gereja. Ujian sejati hati orang tua datang di lembah. Kita harus bertanya pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan sulit ini: 

  • Apakah kita masih akan mencintai anak-anak kita jika mereka terlibat dalam narkoba?
  • Apakah kita masih akan mencintai mereka jika mereka menutupi tubuh mereka dengan tato yang bertentangan dengan keyakinan pribadi kita?
  • Apakah kita masih akan mencintai mereka jika pilihan hidup mereka membuat kita merasa sangat malu sehingga kita ingin menjauh dari mereka dan bersembunyi? 

Memilih untuk pergi mungkin terasa seperti melindungi reputasi kita, tetapi itu menghancurkan jembatan yang mungkin suatu hari nanti perlu dilalui kembali oleh anak kita. Mencintai tanpa syarat bukan berarti kita setuju dengan setiap pilihan yang mereka buat, tetapi itu berarti kita tidak pernah berhenti menjadi tempat aman bagi mereka. 

Pertimbangkan kisah pasangan bernama John dan Mary. Putri mereka, yang tumbuh di rumah yang stabil, sangat terlibat dalam penyalahgunaan narkoba di awal usia dua puluhan. Selama bertahun-tahun, ia keluar masuk masalah, seringkali tampak tidak dapat dikenali dan membuat pilihan yang sangat menyakitkan bagi orang tuanya untuk disaksikan. 

John dan Mary dihadapkan pada pilihan: bersembunyi dalam rasa malu atau tetap hadir. Mereka memilih untuk tetap tinggal. Mereka tidak membiayai kecanduannya, tetapi mereka tidak pernah berhenti menghubunginya. Mereka mengunjunginya di pusat rehabilitasi—bukan dengan ceramah, tetapi dengan pelukan dan makanan rumah. Ketika dia merasa dunia telah meninggalkannya, dia tahu pintu rumah orang tuanya selalu terbuka. 

Karena mereka menolak untuk "menjauhkan diri" dari hidupnya, mereka adalah orang pertama yang dia hubungi ketika dia akhirnya mencapai titik terendah dan membutuhkan bantuan. Cinta tanpa syarat mereka adalah tali yang menariknya kembali ke tempat yang aman. Hari ini, dia telah pulih dari kecanduan dan menganggap pemulihannya berkat fakta bahwa orang tuanya mencintainya bahkan ketika dia "tidak layak dicintai". 

Mencintai anak kita melalui masa "anak yang tersesat" adalah pekerjaan tersulit yang pernah kita lakukan. Itu membutuhkan lebih banyak doa dan kerendahan hati daripada apapun. Ingatlah, anak kita lebih dari sekadar perjuangan mereka saat ini atau penampilan luar mereka. Mereka adalah jiwa yang diciptakan menurut gambar Allah, jadi kasihilah mereka sebagaimana Bapa Surgawi mengasihi.

 

Doa: 

Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mencintaiku ketika aku masih berdosa. Berikanlah aku hati seperti hati-Mu. Ketika anak-anakku menyimpang atau membuat pilihan yang menyakiti atau mempermalukanku, bantulah aku untuk memilih kasih sayang daripada rasa malu. Berikanlah aku kekuatan untuk tetap hadir dan rahmat untuk tetap berjalan dalam terang Firman-Mu. Amin. 

 

Hak Cipta Renungan oleh Rev. Dr. Harry Lee, MD.,PsyD, Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles, California 

Ikuti Kami