Memperlakukan Orang Lain Bukan Dengan Memandang Muka

Renungan Harian / 14 July 2026

Memperlakukan Orang Lain Bukan Dengan Memandang Muka
Lori Official Writer
      233

Yakobus 2: 1-4

Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!", bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?

 

Yesus, Sang Pemilik semesta alam, datang ke dunia bukan dengan jubah kebesaran istana atau iring-iringan kehormatan. Ia lahir sederhana, hidup sebagai musafir, dan tidak memiliki tempat tinggal tetap. Bahkan Yesus sendiri berkata, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Lukas 9:58).

Ia tidak dihormati karena penampilan-Nya. Ia diremehkan karena berasal dari Nazaret. Ia dipandang sebelah mata oleh para elite agama. Namun dari Pribadi yang dianggap “biasa” inilah kemuliaan Bapa dinyatakan.

Firman Tuhan dalam Yakobus 2: 1-4 menyampaikan dengan sangat jelas bagaimana iman kita kepada Kristus seharusnya diwujudkan dalam bentuk kasih yang tulus, bukan dengan memandang muka. Seperti memperlakukan seseorang lebih hormat hanya karena ia kaya, berpenampilan baik, atau memiliki status sosial tinggi, sementara orang yang miskin, sederhana, atau terlihat lemah justru kita abaikan.

Yakobus mengajak kita merefleksi kembali tentang cara kita memperlakukan orang lain, terutama mereka yang sering dianggap kecil oleh dunia. Sebab ketika kita merendahkan orang yang miskin, lemah, atau terpinggirkan, kita sedang bertindak seperti hakim yang menilai manusia dari luar. 

Kita bisa tanpa sadar melakukannya dengan cara yang sangat halus - hati kita mungkin tidak langsung menolak orang miskin secara terang-terangan tetapi kita menjadi pribadi yang hanya nyaman bergaul dengan orang yang setara dengan kita. Kita menghindari lingkungan yang dianggap “rendah”. Kita merasa kasihan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh hadir. Kita berkata ingin menolong, tetapi selalu punya alasan untuk menjaga jarak.

Memang benar, menolong orang lain perlu hikmat. Kita tidak boleh menciptakan ketergantungan atau memberi dengan cara yang merendahkan. Tetapi hikmat tidak boleh menjadi alasan untuk menutup hati. Kehati-hatian tidak boleh berubah menjadi ketidakpedulian. Sebab belas kasihan yang sejati tidak hanya bertanya, “Apakah orang ini layak saya bantu?” tetapi juga, “Bagaimana saya bisa mengasihi dia dengan cara yang benar?”

Yesus tidak pernah memandang manusia dari status, pakaian, atau kedudukan. Ia mendekati orang sakit, menyentuh yang dianggap najis, menerima yang ditolak, dan memulihkan mereka yang tidak diperhitungkan. Kasih-Nya tidak memilih-milih. Belas kasihan-Nya tidak berhenti pada orang-orang yang terlihat pantas dikasihi.

Maka hari ini, Firman Tuhan mengajak kita mengubah cara pandang. Orang yang kita temui di pinggir jalan, yang hidup dalam kekurangan, yang tidak punya suara, yang sering kita lewati begitu saja, bukanlah gangguan dalam perjalanan hidup kita. Mereka adalah sesama yang Tuhan izinkan hadir di depan mata kita, agar kasih Kristus di dalam diri kita tidak hanya menjadi pengakuan iman, tetapi menjadi sebuah tindakan dalam bentuk perhatian, senyuman atau pelukan yang hangat.

Jika Anda diberikan kesempatan untuk melakukannya, apa tindakan konkrit yang bisa Anda lakukan hari ini kepada orang-orang semacam ini? 

Bagikan komitmen Anda hari ini dengan orang terdekat atau rekan sekerja Anda, dan mintalah Roh Kudus untuk membentuk hati Anda penuh dengan belas kasihan-Nya terhadap sesama. 

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?