Mengubah Keluhan Jadi Penyembahan

Renungan Harian / 10 October 2026

Mengubah Keluhan Jadi Penyembahan
Claudia Jessica Official Writer
      101

Habakuk 3:17-18

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah... namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.”

 

Ada masa ketika dunia terasa runtuh di depan mata. Berita tentang bencana, kebakaran hutan dan lahan, banjir, harga kebutuhan yang naik, ketidakadilan sosial, hingga suara rakyat yang seolah tidak cukup didengar bisa membuat hati kita lelah. Kita bertanya, “Tuhan, sampai kapan keadaan seperti ini dibiarkan?”

Pertanyaan seperti itu juga pernah keluar dari hati Nabi Habakuk. Ia melihat kejahatan, kekerasan, dan ketidakadilan terjadi di sekelilingnya. Ia tidak pura-pura kuat atau menutupi kekecewaannya dengan penyembahan lewat kata-kata yang manis. Habakuk membawa keluh kesahnya langsung kepada Tuhan.

Namun kitab Habakuk tidak berhenti pada protes dan keluhan. Setelah mendengar jawaban Tuhan, keadaan tidak langsung berubah menjadi mudah. Ancaman tetap ada. Masa depan bangsa tetap terlihat berat. Bahkan Habakuk menggambarkannya dengan keadaan yang sangat sulit: pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, ladang tidak menghasilkan, dan ternak lenyap dari kandang.

Gambaran itu terasa dekat dengan kehidupan kita. Ada orang yang tetap bekerja keras, tetapi hasilnya belum cukup. Ada keluarga yang cemas menghadapi biaya hidup. Ada masyarakat yang terdampak bencana dan merasa tidak tahu harus mulai lagi dari mana. Ada juga yang kecewa melihat keadaan bangsa, lalu merasa imannya ikut goyah.

Tetapi di tengah semua itu, Habakuk berkata, “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN.” (Ayat 18)

Ini bukan sukacita yang lahir karena keadaan baik-baik saja. Ini adalah penyembahan yang lahir dari hati yang sudah bergumul, menangis, bertanya, tetapi tetap memilih percaya kepada Allah.

Habakuk mengajarkan bahwa doa tidak selalu langsung mengubah keadaan di luar kita, tetapi doa bisa mengubah cara hati kita berdiri di tengah keadaan itu.

Keluh kesah yang dibawa kepada Tuhan dapat berubah menjadi penyembahan yang lebih murni, bukan karena semua masalah selesai, tetapi karena kita kembali melihat bahwa Tuhan tetap memegang kendali.

 

Momen refleksi:

Apa yang paling membuatmu kecewa atau lelah melihat keadaan hidup, keluarga, bangsa, atau dunia hari-hari ini?

Action hari ini:

Tuliskan satu keluh kesahmu kepada Tuhan dengan jujur. Setelah itu, ubah menjadi doa, “Tuhan, meskipun keadaan ini belum berubah, ajar aku tetap percaya, tetap berdoa, dan tetap menjadi terang di tengah bangsa ini.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?