Daniel 6: 10 & 22
"Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya...Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku..."
Di beberapa negara, sampai hari ini, masih ada aturan yang melarang orang Kristen beribadah, bahkan berdoa. Mereka terpaksa melakukannya sembunyi-sembunyi—menutup jendela rapat-rapat, mematikan suara, bahkan menyamarkan ibadah seperti perkumpulan biasa. Jika kedapatan berdoa atau membaca Alkitab, ancamannya bisa berupa penjara, kehilangan pekerjaan, bahkan nyawa.
Ribuan tahun lalu, Daniel sudah lebih dulu mengalaminya. Ia hidup di negeri asing, di bawah aturan yang melarang siapa pun berdoa kepada Tuhan, dengan ancaman hukuman mati jika melanggar. Namun perhatikan apa yang dilakukan Daniel—ia tidak gentar menghadapi ancaman itu. Ia tetap pulang ke rumah, berlutut di kamar yang jendelanya terbuka ke arah Yerusalem, lalu berdoa serta memuji Tuhan tiga kali sehari, seperti yang biasa ia lakukan.
Setiap hari, Daniel berdoa menghadap Yerusalem dan mendoakan bangsanya. Ia menggemakan doa Salomo saat mentahbiskan Bait Allah, yang memohon agar umat yang berada di pembuangan tetap berdoa untuk tanah yang telah Tuhan janjikan (1 Raja-raja 8:44-45). Di sinilah sisi menarik dari sosok Daniel—sekalipun ia berada di tempat pembuangan, jauh dari bangsanya, ia tetap berdoa sepenuh hati bagi mereka.
Di tengah bangsa yang tidak mengenal Allah, Daniel berani mengambil konsekuensi untuk tetap menyembah dan berdoa tiga kali sehari. Namun Tuhan tidak serta-merta menghindarkannya dari hukuman—ia tetap dilemparkan ke dalam gua singa. Justru di tengah ancaman singa yang kelaparan itulah kuasa doa Daniel bekerja nyata. Doanya mampu membungkam mulut singa-singa itu, dan ia sama sekali tidak terluka.
Inilah kesaksian yang ia bawa kepada Raja Darius: "Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku" (Daniel 6:22).
Kuasa doa Daniel menjadi salah satu teladan iman yang disebutkan berulang kali dalam Alkitab, mengajarkan kita bahwa penyembahan dan doa yang dinaikkan dengan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan adalah senjata yang berkuasa untuk membungkam musuh. Hari-hari ini, mungkin ada banyak kondisi yang membuat kita tergoda meninggalkan ibadah dan doa harian—baik karena lingkungan yang penuh tekanan maupun sistem yang tidak mendukung iman. Namun mari tetap berani melakukan yang benar. Tuhan yang sama yang mendengar doa Daniel di dalam gua singa, adalah Tuhan yang sama yang akan membela kita hari ini.
Pertanyaan Refleksi:
1. Apakah tekanan dari orang lain atau lingkungan sekitar selama ini membuat Anda berhenti atau mengurangi waktu menyembah dan berdoa kepada Tuhan?
2. Tekanan terbesar apa yang sedang Anda hadapi saat ini yang memaksa Anda mengesampingkan prioritas ibadah dan doa kepada Tuhan?
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!