Membuka Ruang untuk Saling Memaafkan
Kalangan Sendiri

Membuka Ruang untuk Saling Memaafkan

Lori Official Writer
      110

Matius 5:23-24 

"Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat di situ, bahwa ada sesuatu dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu." 

 

Jujur saja, meminta maaf atau memberi pengampunan sering kali terasa seperti kekalahan. Kita merasa bahwa dengan meminta maaf, kita mengakui kelemahan, dan dengan memaafkan, kita membiarkan orang lain "menang" atas luka yang mereka perbuat. Kita lebih nyaman membawa luka itu ke dalam doa pribadi daripada menyelesaikannya secara nyata. Kita berpikir, "Bukankah cukup hanya mengaku dosa kepada Tuhan?"  

Namun, Matius 5:23-24 menyampaikan satu pesan yang sangat penting bahwa Tuhan tidak menginginkan penyembahan yang "suci" di bibir sementara ada tembok permusuhan di hati. Yesus meminta kita menghentikan ritual ibadah sejenak untuk membereskan hubungan horizontal. 

Ini menunjukkan bahwa bagi Tuhan, hubungan yang dipulihkan sama pentingnya dengan ibadah yang kita bawa kepada-Nya. 

Mungkin ada bagian dalam hati kita yang bertanya, “Bukankah Tuhan sudah mengampuni saya? Mengapa harus membuka luka lama lagi?” 

Karena pengampunan bukan hanya tentang kita merasa lega di hadapan Tuhan. Pengampunan juga tentang membuka jalan pemulihan bagi orang lain. Ketika kita berani meminta maaf, kita sedang meruntuhkan tembok kesombongan dalam diri kita. Kita memberi ruang bagi Tuhan untuk menyembuhkan relasi yang mungkin sudah lama retak. 

Rasul Paulus mengingatkan dalam Kolose 3:13 bahwa cara kita mengampuni orang lain adalah seperti Tuhan telah mengampuni kita. Tuhan tidak menunggu kita sempurna sebelum Ia mengampuni. Ia mengambil langkah lebih dulu melalui salib. Kasih-Nya mendahului kita. 

Begitu juga dengan kita. Kita meminta maaf bukan karena kita yakin akan diterima dengan baik, tetapi karena kita memilih hidup dalam ketaatan. 

Memang, membuka ruang untuk saling memaafkan tidak selalu mudah. Kadang yang paling sulit bukan meminta maaf, tetapi merelakan ego kita untuk memberi maaf. Hati kita sering ingin bertahan pada rasa sakit, merasa bahwa kita berhak menyimpan luka itu lebih lama. 

Tetapi Tuhan mengajak kita untuk tidak menjadi orang-orang agamawi yang fokus menjalankan ritual agama saja. Firman hari ini menegaskan bahwa mengampuni berarti memilih untuk tidak lagi memegang erat kesalahan orang lain. Kita belajar menurunkan pertahanan hati dan memberi ruang bagi kasih Tuhan bekerja di dalam relasi yang terluka. 

Minggu ini mungkin ada banyak orang yang sedang bergumul dengan konflik hubungan—dengan pasangan, sahabat, keluarga, atau rekan kerja. Ada juga yang diam-diam memikul beban batin karena kata-kata atau peristiwa di masa lalu yang belum selesai. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa pemulihan sering dimulai dari satu langkah sederhana: hati yang bersedia merendahkan diri dan membuka pintu pengampunan. 

Ketika seseorang datang meminta maaf, kita diberi kesempatan untuk mencerminkan hati Kristus. Dan ketika kita memilih untuk memaafkan, kita sedang membebaskan bukan hanya orang lain, tetapi juga diri kita sendiri dari beban yang selama ini kita bawa. 

Karena pada akhirnya, pengampunan bukan tanda kelemahan. Pengampunan adalah tanda bahwa kasih Tuhan lebih besar daripada luka yang pernah kita alami.    

 

Action Praktis: 

Minggu ini mari mengukir sejarah baru: Ambil ponsel Anda atau temui seseorang yang hubungan Anda selama ini  terasa "dingin" atau canggung dengan Anda karena kesalahan di masa lalu, lalu kirimkan satu pesan singkat yang rendah hati dan penuh kasih untuk mengakui kesalahan dan bersedia untuk berdamai dengan kesalahan Anda di masa lalu. Mari katakan: 

"Hai [Nama], mungkin hubungan kita selama ini terasa dingin sejak aku menyadari kata-kataku waktu itu [sebutkan spesifik] menyakitimu. Hari ini, aku mau meminta maaf untuk setiap hal yang sudah aku lakukan. Aku berharap hubungan kita tetap baik. Terima kasih karena sudah memberikan aku kesempatan untuk mengakui kesalahanku dan meminta maaf. Tuhan memberkati." 

Ikuti Kami