Radio Iman Pemuridan Dari Rumah ke Gereja
Kalangan Sendiri

Radio Iman Pemuridan Dari Rumah ke Gereja

Lori Official Writer
      109

Ulangan 6: 6-7

“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

 

Bayangkan pemuridan layaknya sebuah sistem radio dua arah. Di rumah, Anda memiliki “Unit Genggam” (Handheld Unit). Alat ini bersifat pribadi, mudah dibawah kemana-mana, ke dapur, ke dalam mobil, ke kamar tidur, singkatnya kemana saja. Di gereja, Anda memiliki “Stasiun Induk” (Base Station). Alat ini memiliki antena yang lebih besar, daya yang lebih kuat, dan menghubungkan Anda ke jaringan orang-orang yang lebih luas.

Jika Anda hanya menggunakan Unit Genggam (di rumah) tanpa Stasiun Induk (gereja), Anda mungkin kehilangan “gambaran besarnya” atau merasa terisolasi saat daya baterai Anda mulai melemah. Namun, jika Anda hanya mengandalkan Stasiun Induk dan tidak pernah membawa serta Unit Genggam itu ke dalam kehidupan sehari-hari Anda, sinyal tersebut tidak akan pernah menjangkau tempat di mana Anda benar-benar menjalani hidup. Pemuridan yang sejati menuntut agar kedua frekuensi tersebut terjalin dengan jernih.

Sudah selayaknya kita menjadikan rumah kita sebagai “Ladang Pelatihan". Pemuridan bukanlah sekadar kegiatan yang dilakukan pada hari Minggu saja; melainkan sebuah ritme kehidupan yang dijalani “seiring berjalannya waktu”. Kitab Ulangan memerintahkan kita untuk membicarakan Firman Tuhan saat kita duduk, berjalan, berbaring, dan bangun tidur. Ini berarti rumah kita seharusnya bukan sekadar tempat di mana kita hanya “berperilaku” layaknya seorang Kristen, melainkan tempat di mana kita mempraktekkan cara hidup yang serupa dengan Kristus.

Justru dalam momen-momen yang penuh kekacauan—seperti saat kita bereaksi terhadap vas bunga yang pecah atau tagihan yang membebani pikiran—keluarga kita belajar seperti apa sesungguhnya wujud nyata dari mengikut Yesus itu.

Meskipun rumah merupakan sekolah iman yang utama, komunitas gereja adalah “desa” yang memberikan dukungan bagi sekolah tersebut. Kita tidak pernah dirancang untuk mengikut Yesus dalam kesendirian yang terisolasi. Gereja menyediakan sarana “besi menajamkan besi” (Amsal 27:17) yang membantu kita tetap berada di jalur yang benar ketika kehidupan di rumah terasa berat dan sulit. 

Berikut ini kita dapat belajar dari perumpamaan Kisah Sukses Keluarga Miller dan “Desa” Mereka.

Di sebuah kota kecil di Ohio (Amerika), Sarah dan Mark Miller berjuang keras untuk menjaga agar putra remaja mereka, Leo, tetap terhubung dengan imannya. Mereka melakukan saat teduh keluarga di rumah, namun Leo merasa seolah dialah satu-satunya anak seusianya yang peduli pada Alkitab.

Alih-alih menyerah, Sarah dan Mark justru bersandar pada komunitas gereja mereka. Mereka mengundang sepasang suami istri yang lebih tua dari kelompok kecil mereka—Bapak dan Ibu Gable—untuk makan malam bersama sebulan sekali. Bapak Gable, seorang pensiunan mekanik, mulai mengajari Leo cara memperbaiki mesin-mesin tua sembari berbincang secara alami tentang bagaimana Tuhan merancang dunia ini.

Pada saat yang sama, keluarga Miller tetap konsisten di rumah. Mereka tidak menyampaikan khotbah yang panjang; mereka hanya membagikan apa yang sedang mereka pelajari dari bacaan Alkitab pribadi mereka saat sarapan.

Kini, Leo telah beranjak dewasa dan aktif melayani di gerejanya. Ia menyadari bahwa imannya tumbuh bukan hanya karena satu “momen besar” semata, melainkan berkat pesan-pesan konsisten yang ia terima—baik dari kedua orang tuanya di meja makan, maupun dari para mentor yang ia temui di bangku-bangku gereja. Rumah tanggalah yang menanam benihnya, sementara komunitas gereja yang menyediakan hujan dan sinarnya.

Untuk dapat belajar lebih lanjut tentang pentingnya membicarakan nilai-nilai Alkitab dalam rumah, silakan masuk ke website ini:  https://www.barna.com/research/spiritually-vibrant-household/.

Hari ini saya ingin mengajak kita sekalian untuk merenungkan dan menerapkan apa yang telah kita pelajari dari Firman Tuhan, baik di rumah ataupun di gereja. 

Di Rumah: Minggu ini, pilihlah satu “momen alami” (seperti saat makan malam atau perjalanan menuju sekolah) untuk membagikan satu hal yang patut Anda syukuri kepada Tuhan.

Di Gereja: Jangkau satu orang pada hari Minggu ini—mungkin seseorang yang lebih tua atau lebih muda dari Anda—lalu tanyakan, “Bagaimana saya bisa mendoakan Anda minggu ini?”

 

Action Praktis:

Ambil beberapa menit ke depan untuk mengundang Roh Kudus hadir dan mulailah mengucapkan doa di bawah ini dengan sepenuh hati:

“Tuhan, bantulah aku menjadi murid yang tidak sekadar “pergi ke gereja,” melainkan yang “menjadi gereja” di dalam rumahku sendiri. Karuniakanlah kepadaku kasih karunia untuk mengajar keluargaku, serta kerendahan hati untuk belajar dari komunitasku. Amin.”

 

Hak Cipta Renungan oleh Dr. Harry Lee, MD.,PsyD, Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California

Ikuti Kami