Menjadi Pemenang Sampai Garis Akhir
Kalangan Sendiri

Menjadi Pemenang Sampai Garis Akhir

Lori Official Writer
      271

Ibrani 10:36

“Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”

 

 

Bayangkan seorang pemahat yang berdiri di depan bongkahan batu granit besar. Ia memukul batu itu sekali, dua kali, bahkan ratusan kali, tetapi belum terlihat retakan. Bagi orang lain, itu tampak sia-sia. Namun sang pemahat tahu, batu itu akan pecah bukan karena satu pukulan terakhir, melainkan karena ribuan pukulan kecil yang dilakukan setiap hari dengan setia.

Hal ini juga berlaku dalam hidup kita, bahwa ketekunan yang kita lakukan setiap hari mungkin tidak dilihat orang dan seolah tidak menghasilkan apa-apa. Tetapi Ibrani 10:36 menyampaikan hasil akhir dari sebuah ketekunan adalah memperoleh janji-Nya. Saat kita tekun mengerjakan kehendak Tuhan - apapun pun yang saat ini sedang Tuhan percayakan entah itu adalah tanggung jawab terhadap anak, pekerjaan, misi untuk menjangkau jiwa, melatih orang-orang yang membutuhkan bantuan dan mungkin merawat orang-orang yang terbuang, maka kesetiaan kita akan mendatangkan hasilnya. 

Tetapi yang menjadi tantangannya adalah kita bisa menyerah dengan situasi sulit, atau tergoda untuk mencari kenyamanan pribadi. Akibatnya kita lupa untuk bertekun menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. 

Renungan hari ini mengajak kita untuk belajar menjadi "PEMENANG" sampai garis akhir. Bagaimana caranya? 

Pertama, tetap setia mengerjakan bagian kita sekalipun hasilnya seolah mengecewakan atau bahkan tidak ada yang memuji dan mengakui.

"Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58)

Kedua, saat hampir menyerah dengan kesulitan yang datang. Entah itu bisnis Anda gagal, hasil dari pekerjaan Anda tidak dihargai atau pelayanan Anda tidak dianggap, tetaplah fokus memandang kepada tujuan akhirnya yaitu menuntaskan kehendak Allah.

"Marilah kita menanggalkan semua beban… dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita, dengan mata yang tertuju kepada Yesus." (Ibrani 12:1-2)

Ketiga, mencari hikmat Tuhan. Sama seperti seorang pelari, ia tidak akan sembarang berlari tetapi dengan bijaksana untuk mengatur “nafas” selama berlari. Kita perlu hikmat Tuhan untuk menuntun kita menghadapi tantangan dan kesulitan dengan menyediakan jalan keluar.

"Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah… maka hal itu akan diberikan kepadanya." (Yakobus 1:5)

Saudara, percayalah bahwa keberhasilan kita ditentukan dari ketekunan kita mengerjakan apa yang menjadi bagian dalam hidup kita terus-menerus. Seperti seorang pemahat batu granit yang harus memukul ratusan kali untuk melihat hasilnya. Dan tentunya ketekunan ini harus dibarengi dengan kerendahan hati kita untuk terus bergantung kepada kuasa Tuhan.  

Karena akan ada hari ketika kita lelah, kecewa, atau merasa usaha kita tidak menghasilkan apa-apa. Namun justru di situlah kita membutuhkan Tuhan untuk melihat seberapa besar ketekunan kita. Sehingga Dia memperbaharui kekuatan kita untuk terus melangkah ampai garis akhir.

 

Refleksi Pribadi:

1. Di bagian mana dalam hidup saya yang membuat saya hampir menyerah?

2. Sudahkah saya mengandalkan Tuhan untuk memberi saya hikmat dan kekuatan disaat saya mulai merasa lelah atau hilang fokus?

Ikuti Kami