Saat Hati Ditarik untuk Menoleh ke Belakang

Renungan Harian / 30 April 2026

Saat Hati Ditarik untuk Menoleh ke Belakang
Lori Official Writer
      475

Kejadian 19:17, 26

"Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: "Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap...Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam."

 

Bayangkan seorang pengusaha yang sudah diperingatkan oleh penasihat keuangannya: "Jangan masuk ke instrumen ini — risikonya terlalu besar." Ia mendengar, ia mengangguk, namun iming-iming keuntungan 30% per bulan terus berputar di kepalanya. Diam-diam, tanpa memberi tahu siapa pun, ia memindahkan tabungan keluarganya ke sana — dan dalam hitungan bulan, semuanya lenyap. Yang menghancurkannya bukan ketidaktahuannya. Yang menghancurkannya adalah bahwa ia tahu peringatan itu benar, namun matanya tidak bisa berhenti memandang kilau keuntungan itu sampai pandangannya mengalahkan hikmatnya.

Demikianlah gambaran serupa tentang bagaimana istri Lot yang menoleh ke belakang saat peristiwa kehancuran Sodom dan Gomora. Di dalam kisah ini disampaikan bagaimana situasi di malam itu begitu mencekam - api dan belerang berjatuhan dari langit. Lot menarik istrinya berlari, dengan perintah tegas dari para malaikat: "Jangan menoleh ke belakang." (Kejadian 19:17). Bukan sekadar aturan — itu adalah tali penyelamat antara hidup dan mati. Namun istrinya berhenti dan menoleh.

Kata Ibrani untuk "memandang" (nabat) bukan sekadar melirik. Artinya memandang dengan penuh kerinduan — seperti seseorang yang tidak bisa melepaskan matanya dari sesuatu yang ia tahu harus ia tinggalkan. Sodom ibarat kehidupan yang menawarkan kenyamanan, relasi, dan gaya hidupnya. Sementara Lot sudah memimpin di depan dan fokus meninggalkan kota itu. Tetapi hati istrinya masih tertinggal di Sodom sehingga saat dia menoleh apa yang dipesankan malaikat menjadi kenyataan - ia berubah menjadi tiang garam.

Seperti sang pengusaha yang mendengar peringatan tetapi matanya tidak bisa lepas dari grafik yang berkilau — istri Lot mendengar pesan malaikat dan bahkan suaminya. Tetapi sesuatu yang mengikat hatinya berbicara jauh lebih keras dan membawanya kepada kebinasaan. 

Lalu kisah ini dipakai Yesus sebagai sebuah peringatan kepada murid-muridNya (Lukas 17: 28-37). Dalam hal ini, Yesus Kembali menekankan bahwa mengikuti pimpinan yang benar bukan soal langkah kaki — melainkan soal kepada apa hati kita terikat? Adakah "Sodom" dalam hidup kita yang terus berkilau dan menarik pandangan sehingga sekalipun kita sudah diingatkan akan tanda bahayanya, kita tetap mengikuti suara hati itu?

 

Doa

"Tuhan, ampunilah aku yang sering melangkah ke depan dengan kaki, tetapi dengan hati yang masih tertinggal di belakang. Kuduskan kerinduanku. Arahkan pandanganku hanya kepada-Mu. Biarlah setiap langkahku hari ini mencerminkan hati yang sungguh-sungguh telah berbalik dari masa lalu dan memilih untuk mengikuti-Mu sepenuhnya. Amin."

 

Action Praktis:

Mari mengingat kembali satu hal dari masa lalu yang masih sering kamu "toleh" - entah itu kebiasaan, hubungan atau kenyamanan. Sehingga kamu masih terus terikat dan tidak bisa mengalami berkat Tuhan sepenuhnya. 

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?