Amsal 4:7
Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian.
Coba buka lemari atau gudang rumahmu. Hampir pasti ada kotak yang sudah bertahun-tahun tidak dibuka, tetapi tetap kita bawa setiap kali pindah rumah. Isinya sudah tidak terpakai, tapi entah kenapa sulit membuang.
Hati kita pun sering begitu. Kita membawa semua rasa kecewa tahun lalu, penyesalan atas keputusan keliru yang kita ambil, dan rasa kuatir yang belum tentu terjadi. Dari musim ke musim, beban itu terus mengikuti kita, sampai tanpa kita sadari mulai mengatur cara kita menjalani hari.
Setiap kita punya pengalaman di masa lalu, dan tidak semuanya baik. Ada yang bahkan belum bisa kita lepaskan. Tapi hari ini pesan Amsal 4:7 mengajak kita untuk bertanya: "Dari semua yang pernah aku lalui, apa yang memang layak untuk aku bawa ke musim berikutnya?"
Hanya satu jawaban Salomo yaitu "hikmat". Ia menyebutnya “permulaan”, artinya hal pertama yang harus dicari, sebelum yang lain. Dan ia menegaskan bahwa “...dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian.”. Artinya, hikmat layak dikejar dengan harga berapa pun.
Kita tahu Salomo sudah punya segalanya - dia penuh dengan harta, nama besar, dan kekuasaan. Tapi ia tidak menasihati kita untuk menggenggam kekayaan atau meratapi masa lalu. Waktu Tuhan menawarkan apapun yang ia mau, Salomo meminta hati yang berhikmat untuk memimpin umat-Nya (1 Raja-raja 3:9). Ia paham bahwa harta bisa habis dan kenangan bisa melukai, tetapi hikmat menjaga hati dan menuntun langkah.
Pertanyaannya adalah dari mana hikmat itu kita peroleh? Amsal 9:10 menjawab, “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN.” Hikmat bukan sekadar pintar dan mudah memahami sesuatu, sebaliknya hikmat dating dari hati yang mau bersandar kepada Tuhan. Jadi, kalau di masa lalu kita pernah gagal mari ambil hikmahnya dari sana. Bahwa kegagalan finansialpun bisa membantu kita untuk belajar dan tahu cara mengelola dengan baik. Atau kalau kita gagal dalam hubungan, kita bisa belajar menjadi pribadi yang bersedia mendengar dan mengampuni.
Jadi, mari membuang masa lalu yang gagal dan membawa pelajaran yang mengasah kita menjadi pribadi yang berhikmat. Waktu kita bersedia melepaskan beban, kita juga perlu menatap ke depan. Amsal 4:25 berkata, “Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka.” Kita boleh menoleh ke belakang untuk belajar, tetapi tidak untuk menetap di sana. Yesus sudah menawarkan kuk yang ringan bagi mereka yang mau menyerahkan bebannya kepada Dia (Matius 11:30). Jangan memikulnya sendirian!
Jadi, kalau kita diizinkan sampai ke penghujung musim hidup ini, mari periksa lagi apa yang perlu kita bawa dan apa yang perlu dilepaskan. Mintalah hikmat dari Tuhan untuk menolongmu hidup menjadi pribadi yang berhikmat dan memiliki pengertian.
Pertanyaan Refleksi:
1. Beban apa dari musim yang lalu, entah kekhawatiran, penyesalan, atau kekecewaan, yang masih saya bawa dan perlu saya serahkan kepada Tuhan?
2. Pelajaran atau hikmat apa yang Tuhan ajarkan kepada saya lewat masa sulit kemarin, dan bagaimana saya menerapkannya dalam hidup saya setiap hari?
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Blessed.