Beban di Hati yang Tak Mampu Ditahan

Renungan Harian / 18 May 2026

Beban di Hati yang Tak Mampu Ditahan
Lori Official Writer
      133

Yeremia 20:9

"Tetapi apabila aku berkata: Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman-Nya lagi, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala..."

 

Dalam kehidupan kita ada saat kita punya kabar baik untuk dibagikan dan kita tidak tahan untuk menyimpannya untuk diri kita sendiri. Itu bisa saja tentang kelahiran seorang anak, kehamilan, promosi, kemenangan atau bahkan kelulusan. Hati kita tidak tahan menyimpannya sampai-sampai kita terdorong untuk segera menceritakannya kepada orang-orang. Semakin lama kita tahan, maka semakin kuat pula dorongan untuk kita harus menyampaikannya.

Perasaan inilah yang dirasakan Yeremia, namun dalam konteks panggilan yang Tuhan taruhkan dalam hatinya. Yeremia adalah nabi yang setia membagikan Firman Tuhan kepada bangsanya dengan berapi-api. Tetapi apa yang dia sampaikan justru disambut dengan ejekan, hinaan, penganiayaan dan penyerangan (Yeremia 20: 1-2). Sampai akhirnya dia memilih untuk tidak lagi melakukannya.

Yeremia mengungkapkan rasa kecewa di hatinya dengan gamblang kepada Tuhan, seperti disampaikan dalam Yeremia 20: 7-8:

"Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku. Sebab setiap kali aku berbicara, terpaksa aku berteriak, terpaksa berseru: "Kelaliman! Aniaya!" Sebab firman TUHAN telah menjadi cela dan cemooh bagiku, sepanjang hari."

Yeremia berhenti sama sekali. Merasa apa yang dia lakukan semuanya sia-sia. Dia memilih diam dan tidak lagi mau mendengar apa yang Tuhan mau dia lakukan. Tetapi semakin dia menahan untuk diam, api di dalam hatinya semakin menyala. Ia seolah tidak bisa menahan diri untuk menyimpan Firman Tuhan dalam diam (Yeremia 20: 19).

Api yang mendorongnya bukan sekadar emosi sesaat. Tetapi merupakan beban yang murni lahir dari kasih, ketaatan dan merinduannya untuk membagikan kebenaran Firman Tuhan. Sama halnya seperti yang dialami Rasul Paulus saat dia berkata, "Jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku." (1 Korintus 9:16). 

Apa yang mereka alami menjadi satu penegasan yang kuat bahwa Ketika Firman Tuhan sudah tinggal di dalam hati kita, maka prioritas kita bukan lagi diri kita sendiri. Sebaliknya, kita akan melakukan sesuatu yang jauh melampaui kepentingan kita semata: kita didorong untuk membagikan kebenaran itu dengan tindakan dan kasih. 

Mungkin kita juga sedang ada di titik yang sama seperti Yeremia - kecewa, lelah atau justru ragu sebelum memulai. Apapun itu, mari ambil waktu untuk bertanya kembali seberapa besar api Firman yang mendorong di dalam hati Anda? Jika Tuhan bahkan sampai berbicara secara pribadi atas Anda, mari ambil tindakan untuk taat. 

Sesulit apapun itu, jika Tuhan sendiri yang telah memberikan beban itu kepada Anda maka Dia sendiri yang akan menyertai Anda untuk melakukannya. 

 

Action Praktis:

Apa api yang membebani hati Anda, sehingga Anda tidak tahan untuk tidak membagikan kepada orang lain? 

Teruslah maju - mulai membagikannya kepada seseorang, ambil bagian untuk mendoa orang lain atau lakukan dalam tindakan kasih tanpa menunda. Mulailah dari hal yang paling sederhana. 

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?