Siap Menantang Badai!
Kalangan Sendiri

Siap Menantang Badai!

Lori Official Writer
      26

Yesaya 40:30-31

“Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,  tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

 

 

Bayangkan seekor burung rajawali yang sedang menghadapi badai besar. Ketika burung-burung lain bersembunyi di balik dahan karena takut tersapu angin, rajawali justru merentangkan sayapnya. Ia tidak melawan badai dengan kekuatannya sendiri, melainkan menggunakan arus angin badai tersebut untuk mengangkat dirinya terbang lebih tinggi di atas awan. 

Kita bisa merefleksikan kondisi ini di dalam kehidupan kita. Sudah di usia berapa Anda saat ini? Mungkin ada yang sudah memasuki usia 20an, 30an, 40an atau mungkin 50an ke atas. Sepanjang Anda hidup di dunia ini, apakah kehidupan Anda selalu berjalan dengan baik-baik saja? Tentu ada saja masa-masa yang paling terpuruk, kita seolah berada di tengah padang gurun yang gersang. Inilah badai yang kita lalui, tetapi di satu sisi saat mengingat kembali di titik itu mungkin Anda justru bersyukur. Karena tanpa situasi itu, Anda mungkin tidak sekuat seperti saat ini. Inilah pelajaran yang bisa kita petik dari burung rajawali yang menganggap badai sebagai momentum untuk melatihnya terbang lebih tinggi.

Jika kita kembali ke Yesaya 40, kita bisa melihat bagaimana kondisi saat itu ditujukan kepada bangsa Israel yang sedang berada di tanah pembuangan Babel sekitar abad 598-582 SM. Selama puluhan tahun, sekitar 15-20 ribu orang Yehuda hidup dalam kerja paksa, penindasan, dan keputusasaan yang mendalam. Mereka merasa Tuhan telah mengabaikan hak mereka dan membiarkan mereka dikalahkan oleh dewa-dewa Babel. Namun, sang nabi mengingatkan bahwa kelelahan yang mereka alami muncul karena mereka hanya mengandalkan kekuatan manusiawi dan memiliki pengenalan yang dangkal akan Tuhan. Orang muda yang mengandalkan fisik pun bisa jatuh tersandung, namun mereka yang "menanti-nantikan Tuhan" akan menerima pertukaran kekuatan.

Nabi Yesaya menekankan bahwa sekalipun di tengah kelelahan dan rasa putus asa, hanya orang-orang yang senantiasa mengandalkan Tuhanlah yang tidak akan menyerah. Karena Tuhan hadir untuk memberikan mereka kekuatan baru. Sehingga "...mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (ayat 31).

Ada 3 pelajaran penting yang bisa kita petik dari ayat ini:

Pertama, mengakui bahwa setiap manusia punya batas kekuatan masing-masing. 

Kelelahan mental dan spiritual sering terjadi saat kita mencoba memikul beban hidup dengan ego dan logika sendiri. Jadi, kita perlu melepaskan kendali untuk mengizinkan Tuhan bekerja.

Kedua, membangun pengharapan.

Seperti umat di Babel yang diajak introspeksi, kita dipanggil untuk tetap setia melakukan bagian kita—bekerja keras dan berdoa—sambil percaya bahwa Tuhan sedang bekerja di balik layar yang tak terlihat.

Ketiga, mengubah sudut pandang tentang keadaan.

Jangan melihat kesulitan sebagai tembok baja yang mematikan, tetapi sebagai sarana untuk melatih "otot iman" kita. Kekuatan baru ini memampukan kita tetap berjalan tanpa lelah meski medan kehidupan terasa sangat berat.

Ingatlah bahwa tembok tinggi di depan Anda bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan undangan bagi Anda untuk membentangkan sayap iman dan terbang melampauinya. Saat Anda merasa tak lagi punya daya untuk melangkah, berhentilah mengandalkan diri sendiri, arahkan pandangan kepada Sang Pencipta, dan biarkan Dia menukar kelelahan Anda dengan kuasaNya.

 

Refleksi Pribadi:
Apakah saya melihat kesulitan dan kondisi saya saat ini sebagai cobaan yang menghancurkan? Atau sebagai kekuatan yang akan membawa saya terbang lebih tinggi bersama Tuhan?

Ikuti Kami