Berdua Hadapi Badai Kehidupan

Renungan Harian / 26 October 2026

Berdua Hadapi Badai Kehidupan
Lori Official Writer
      165

Pengkhotbah 4: 9–10, 12

"Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."

 

 

Tidak ada bahtera rumah tangga yang kebal dari goncangan. Salah satu badai paling dahsyat yang sering menghancurkan rumah tangga adalah krisis keuangan. Suami kehilangan pekerjaan dan tak lagi punya pemasukan untuk menopang kebutuhan rumah tangga. Usaha yang bangkrut karena yang mampu bersaing ataupun bisa karena kena tipu orang lain. Itu bisa jadi karena keputusan ataupun kesalahan salah satu pihak. 

Tabungan yang udah terkumpul bertahun-tahun, perlahan habis, tagihan menumpuk, dan sampai di titik semua kehidupan nyaman yang dahulu bisa dinikmati semuanya hilang. 

Bagi sebagian pasangan suami istri, mereka mungkin bisa menghadapi kondisi ini dengan baik karena mereka memilih ikhlas. Tetapi ada banyak diantaranya yang justru mulai salah menyerang dan saling menyalahkan. Banyak istri yang akan mulai menyalahkan suami, "Kamu kan kepala keluarga, harusnya tahu kamu punya kewajiban." Setiap hari emosi menjadi semakin tidak stabil dan membuat situasi semakin keruh.

Di tengah krisis rumah tangga, saling menyalahkan dan melempar telunjuk tidak akan pernah mengembalikan uang yang hilang. Sebaliknya, itu justru menghancurkan satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa yaitu kesatuan hati.

Hari-hari ini, mungkin Anda sedang mengalaminya - hubungan Anda terancam dan lebih parahnya ini bisa menjadi jebakan yang merusak rumah tangga selamanya. Tetapi dari ayat renungan pagi ini, Pengkhotbah ingin mengingatkan setiap pasangan untuk merenungkan kebenaran ini: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!..." Mungkin bagi kita orang Kristen, ayat ini sangat familiar kita kutip sebagai ayat yang menegaskan tentang pentingnya setiap orang berpasangan. Tetapi dalam konteks ini, ayat ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari itu yaitu "kekuatan dibalik dua orang yang saling mendorong dan membangun". 

Di dalam rumah tangga, krisis bisa datang kapanpun. Tetapi bagaimana suami dan istri menghadapinya bersama-sama itu yang terpenting. Ingatlah kembali janji nikah yang pernah diucapkan di altar. Pasangan Anda bukan musuh yang harus dipojokkan, melainkan rekan sekerja yang sedang terluka yang membutuhkan penopang. Jika yang satu jatuh karena keputusan salah atau musibah, yang lain berperan untuk merangkul dan menopangnya berdiri — bukan malah menjorokkan dan menyerangnya dengan kata-kata pedas.

Krisisnya masih ada, tetapi itu bisa dilalui jika masing-masing bersedia duduk Bersama - mencari Tuhan, lepas pengampunan dan gumuli keadaan itu bersama dalam doa dan mulai berusaha untuk memulihkan keuangan pelan-pelan. Percayalah, dimana ada kesatuan di situ ada jalan pemulihan dan keberhasilan. 

Badai mungkin belum reda esok hari, tetapi rumah tangga yang tetap bersatu memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh dua orang yang berjalan sendiri-sendiri.

 

Pertanyaan Refleksi:

1. Saat menghadapi tekanan, apakah reaksi pertama saya cenderung mencari siapa yang salah, atau mencari jalan keluar bersama pasangan?

2. Kalau suatu hari pasanganku jatuh karena keputusan yang keliru, bagaimana aku harus meresponsnya?

3. Adakah luka atau kata-kata yang perlu aku minta maaf atau ampuni dari pasanganku hari ini?

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?