Sebagai salah satu festival musik besar di Indonesia yang setiap tahunnya menghadirkan ratusan penampil dari berbagai genre, Pestapora 2026 kali ini membawa sesuatu yang cukup menarik. Di tengah deretan musisi pop, rock, indie, hingga genre lainnya, festival ini juga memberi ruang untuk kolaborasi bertajuk Sunday School Era.
Kolaborasi ini tampil pada Minggu, 27 September 2026, dan melibatkan sejumlah musisi serta kreator muda seperti Anjelina Dominaus, Elsa Japasal, Putri Siahaan, Regina Poetiray, Jerome Polin, Jehian Sidjabat, Caleb Tampubolon, Joshua Risakotta, dan beberapa nama lainnya.
Menariknya, Pestapora bukan festival rohani. Justru karena itulah kemunculan musik rohani di panggung sebesar ini layak diperhatikan. Apakah ini tanda bahwa musik Kristen mulai mendapat ruang yang lebih terbuka di budaya populer?
Musik Bisa Jadi Pintu Masukke Ruang Publik
Bagi anak muda, musik sering kali lebih mudah diterima daripada khotbah atau percakapan rohani yang terasa berat. Seseorang bisa lebih dulu tersentuh oleh lirik tentang kasih Tuhan, pengharapan, pengampunan, atau pergumulan hidup, sebelum akhirnya tertarik untuk mengenal Tuhan lebih jauh.
Karena itu, ketika musik Kristen hadir di festival umum, peluang penjangkauannya cukup besar. Orang yang mungkin tidak pernah datang ke ibadah atau konser rohani tetap bisa mendengar pesan iman di ruang yang memang sudah dekat dengan keseharian mereka.
Dalam konteks ini, musik bisa menjadi pintu masuk. Bukan tujuan akhir, tetapi awal dari sebuah percakapan.
Peluang Penjangkauan yang Makin Terbuka
Di sisi lain, tidak semua orang melihat fenomena ini tanpa catatan. Ketika lagu penyembahan dibawa ke festival berbayar, masuk dalam sistem sponsor, branding, dan industri hiburan, batasnya memang bisa menjadi kabur.
Sebab bagi orang percaya, lagu rohani bukan sekadar genre atau jenis pertunjukan. Ada arah penyembahan di dalamnya.
Risikonya muncul ketika lagu yang seharusnya membawa perhatian kepada Tuhan justru dinikmati hanya sebagai bagian dari show, menjadi konten viral, atau bahkan diperlakukan sebagai komoditas.
Di titik ini, pertanyaannya bukan sekadar soal boleh atau tidak boleh tampil di festival. Yang lebih penting, kita perlu bertanya untuk apa musik itu dibawa ke sana?
Apakah sungguh menjadi jembatan supaya orang semakin dekat kepada Tuhan, atau unsur rohaninya hanya menjadi bagian dari konsep pertunjukan?
Akankah Tren Ini Makin Besar?
Kalau festival besar semakin terbuka pada musik yang membawa pesan iman, bukan tidak mungkin kita akan melihat tren seperti ini lebih sering ke depan.
Bagi pelayanan anak muda, ini jelas membuka peluang baru. Penjangkauan tidak harus selalu dimulai dari mengajak orang masuk ke gereja. Kadang, pesan tentang Tuhan justru perlu hadir lebih dulu di ruang tempat anak muda berada.
Tapi peluang itu tetap perlu disertai kepekaan. Karena tantangannya bukan cuma soal bagaimana musik rohani bisa masuk ke panggung yang lebih besar, tetapi bagaimana memastikan esensinya tidak ikut hilang ketika masuk ke industri hiburan.
Musik memang bisa membuka pintu, tapi setelah pintu itu terbuka, ke mana orang akan dibawa?
Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!