Pernah merasa heran kenapa pasangan Anda bisa begitu berbeda?
Anda ingin masalah segera dibicarakan, sementara pasangan memilih diam dulu. Anda suka merencanakan semuanya dengan rapi, sedangkan pasangan lebih santai dan spontan. Anda mungkin mudah mengekspresikan perasaan, sementara pasangan membutuhkan waktu lama hanya untuk mengatakan apa yang sedang ia rasakan.
Perbedaan seperti ini sering menjadi sumber gesekan dalam pernikahan. Bahkan tidak sedikit pasangan yang akhirnya bertanya, “Jangan-jangan kami memang tidak cocok?”
Padahal, berbeda karakter tidak selalu berarti salah pasangan. Dalam banyak keadaan, justru melalui perbedaan itulah suami dan istri belajar bertumbuh.
Amsal 27:17 berkata, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”
Besi tidak menjadi tajam tanpa gesekan. Demikian juga dalam pernikahan, ada hal-hal dalam diri kita yang baru terlihat ketika hidup begitu dekat dengan seseorang.
Pasangan Bisa Menunjukkan Sisi Diri yang Tidak Kita Sadari
Sebelum menikah, mungkin kita merasa diri cukup sabar. Tetapi ketika setiap hari berhadapan dengan kebiasaan pasangan yang berbeda, kesabaran itu benar-benar diuji.
Kita mungkin merasa sudah menjadi pendengar yang baik, sampai pasangan mengatakan bahwa selama ini kita ternyata lebih banyak membela diri daripada benar-benar mendengarkan.
Hal-hal seperti ini memang tidak selalu nyaman. Namun pasangan sering kali menjadi orang yang paling dekat untuk menunjukkan bagian dalam diri kita yang masih perlu dibentuk.
Bukan berarti setiap kritik pasangan pasti benar. Tetapi daripada langsung merasa diserang, kita bisa belajar bertanya, “Apakah ada sesuatu yang Tuhan sedang ajarkan kepada saya melalui situasi ini?”
Perbedaan Mengajarkan Kita untuk Tidak Selalu Memaksakan Cara Sendiri
Dalam pernikahan, salah satu tantangan terbesar adalah menyadari bahwa cara kita bukan satu-satunya cara yang benar.
Orang yang cepat mengambil keputusan bisa belajar dari pasangan yang lebih berhati-hati. Orang yang terlalu serius bisa belajar menikmati hidup dari pasangan yang lebih santai. Sebaliknya, orang yang spontan bisa belajar tentang tanggung jawab dari pasangan yang lebih terencana.
Ketika keduanya mau saling mendengar, perbedaan tidak lagi menjadi arena untuk menentukan siapa yang paling benar. Perbedaan justru menjadi kesempatan untuk saling melengkapi.
Gesekan Seharusnya Membentuk, Bukan Melukai
Namun penting untuk dibedakan: “besi menajamkan besi” bukan berarti semua konflik harus diterima begitu saja.
Kekerasan, penghinaan, manipulasi, ancaman, atau perilaku yang terus-menerus merendahkan pasangan bukanlah proses “saling menajamkan” yang sehat.
Gesekan yang membangun selalu membawa seseorang menuju kedewasaan: belajar meminta maaf, belajar mendengar, belajar mengendalikan emosi, belajar mengampuni, dan belajar mengasihi dengan lebih dewasa.
Karena itu, ketika perbedaan muncul, pertanyaannya bukan hanya, “Mengapa pasangan saya tidak seperti saya?” Tetapi juga, “Apa yang bisa saya pelajari dari perbedaan ini?”
Pernikahan bukan tentang menemukan seseorang yang selalu berpikir, merasa, dan bertindak sama seperti kita. Pernikahan adalah perjalanan dua pribadi yang berbeda untuk terus belajar menjadi satu tanpa kehilangan keunikan masing-masing.
Mungkin pasangan tidak selalu menjadi orang yang membuat hidup terasa mudah. Tetapi melalui kehadirannya, Tuhan bisa memakai banyak percakapan, perbedaan, bahkan gesekan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih sabar, rendah hati, dan dewasa dalam mengasihi.
Jadi ketika karakter Anda dan pasangan kembali berbenturan, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa Anda salah memilih pasangan. Bisa jadi, di tengah proses yang tidak nyaman itu, Anda sedang sama-sama ditajamkan.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!