Menjadi orang tua bukan perkara mudah. Ada hari-hari ketika rumah terasa penuh tawa, tetapi ada juga masa ketika energi habis, kesabaran menipis, dan muncul pertanyaan dalam hati, “Apakah aku benar-benar sanggup menjalani semua ini?”
Di tengah tuntutan hidup yang semakin besar, tidak sedikit orang mulai melihat kehadiran anak sebagai sesuatu yang merepotkan. Anak dianggap bisa menghambat karier, mengurangi kebebasan, bahkan menambah tekanan hidup.
Namun Alkitab memberikan sudut pandang yang berbeda. Anak bukan digambarkan sebagai beban, melainkan sebagai berkat yang dipercayakan Tuhan kepada manusia.
BACA JUGA: 5 Cara Sederhana Mengajarkan Anak Mencintai Alam Sejak Kecil
Anak Adalah Milik Pusaka dari Tuhan
Mazmur 127:3-5 menyebut anak-anak sebagai “milik pusaka daripada Tuhan” dan buah kandungan sebagai suatu upah. Sementara Amsal 17:6 mengatakan bahwa anak cucu adalah mahkota bagi orang tua.
Artinya, sejak awal Alkitab menempatkan generasi berikutnya sebagai sesuatu yang berharga.
Tentu ini bukan berarti memiliki anak selalu mudah atau setiap hari akan terasa menyenangkan. Parenting tetap membutuhkan pengorbanan besar. Namun kesulitan dalam membesarkan anak tidak mengubah nilai anak itu sendiri di mata Tuhan.
Mereka adalah pribadi yang dipercayakan kepada orang tua untuk dirawat, dibimbing, dan dipersiapkan menjalani tujuan hidup yang Tuhan berikan.
Ada Peperangan untuk Generasi Berikutnya
Jika melihat kisah-kisah dalam Alkitab, ada pola menarik tentang bagaimana generasi berikutnya sering kali menjadi sasaran ancaman.
Saat Musa lahir, Firaun memerintahkan agar bayi laki-laki Ibrani dibunuh. Saat Yesus lahir, Raja Herodes juga memerintahkan pembunuhan anak-anak karena takut akan munculnya seorang raja baru.
Kedua kisah tersebut memperlihatkan betapa berharganya sebuah generasi.
Dalam konteks masa kini, ancaman terhadap anak tentu hadir dalam bentuk yang berbeda. Mulai dari perdagangan anak, kekerasan, eksploitasi, aborsi, hingga berbagai pengaruh yang dapat merusak cara mereka melihat diri, keluarga, dan Tuhan.
Karena itu, tanggung jawab terhadap generasi berikutnya bukan hanya milik orang tua biologis. Gereja dan komunitas orang percaya juga dipanggil untuk ikut menjaga, mendidik, membimbing, dan memuridkan anak-anak.
Melalui Anak, Orang Tua Juga Dibentuk Tuhan
Sering kali kita berpikir bahwa tugas orang tua adalah membentuk anak. Padahal dalam prosesnya, anak juga menjadi sarana Tuhan membentuk orang tua.
Kesabaran diuji ketika anak sulit diajak bekerja sama. Kelemahlembutan diuji saat emosi sedang tinggi. Kasih diuji ketika kita harus terus memberi meski sedang lelah.
Bahkan aktivitas sederhana seperti mengganti popok, menemani anak belajar, mengantar sekolah, bekerja demi keluarga, atau mendengarkan cerita mereka dapat memiliki nilai rohani.
Tuhan tidak hanya bekerja ketika kita sedang berdoa atau berada di gereja. Ia juga dapat menyatakan diri-Nya melalui rutinitas kehidupan sehari-hari yang terlihat biasa.
Justru di sanalah orang tua sering kali mulai memahami sisi kasih, kesabaran, dan kemurahan Tuhan dengan cara yang sebelumnya belum mereka kenal.
Orang Tua Tidak Harus Sempurna
Salah satu tekanan terbesar dalam parenting adalah keinginan menjadi orang tua yang sempurna.
Kita ingin selalu mengambil keputusan yang benar, menjaga anak dari segala bahaya, memastikan mereka tidak terluka, dan menjamin masa depannya berjalan baik.
Masalahnya, tidak ada orang tua yang mampu melakukan semuanya.
Kita bisa salah mengambil keputusan. Kita bisa kehilangan kesabaran. Ada masa ketika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Namun Tuhan tidak meminta orang tua menjadi sempurna. Ia mengundang kita untuk terus belajar, bertumbuh, bertanggung jawab, dan mencari hikmat-Nya.
Ada ruang bagi kesalahan. Ada ruang bagi proses. Ada kasih karunia Tuhan di tengah keterbatasan kita.
Parenting Membutuhkan Hikmat, Bukan Sekadar Kontrol
Semakin anak bertumbuh, orang tua akan semakin menyadari satu kenyataan bahwa kita tidak bisa mengontrol semuanya.
Kita tidak bisa menjaga mereka 24 jam sehari. Kita tidak bisa menentukan setiap keputusan yang akan mereka ambil. Kita bahkan tidak bisa menjamin apakah mereka akan menjadi seperti gambaran yang kita harapkan.
Sebab pada akhirnya, anak bukanlah proyek pribadi orang tua.
Mereka adalah ciptaan Tuhan dengan kepribadian, perjalanan, dan panggilannya sendiri.
Karena itu, tugas orang tua bukan mengendalikan seluruh masa depan anak, melainkan mempersiapkan mereka agar memiliki dasar yang kuat untuk menjalani kehidupan dengan bijaksana.
Mazmur 90:12 berkata, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
Doa ini juga sangat relevan dalam parenting. Kita mungkin tidak memiliki semua jawaban tentang masa depan anak. Tetapi setiap hari kita bisa meminta hikmat untuk mengetahui kapan harus menegur, kapan mendengarkan, kapan melepaskan, dan kapan tetap berdiri di samping mereka.
BACA JUGA: Tak Selalu Bilang “Boleh” atau “Tidak”, Ini 8 Cara Irfan dan Jennifer Bachdim Didik Anak
Anak memang membawa tanggung jawab besar. Parenting pun sering kali melelahkan. Namun di balik seluruh proses itu, ada sebuah kepercayaan besar dari Tuhan.
Kita diberi kesempatan untuk merawat sebuah kehidupan, membentuk sebuah generasi, sekaligus membiarkan Tuhan membentuk hidup kita melalui mereka.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!