Kenneth, yang dikenal dengan julukan Kenkulus, mencuri perhatian banyak orang karena kemampuan belajarnya yang jauh di atas anak seusianya. Sejak masih sangat kecil, Kenneth sudah menunjukkan ketertarikan pada angka, sains, anatomi, hingga berbagai konsep yang biasanya baru dipelajari anak ketika usianya lebih besar.
Namun di balik kemampuan Kenneth, ada hal lain yang tak kalah menarik untuk diperhatikan, yaitu pola asuh orang tuanya. Bukan soal “bagaimana mencetak anak jenius”, tetapi bagaimana orang tua membangun lingkungan yang membuat anak senang belajar, berani mencoba, dan tetap bertumbuh dalam karakter.
Yuk lihat bagaimana pola asuh Chika dan Kevin membesarkan Kenneth.
1. Memberikan Stimulasi Sejak Dini
Sejak bayi, Kenneth sudah diperkenalkan pada berbagai stimulasi sederhana seperti buku kontras, permainan sensorik, sound book, serta komunikasi aktif bersama orang tuanya. Chika dan Kevin memberikan stimulasi sesuai tahap perkembangan, bukan dengan memaksakan pelajaran berat sejak dini.
Hal ini mengingatkan orang tua bahwa perkembangan anak bisa dimulai dari aktivitas sehari-hari yang sederhana, seperti mengajak bicara, membaca bersama, atau membiarkan anak mengeksplorasi benda di sekitarnya.
2. Menjadikan Buku Bagian dari Keseharian
Buku menjadi bagian yang dekat dalam kehidupan Kenneth. Chika dan Kevin rutin membacakan berbagai jenis bacaan dan menyediakan materi sesuai hal-hal yang sedang menarik perhatian Kenneth.
Dengan begitu, belajar tidak terasa seperti kewajiban. Buku justru menjadi ruang untuk menemukan hal baru bersama orang tua.
3. Mengikuti Minat dan Rasa Ingin Tahu Anak
Ketika Kenneth mulai tertarik pada sains, angka, atau topik tertentu, Chika dan Kevin tidak buru-buru membatasi karena dianggap “belum waktunya”. Mereka justru memberi ruang agar rasa ingin tahunya berkembang.
Setiap anak tentu berbeda. Karena itu, orang tua perlu peka melihat apa yang membuat mata anak berbinar, lalu mendampinginya tanpa harus membandingkan dengan anak lain.
4. Membuat Belajar Terasa Menyenangkan
Bagi keluarga Kenneth, belajar tidak selalu harus duduk serius di meja. Eksperimen, membaca, bertanya, dan bermain bisa menjadi bagian dari proses belajar.
Pendekatan ini membantu anak melihat belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan, bukan tekanan untuk memenuhi ekspektasi orang tua.
5. Tidak Menjadikan Kepintaran sebagai Segalanya
Menariknya, bagi Chika dan Kevin, keberhasilan Kenneth bukan hanya soal kemampuan akademis. Chika pernah menekankan bahwa empati dan kepedulian Kenneth terhadap orang lain justru menjadi hal yang sangat berarti baginya.
Ini menjadi pengingat bahwa mendidik anak bukan hanya soal membuat mereka pintar, cepat membaca, atau unggul dalam pelajaran. Dalam nilai kristen, kecerdasan adalah anugerah, tetapi karakter menentukan bagaimana anugerah itu digunakan.
Karena itu, orang tua juga perlu menolong anak bertumbuh menjadi pribadi yang peduli, rendah hati, dan mampu menggunakan kemampuannya untuk hal yang baik.
6. Mengajarkan Gagal, Kalah, dan Mandiri
Kenneth juga dibiasakan menghadapi kemenangan dan kekalahan lewat kompetisi sederhana. Ia belajar bahwa tidak selalu berhasil adalah bagian normal dari kehidupan.
Chika dan Kevin juga mendorong kemandirian melalui hal-hal kecil yang mampu Kenneth lakukan sendiri. Sebab anak bukan hanya perlu pintar, tetapi juga tangguh menghadapi proses.
Dari pola asuh Chika dan Kevin, kita bisa belajar bahwa tujuan parenting bukan membuat anak menjadi sepintar Kenneth. Setiap anak membawa potensi yang berbeda. Tugas orang tua adalah mengenali, merawat, dan mengarahkannya dengan kasih serta hikmat, sambil percaya bahwa Tuhan memiliki rancangan yang unik bagi setiap anak.
Kalau dalam perjalanan mendampingi anak dan kamu sedang merasa bingung, lelah, atau membutuhkan hikmat untuk mengambil langkah yang tepat, kamu bisa membagikan pergumulanmu kepada Layanan Doa Online Sahabat24.
Ada tim yang siap mendengarkan dan mendukungmu dalam doa, termasuk untuk pergumulan seputar anak, keluarga, dan pengasuhan. Semoga melalui doa dan dukungan yang tepat, kamu mendapat kekuatan serta kepekaan untuk terus mendampingi anak sesuai potensi yang Tuhan percayakan.
Hubungi kami, klik tombol Live Chat di pojok kanan bawah atau WhatsApp 0822-1500-2424.
Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!