Anak yang Dulu Ceria Berubah Pendiam, Ibu Friska Baru Tahu Penyebabnya Dari Hal Ini...

Impact Story / 1 September 2026

Anak yang Dulu Ceria Berubah Pendiam, Ibu Friska Baru Tahu Penyebabnya Dari Hal Ini...
Sumber: Canva.com/Jawaban
Lori Official Writer
453

Friska Susanti (36 tahun) adalah seorang ibu yang setiap minggu rajin ke gereja bahkan aktif melayani di sekolah minggu. Selain itu, sehari-harinya ia membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangga dan sekolah anak-anaknya dengan bekerja — berangkat pagi, pulang sore.

Di matanya, semua sudah berjalan sebagaimana mestinya. Ia sudah melakukan apa yang dilakukan setiap orangtua pada umumnya.

Tapi ada satu hal yang luput dari perhatiannya — sesuatu yang baru terlihat ketika ia duduk mengikuti The Parenting Project di GPDI Agape Togaten.

"Saya menganggap semua sudah biasa apa adanya dan itu tidak menjadi masalah. Saya merasa sudah cukup — membesarkan, menyekolahkan, memberikan apa yang dibutuhkan. Tapi ternyata ada yang kurang," ungkap Ibu Friska.

 

Ketika Anak yang Ceriwis Tiba-tiba Menjadi Pendiam

Anak pertama Ibu Friska — laki-laki yang kini duduk di kelas 7 SMP — adalah sosok yang suka bercerita. Ia senang ngobrol, senang berbagi tentang hari-harinya. Itu yang Ibu Friska kenal dari anaknya sejak kecil.

Tapi perlahan, tanpa momen yang jelas, sesuatu berubah.

Anak yang biasanya ceriwis itu mulai pendiam. Kalau ditanya, jawabannya singkat — satu dua kata, lalu selesai. Kalau dinasihati, bukan pemahaman yang datang, melainkan kesalahpahaman. Yang tadinya percakapan berakhir menjadi pertengkaran kecil yang tidak perlu.

Ibu Friska merasa ada yang tidak beres. Tapi ia tidak tahu penyebabnya — sampai ia duduk di pertemuan The Parenting Project dan mempelajari Modul 2: Tangki Emosi Anak.

"Ternyata itu karena tangki emosinya belum penuh. Dia jadi lebih pendiam, kalau ditanya hanya menjawab satu-dua kata. Kalau dinasihati malah mudah salah paham, ujungnya dimarahi. Ada miskomunikasi yang selama ini tidak saya sadari," kenang Ibu Friska.

 

Baca Juga: Penantian Anak Terjawab, Kini Menjadi Orangtua Jadi Pelajaran yang Mengubah Pasangan Ini

 

Gawai yang Diam-diam Memisahkan

Ibu Friska tidak menyangkal. Di rumahnya, seperti di banyak rumah lain di era ini, gawai sudah menjadi bagian dari keseharian. Dan tanpa disadari, masing-masing anggota keluarga mulai tenggelam dalam dunianya sendiri.

Ibu Friska yang lelah setelah seharian bekerja membuka media sosial. Anak-anak memegang gawai masing-masing. Ayah pun demikian. Mereka ada di ruangan yang sama — tapi sesungguhnya tidak benar-benar hadir satu sama lain.

"Karena adanya gawai, sekarang kadang masing-masing seperti itu. Sibuk sendiri-sendiri. Saya pun sebagai orang tua kadang merasa kurang — karena tidak sadar sudah mengesampingkan perhatian ke anak," ujarnya jujur.

Kondisi ini diperburuk oleh masa transisi yang sedang dialami anak sulungnya — dari SD ke SMP. Sebuah fase di mana anak-anak mulai berubah, kebiasaan lama berganti, pengaruh teman sebaya menguat, dan gawai semakin menyita waktu. Justru di masa inilah kehadiran orang tua paling dibutuhkan — dan justru di masa ini pula Ibu Friska menyadari bahwa ia belum cukup hadir.

 

Satu Malam yang Mengubah Segalanya

The Parenting Project hadir di GPDI Agape Togaten setiap Selasa malam, diselenggarakan dalam wadah ibadah kaum wanita. Ibu Friska bukan hanya peserta — sebagai bagian dari tim administrasi dan komunikasi gereja, ia juga menjadi koordinator yang menghubungkan jemaat dengan program ini.

Tapi malam itu, saat Modul 2 dibahas, ia bukan koordinator. Ia adalah seorang ibu yang sedang diingatkan.

Yang menyentuhnya bukan hanya materinya. Melainkan kenyataan bahwa ia tidak sendirian. Di sekelilingnya, ibu-ibu lain — bahkan yang sudah berusia 50 hingga 60 tahun, yang anak-anaknya sudah dewasa dan berumah tangga — duduk dengan ekspresi yang sama: sadar, terharu, dan mengakui bahwa ada yang kurang dalam cara mereka mendidik anak dulu.

"Kami sama-sama menyadari: oh ternyata kami sebagai orang tua kurangnya di sini. Dan The Parenting Project itu ternyata tidak hanya tentang anak menghormati orang tua atau orang tua menyayangi anak — isinya jauh lebih dalam dan kompleks dari itu," tuturnya.

Dari modul itu, Ibu Friska belajar bahwa tangki emosi anak tidak hanya perlu diisi saat mereka masih balita. Setiap hari, di setiap fase tumbuh kembang mereka, tangki itu perlu terus diisi — dengan sentuhan, kebersamaan, dan perhatian yang tulus.

"Sentuhan dan kebersamaan itu ibarat kepingan-kepingan yang dikumpulkan menjadi sebuah bangunan — yang akan terbentuk di kemudian hari," ungkap Ibu Friska.

 

Baca Juga: Dekat Dengan Anak Ternyata Tidak Otomatis! Ibu Ruth Tersadar Berkat The Parenting Project

 

Makan Bersama, Lesehan di Lantai — dan Anak Mulai Bercerita Lagi

Sepulang dari pertemuan malam itu, Ibu Friska tidak menunggu sampai besok untuk bertindak.

Ia mengumpulkan anak-anak dan suaminya di kamar. Mereka bercerita tentang hari-hari mereka — tentang sekolah, tentang teman, tentang hal-hal kecil yang biasanya terlewat begitu saja. Dan anak-anaknya mau bercerita. Dengan santai. Dengan hangat.

Dari situ, satu kebiasaan baru mulai dibangun. Setiap sore sekitar pukul 18.00, mereka makan bersama — lesehan di ruang tamu, tanpa terburu-buru, tanpa gawai yang mengalihkan perhatian. Hanya keluarga, makanan, dan percakapan yang mengalir.

Kebiasaan yang terdengar sederhana itu ternyata mengubah segalanya.

"Anak saya secara tidak langsung mulai mau cerita tentang apa yang terjadi di sekolah. Saya merasa anak saya kembali lagi — lebih dekat seperti dulu," ujar Ibu Friska dengan syukur.

Mereka juga menjadwalkan bermain game bersama setiap hari Minggu — ular tangga, monopoli — permainan-permainan yang membuat tawa kembali mengisi rumah mereka.

 

Tidak Ada yang Terlambat untuk Belajar Menjadi Orang Tua

Dari pelajaran yang ia dapatkan di The Parenting Project, ia belajar bahwa menjadi orang tua yang baik bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi anak. Ada tangki emosi yang perlu diisi setiap hari — dan pengisian itu tidak bisa digantikan oleh fasilitas, sekolah terbaik, atau apapun yang bersifat materi.

Yang anak butuhkan adalah kehadiran yang nyata. Makan bersama tanpa terburu-buru. Pertanyaan tulus tentang hari mereka. Dan orang tua yang memilih untuk meletakkan gawai — lalu benar-benar hadir.

"Melalui The Parenting Project, saya diingatkan untuk lebih mendekati anak-anak saya supaya mereka tidak kehilangan kasih sayang dari orang tuanya," kata Ibu Friska.

 

Baca Juga: Sibuk Bekerja Keras untuk Anak, Ibu Tri Justru Hampir Kehilangan yang Satu Ini

 

Dan perubahan itu dimulai bukan dari rencana besar — melainkan dari satu malam lesehan bersama di ruang tamu, dengan piring makan yang sederhana dan anak-anak yang akhirnya mau bercerita lagi.

Jika Anda rindu keluarga Anda dipulihkan, mari menjadi bagian dari The Parenting Project — program yang akan membekali Anda untuk membangun keluarga yang lebih sehat dengan menjadikan Kristus sebagai pusat.

Informasi lebih lanjut: www.theparentingproject.id atau hubungi via WhatsApp di 0811-1011-6556. Kami percaya setiap keluarga layak mengalami pemulihan.

Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?