Setiap orang tua tentu punya cara berbeda dalam mendidik anak. Begitu juga dengan pasangan Irfan Bachdim dan Jennifer Bachdim yang kini membesarkan empat anak dengan usia dan karakter yang beragam. Dari pengalaman mereka, ada beberapa prinsip parenting yang menarik, terutama soal komunikasi, memberi ruang kepada anak, dan mengajarkan anak mengambil keputusan sendiri.
BACA JUGA: Saat Anak Terpaksa Dewasa Karena Orang Tua Sedang Berduka
Berikut delapan cara parenting Irfan dan Jennifer Bachdim yang bisa menjadi inspirasi bagi orang tua.
1. Membuat Rumah Jadi Tempat Aman untuk Bercerita
Salah satu prinsip parenting Jennifer Bachdim adalah membangun rasa aman di rumah. Ia ingin anak-anaknya merasa bebas untuk menceritakan apa pun yang mereka alami, baik di sekolah, dalam pertemanan, maupun kehidupan sehari-hari.
Menurut Jennifer, komunikasi dengan anak sangat penting karena orang tua tidak selalu bisa mengetahui apa yang sedang terjadi dalam kehidupan anak jika mereka tidak terbiasa terbuka.
Dengan membangun suasana aman, anak tidak hanya melihat orang tua sebagai pemberi aturan, tetapi juga sebagai tempat untuk berbagi.
2. Memberikan Waktu Khusus untuk Setiap Anak
Memiliki empat anak membuat Irfan dan Jennifer harus pintar membagi perhatian.
Mereka berusaha meluangkan waktu khusus untuk masing-masing anak. Irfan, misalnya, sesekali mengajak Kiyomi makan malam berdua agar mereka bisa berbicara lebih dekat. Sementara waktu bersama Kenji sering tercipta melalui kegiatan sepak bola.
Cara ini menunjukkan bahwa quality time dengan anak tidak selalu harus dilakukan bersama seluruh anggota keluarga.
3. Menyesuaikan Pola Asuh dengan Karakter Anak
Irfan dan Jennifer menyadari bahwa setiap anak memiliki karakter berbeda. Kiyomi digambarkan sebagai anak yang cukup dewasa dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Sementara Kenji memiliki karakter yang sangat mirip dengan Irfan sehingga keduanya terkadang lebih mudah mengalami benturan.
Karena itu, cara mendidik anak pun tidak selalu bisa disamaratakan. Parenting yang baik bukan hanya soal aturan yang konsisten, tetapi juga kemampuan orang tua memahami karakter dan kebutuhan setiap anak.
4. Tidak Selalu Bilang “Boleh” atau “Tidak”
Ini menjadi salah satu cara parenting Irfan Bachdim yang cukup menarik. Ketika Kiyomi meminta izin melakukan sesuatu, Irfan tidak selalu langsung memberikan jawaban “boleh” atau “tidak boleh”.
Ia justru sering bertanya, “Menurutmu, ini keputusan yang bijaksana?”
Misalnya, ketika Kiyomi ingin pergi makan malam bersama teman-temannya, Irfan mengajaknya mempertimbangkan apakah waktunya tepat, apakah ada sekolah keesokan harinya, dan apakah keputusan tersebut baik untuk dirinya. Cara ini membantu anak belajar berpikir sebelum mengambil keputusan.
5. Memberikan Kebebasan Tanpa Melepas Pengawasan
Sebagai ayah dari anak perempuan yang mulai memasuki usia remaja, Irfan mengaku dirinya cukup protektif.
Namun Irfan dan Jennifer tidak ingin terlalu mengontrol kehidupan Kiyomi. Mereka tetap mengenal teman-temannya dan akan memberikan pendapat ketika melihat sesuatu yang dirasa kurang baik. Namun mereka juga memberikan ruang agar Kiyomi belajar mengambil keputusan sendiri.
Artinya, kebebasan tetap diberikan, tetapi komunikasi dan pendampingan orang tua tetap berjalan.
6. Belajar Mengurangi Ekspektasi Berlebihan kepada Anak
Irfan juga terbuka soal tantangannya sebagai ayah. Ia mengakui terkadang memiliki ekspektasi cukup tinggi terhadap Kenji dan berpikir bahwa anaknya seharusnya sudah tahu bagaimana harus bersikap.
Namun kemudian ia menyadari bahwa Kenji masih seorang anak yang sedang bertumbuh dan belajar.
Hal ini menjadi pengingat penting dalam parenting. Terkadang konflik tidak hanya muncul karena perilaku anak, tetapi juga karena ekspektasi orang tua tidak sesuai dengan usia dan tahap perkembangan mereka.
7. Ayah dan Ibu Saling Melengkapi Saat Menghadapi Konflik
Dalam keluarga Bachdim, Irfan dan Jennifer tidak selalu memiliki pendekatan yang sama terhadap anak.
Ketika Irfan dan Kenji sama-sama sedang emosi, Jennifer sering mengambil peran sebagai penengah. Ia membantu menenangkan situasi terlebih dahulu sebelum keduanya kembali berbicara.
Menurut mereka, terkadang bukan waktu terbaik untuk menyelesaikan masalah ketika emosi masih tinggi.
Perbedaan karakter ayah dan ibu justru bisa menjadi kekuatan ketika keduanya saling melengkapi dalam mendampingi anak.
8. Perhatian yang Berbeda Tidak Berarti Kasih yang Berbeda
Anak yang masih kecil biasanya membutuhkan perhatian lebih banyak dibandingkan kakaknya.
Hal ini juga terjadi dalam keluarga Irfan dan Jennifer. Namun mereka berusaha membuat anak-anak yang lebih besar memahami bahwa perhatian ekstra kepada adik bukan berarti kasih orang tua kepada mereka berkurang.
Mereka tetap berusaha menyediakan waktu bersama setiap anak sesuai dengan kebutuhannya.
BACA JUGA: Anak Saya Biasa-Biasa Saja, Haruskah Saya Khawatir?
Parenting Bukan Tentang Menjadi Orang Tua yang Sempurna
Dari pengalaman Irfan dan Jennifer Bachdim, terlihat bahwa parenting bukan sekadar membuat anak patuh kepada aturan. Orang tua juga perlu membangun komunikasi, memahami karakter anak, memberikan ruang untuk bertumbuh, sekaligus tetap hadir memberikan arahan.
Yang menarik, mereka pun mengakui bahwa menjadi orang tua adalah proses belajar. Ada saatnya orang tua perlu mengevaluasi ekspektasi, mengubah cara berkomunikasi, dan belajar memahami anak dengan lebih baik.
Pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang mengatakan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Mereka juga membutuhkan orang tua yang membantu mereka belajar memilih apa yang benar dan bijaksana.
Sumber : Podcast Jesica Iskandar | Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!