Pernah merasa kesal karena sudah memikirkan menu, belanja bahan, memasak, lalu saat makanan tersaji anak malah menggelengkan kepala? Baru satu suap, mulutnya sudah tertutup rapat. Situasi seperti ini memang bisa menguras emosi.
Apalagi orang tua bukan hanya memikirkan makanan yang terbuang, tetapi juga mulai khawatir apakah kebutuhan nutrisi anak terpenuhi. Padahal, perilaku pilih-pilih makanan cukup umum terjadi pada masa kanak-kanak, khususnya usia balita.
American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut nafsu makan anak dapat berubah seiring pertumbuhan dan perkembangan preferensi makan mereka.
Masalahnya, kekhawatiran tersebut terkadang membuat orang tua tanpa sadar menjadikan waktu makan sebagai arena pertarungan. Anak harus menghabiskan makanan, harus mencoba satu suap lagi, atau bahkan dimarahi karena menolak makan.
BACA JUGA: Jangan Cuma Besarkan Anak untuk Sukses, Didik Mereka Jadi Berkat bagi Indonesia
Padahal, World Health Organization (WHO) menganjurkan responsive feeding, yaitu mengenali sinyal lapar dan kenyang anak, memberi makan dengan sabar, memberikan dorongan, tetapi tidak memaksa anak untuk makan.
Semakin Dipaksa, Anak Bisa Semakin Menolak
Kalimat seperti, “Mama sudah capek-capek masak, masa kamu gak mau makan?” mungkin keluar karena frustrasi. Namun tekanan, hukuman, atau pertengkaran saat makan justru berisiko membuat pengalaman makan semakin tidak menyenangkan.
AAP menyarankan orang tua menghindari memaksa atau menghukum anak karena tidak makan, sebab hal tersebut dapat membuat anak semakin menolak makanan yang sebenarnya mungkin bisa mereka sukai.
Semakin waktu makan terasa seperti ujian yang harus dilewati, semakin sulit anak belajar menikmati makanan. Anak juga sedang belajar mengenali tubuhnya sendiri, termasuk kapan ia lapar dan kapan ia sudah kenyang.
Karena itu, AAP menyarankan orang tua tidak menuntut anak selalu menghabiskan isi piring dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengenali sinyal kenyangnya.
Penolakan terhadap makanan juga tidak selalu berarti anak sengaja ingin melawan orang tua. Pada usia tertentu, anak dapat mulai takut atau enggan mencoba makanan yang belum dikenal.
BACA JUGA: Anak Cemburu pada Saudaranya? Jangan Tunggu Sampai Rasa Iri Berubah Jadi Benci
Anak juga sedang membangun preferensi terhadap rasa dan tekstur. Karena itu, respons yang lebih tenang serta pemberian makanan secara berulang tanpa tekanan dapat membantu anak perlahan menerima variasi makanan yang lebih luas.
Orang Tua Menentukan Menu, Anak Belajar Mendengarkan Tubuhnya
Lalu apakah artinya anak bebas menentukan semuanya? Tidak. Orang tua tetap memegang peran penting dalam membangun pola makan yang sehat. Orang tua dapat menyediakan makanan bergizi, menentukan jadwal makan dan camilan yang teratur, serta menciptakan suasana makan tanpa distraksi seperti televisi atau gawai. Anak kemudian diberi ruang untuk memutuskan apakah ia akan makan dan seberapa banyak makanan yang ia butuhkan.
Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!