Kehilangan seseorang yang dicintai tidak hanya mengubah hidup orang yang ditinggalkan, tetapi juga mengubah dinamika di dalam keluarga. Setelah salah satu orang tua meninggal, anak sering kali ikut mengalami perubahan peran. Ia mungkin menjadi lebih pendiam, lebih mandiri, lebih perhatian, bahkan terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan sebelumnya.
Sekilas, perubahan ini bisa terlihat membanggakan. Namun orang tua perlu berhati-hati. Di balik sikap yang tampak dewasa, bisa saja ada seorang anak yang sebenarnya sedang berusaha keras untuk menjaga orang tuanya tetap kuat.
Hal inilah yang terlihat dari cerita Sherly Tjoanda ketika berbicara tentang kehidupan keluarganya setelah kehilangan sang suami, Benny Laos. Di tengah kesibukannya sebagai Gubernur Maluku Utara dan tanggung jawab sebagai orang tua tunggal, Sherly menyadari bahwa anak-anaknya pun ikut terdorong untuk menjadi lebih dewasa.
BACA JUGA: Anak Cemburu pada Saudaranya? Jangan Tunggu Sampai Rasa Iri Berubah Jadi Benci
Ia bahkan bercerita bahwa anak laki-lakinya yang baru berusia 19 tahun kerap menjadi tempatnya berdiskusi saat menghadapi keputusan sulit.
“Tuhan ketika memberikan takdir, Tuhan siapkan anakku tiba-tiba dia menjadi sangat dewasa dan sangat bijak,” ungkap Sherly.
Namun sebagai seorang ibu, ada perasaan lain yang muncul.
“Kadang kasihan aja lihat dia. Masih muda banget, baru 19 tahun. Harusnya waktunya dia main,” katanya.
Ketika Anak Merasa Harus Menjadi Kuat
Dalam keluarga yang sedang berduka, anak bisa secara tidak sadar mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Misalnya, ia merasa harus menjaga adiknya, menemani ibunya, menjadi tempat curhat, atau berusaha tidak menunjukkan kesedihan karena takut membuat orang tuanya semakin terpukul.
Dalam psikologi keluarga, kondisi ketika seorang anak mengambil tanggung jawab emosional atau praktis yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa sering disebut sebagai parentification.
Tidak semua bentuk tanggung jawab setelah kehilangan tentu buruk. Kesulitan memang bisa menolong anak belajar empati, tanggung jawab, dan ketangguhan.
Namun persoalan muncul ketika anak mulai berpikir, “Aku tidak boleh sedih karena Mama sudah cukup sedih,” atau, “Aku harus menjaga Mama karena sekarang tidak ada Papa.”
Pada titik itulah anak bukan hanya sedang belajar menjadi dewasa. Ia sedang memikul beban yang mungkin terlalu berat untuk usianya.
Jangan Sampai Anak Menjadi Pengganti Pasangan
Setelah kehilangan pasangan, sangat wajar jika orang tua merasa kesepian dan membutuhkan seseorang untuk berbicara. Kedekatan dengan anak juga bisa menjadi sumber kekuatan.
Namun ada batas yang perlu dijaga. Anak tidak seharusnya menjadi pengganti pasangan secara emosional. Ia boleh menjadi teman berbicara, tetapi tidak harus mengetahui seluruh tekanan, konflik, masalah finansial, atau pergumulan orang tua.
Orang tua tetap membutuhkan support system dari sesama orang dewasa, seperti keluarga besar, sahabat, komunitas, konselor, atau pendamping rohani.
Dengan begitu, anak dapat tetap menjadi anak, bukan berubah menjadi orang yang merasa bertanggung jawab menjaga kestabilan emosi ayah atau ibunya.
Jangan Sama-sama Diam Karena Ingin Melindungi
Ada satu bagian menarik dari cerita Sherly. Ia mengatakan bahwa dirinya dan anak-anak terkadang seperti saling menjaga perasaan.
“Mungkin dia juga enggak enak nanya sama saya,” ujarnya.
Situasi seperti ini cukup sering terjadi dalam keluarga yang sedang berduka. Orang tua tidak bertanya karena takut anak semakin sedih. Anak juga tidak berbicara karena takut orang tua semakin terpukul.
Akhirnya, semua orang berusaha terlihat kuat, tetapi berduka sendirian.
Padahal anak perlu mendengar kalimat sederhana seperti, “Mama memang sedang sedih, tetapi kamu tidak perlu menjaga Mama sendirian,” atau, “Kalau kamu rindu Papa, kamu boleh cerita.”
Pesan seperti itu membantu anak memahami bahwa kesedihan bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
Kedewasaan Anak Boleh Bertumbuh, Masa Mudanya Jangan Hilang
Pengalaman kehilangan memang bisa membuat seorang anak bertumbuh lebih cepat. Ia mungkin menjadi lebih bijaksana, lebih peka, dan lebih bertanggung jawab.
Namun orang tua tetap perlu memastikan bahwa anak masih memiliki ruang untuk menjalani hidup sesuai usianya.
Ia tetap perlu berteman, belajar, bermain, mengejar cita-cita, dan menikmati kehidupannya tanpa merasa bersalah karena orang tuanya sedang berduka.
Galatia 6:2 berkata, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”
Dalam keluarga, kita memang dipanggil untuk saling menopang. Tetapi saling menopang berbeda dengan memindahkan seluruh beban kepada seseorang.
BACA JUGA: Anak Sulit Dinasehati? Mungkin Mereka Sedang Melihat Teladan Orang Tuanya
Orang tua dapat menunjukkan kepada anak bahwa dirinya juga membutuhkan pertolongan, sekaligus menunjukkan bahwa sumber kekuatan terbesar tidak terletak pada anak.
Sherly sendiri mengakui bahwa dalam perjalanan menghadapi kehilangan dan tekanan hidup, kekuatannya berasal dari Tuhan.
“Saya bisa tegar, enggak ada dendam, enggak ada ketakutan, positive thinking. Dan saya menyadari saya ada di titik ini semua karena Tuhan,” katanya.
Mungkin inilah salah satu pelajaran penting bagi orang tua yang sedang berduka. Anak boleh melihat kita menangis. Anak boleh melihat kita lemah. Namun biarkan mereka juga melihat bahwa ketika kita tidak sanggup, kita tahu kepada siapa kita bersandar.
Karena anak boleh bertumbuh menjadi dewasa melalui masa sulit, tetapi jangan sampai ia kehilangan masa mudanya karena merasa harus menggantikan seseorang yang telah tiada.
Sumber : Podcast Denny SumargoIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!