Menjalani pernikahan sambil bekerja bersama mungkin terdengar menyenangkan. Bisa pergi bersama, membangun sesuatu bersama, bahkan menikmati hasil kerja bersama. Namun, ketika keduanya sama-sama punya ambisi, pendapat, dan kesempatan untuk bersinar, persaingan diam-diam juga bisa muncul.
BACA JUGA: Rahasia Pernikahan 60 Tahun Oma Cun: Mengingat Tanpa Lagi Merasakan Sakit
Hal inilah yang pernah dirasakan pasangan content creator Dimas dan Tami yang juga dikenal dengan Mak Gabe dan Pak Gabe. Keduanya dikenal lewat konten komedi rumah tangga yang memperlihatkan dinamika suami istri dengan cara ringan dan menghibur.
Di balik konten mereka yang terlihat seru, ternyata ada proses panjang untuk belajar bekerja sebagai satu tim.
Ketika Bekerja Bersama Tidak Selalu Menyenangkan
Dimas dan Tami mengakui bahwa pada masa awal membuat konten bersama, pertengkaran cukup sering terjadi. Perbedaan pendapat saat membuat konten, tekanan deadline dari brand, hingga kondisi ketika salah satu sedang tidak memiliki mood yang baik bisa memicu gesekan.
Mereka akhirnya belajar bahwa tidak semua hal harus dipaksakan. Ketika hubungan mereka sedang tidak dalam kondisi baik, terkadang mereka memilih berhenti sejenak daripada memaksakan diri membuat konten. Namun, ada satu prinsip penting yang perlahan mereka pegang dalam perjalanan pernikahan mereka, bahwa pasangan bukanlah saingan.
Menurut mereka, masalah bisa muncul ketika suami atau istri mulai melihat keberhasilan pasangannya sebagai ancaman. Saat pasangan mendapatkan lebih banyak perhatian, kesempatan, atau keberhasilan, kita bisa mulai bertanya dalam hati, “Kenapa bukan aku?”
Jika dibiarkan, perasaan kecil seperti ini bisa berubah menjadi iri, kecewa, bahkan persaingan dalam rumah tangga.
Saat Pasangan Bersinar, Kita Tidak Sedang Kalah
Dimas dan Tami memilih melihat pernikahan dengan cara berbeda. Mereka percaya bahwa setelah menikah, kehidupan bukan lagi hanya tentang “aku” dan “kamu”, tetapi tentang “kita”. Karena itu, ketika salah satu mendapat kesempatan lebih besar, yang lain belajar untuk mendukung.
Ada musim ketika Dimas lebih banyak mendapat perhatian melalui dunia olahraga dan bodybuilding. Ada pula saat Tami memiliki ruang lebih besar untuk berbicara tentang relationship dan kehidupan perempuan. Bagi mereka, semua itu bukan kompetisi.
“Jangan menganggap pasangan kita sebagai saingan,” menjadi salah satu prinsip yang mereka pegang. Pemikiran ini sederhana, tetapi sangat penting dalam pernikahan. Kesuksesan pasangan tidak mengurangi nilai diri kita. Sebaliknya, ketika sebuah pernikahan dibangun sebagai sebuah tim, keberhasilan salah satu sebenarnya bisa menjadi kemenangan bersama.
Pernikahan Membutuhkan Dua Orang yang Mau Saling Menopang
Prinsip ini juga terlihat ketika Dimas dan Tami mengikuti kompetisi olahraga bersama. Mereka sadar masing-masing memiliki kekuatan berbeda. Ada bagian yang lebih mudah dilakukan Tami, sementara bagian lain lebih kuat dilakukan Dimas.
Alih-alih memaksakan semua harus sama rata, mereka memilih saling menutupi kekurangan. Prinsip yang sama berlaku dalam rumah tangga. Mungkin salah satu pasangan lebih kuat dalam mengelola keuangan. Yang lain lebih baik dalam membangun relasi. Ada yang lebih tenang ketika menghadapi masalah, sementara pasangannya lebih berani mengambil keputusan.
Perbedaan itu tidak selalu harus menjadi sumber konflik. Justru ketika suami dan istri berhenti bersaing dan mulai bertanya, “Apa yang bisa aku lakukan untuk menopang pasangan?”, hubungan bisa bertumbuh jauh lebih sehat.
BACA JUGA: 11 Hal yang Bisa Merusak Pernikahan Meski Cinta Masih Ada
Dua Menjadi Satu Bukan Sekadar Kalimat
Alkitab menggambarkan pernikahan sebagai dua orang yang menjadi satu. Dalam Kejadian 2:24 tertulis, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”
Menjadi satu tidak berarti kehilangan kepribadian, mimpi, atau kemampuan masing-masing. Namun, itu berarti kita tidak lagi menjalani hidup dengan mentalitas saling mengalahkan.
Ada waktunya kita berada di depan dan pasangan menopang dari belakang. Ada waktunya pasangan mendapat kesempatan besar dan kita menjadi orang yang paling keras menyemangatinya.
Pada akhirnya, pernikahan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang lebih sukses, lebih benar, atau lebih hebat. Pernikahan adalah perjalanan dua orang yang memilih berjalan ke arah yang sama. Karena pasangan terbaik bukan orang yang selalu berdiri di bawah spotlight bersama kita, tetapi orang yang tetap bersorak ketika spotlight itu sedang mengarah kepada kita.
Sumber : Podcast Melaney Ricardo | Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!