Doa adalah komunikasi pribadi antara manusia dan Tuhan. Namun, tanpa disadari, doa bisa berubah menjadi daftar instruksi yang kita ajukan kepada-Nya. Kita bukan hanya menyampaikan kebutuhan, tetapi juga menentukan siapa yang harus Tuhan pakai, kapan jawaban datang, dan bagaimana masalah diselesaikan. Pertanyaannya, apakah doa kita selama ini sedang membangun iman atau justru membatasi Tuhan?
Ps. Jeffrey Rachmat mengingatkan bahwa kehidupan doa sangat berkaitan dengan seberapa dalam kita mengenal Tuhan. Hosea 4:6 berkata: “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah.”
Ayat ini menunjukkan bahwa persoalan utama umat Tuhan bukan sekadar kurang beribadah atau melayani, melainkan tidak sungguh-sungguh mengenal Pribadi yang mereka sembah.
BACA JUGA: Apa yang Membuat Seseorang Benar-Benar Pasti Masuk Surga?
Ketika seseorang tidak mengenal karakter Tuhan, ia akan mudah meragukan-Nya. Saat doa belum dijawab, ia mulai berpikir bahwa Tuhan tidak peduli, tidak mendengar, atau sudah meninggalkannya. Sebaliknya, orang yang mengenal Tuhan akan tetap percaya kepada kasih, kesetiaan, dan kebaikan-Nya, meskipun belum memahami cara Tuhan bekerja.
Tuhan yang Sama, Cara yang Berbeda
Dalam Yesaya 43:18, Tuhan berkata: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!”
Sekilas, ayat ini terdengar seperti larangan untuk mengingat karya Tuhan di masa lalu. Namun, konteksnya menunjukkan bahwa bangsa Israel sedang terlalu terpaku pada cara Tuhan pernah menolong nenek moyang mereka.
Yesaya 43:16-17 mengingatkan peristiwa ketika Tuhan membuat jalan melalui laut dan menghancurkan kereta serta pasukan Mesir. Pembelahan Laut Merah adalah mukjizat besar yang terus diceritakan. Masalahnya, ketika bangsa Israel berada dalam pembuangan di Babel, mereka mengharapkan Tuhan mengulangi cara yang sama.
Mereka mungkin menantikan Musa baru, tulah baru, atau mukjizat spektakuler yang membebaskan mereka. Padahal, Tuhan sedang bekerja dengan cara berbeda. Dalam Yesaya 43:19, Tuhan berkata: “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?”
Kali ini Tuhan tidak membelah laut. Ia membuat jalan di padang gurun dan menyediakan sungai di padang belantara. Tuhan memakai Kores, raja Persia, seorang asing yang tidak mereka bayangkan, untuk memulangkan Israel dan membangun kembali Yerusalem.
Tuhan yang menolong Israel di Mesir adalah Tuhan yang sama dengan Tuhan yang menolong mereka dari Babel. Kuasa-Nya tidak berkurang, tetapi cara-Nya berbeda. Di sinilah kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sedang mempercayai Tuhan atau hanya mempercayai metode tertentu?
BACA JUGA: Mengupas 2 Korintus 3:17 Tentang Kemerdekaan yang Ditulis Alkitab dan yang Dimaksud Tuhan
Ketika Kesaksian Menjadi Batas
Kesaksian orang lain seharusnya menguatkan iman. Namun, kesaksian juga dapat menjadi batas ketika kita menuntut Tuhan melakukan hal yang sama dalam hidup kita. Kita mendengar seseorang mendapatkan pekerjaan melalui kenalan, lalu berdoa agar Tuhan memakai cara serupa. Kita melihat rumah tangga orang lain cepat dipulihkan, lalu kecewa ketika proses kita lebih panjang.
Tanpa sadar, kita berkata, “Tuhan, kalau Engkau menolong dia seperti itu, Engkau juga harus menolongku dengan cara yang sama.”
Padahal, Tuhan adalah Pencipta. Ia tidak kekurangan jalan atau sumber daya. Yesus sendiri melakukan mukjizat dengan cara yang berbeda-beda. Ada orang yang disembuhkan melalui perkataan, sentuhan, perintah, bahkan melalui cara yang sama sekali tidak terduga. Kuasa Tuhan tidak terikat pada satu pola.
Dalam 2 Korintus 3:18 tertulis bahwa kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya: “Dalam kemuliaan yang semakin besar.”
Artinya, kehidupan bersama Tuhan seharusnya membawa kita maju, bukan membuat kita terus hidup dalam pola lama. Masa lalu perlu disyukuri, tetapi tidak boleh dijadikan ukuran mutlak bagi pekerjaan Tuhan hari ini.
Ingat Karakter-Nya, Bukan Batasi Cara-Nya
Yesaya 46:9-11 berkata: “Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain.” Sekilas, ayat ini tampak bertentangan dengan Yesaya 43. Namun, keduanya memiliki penekanan berbeda.
Yesaya 43 mengajarkan agar kita tidak terpaku pada cara Tuhan bekerja di masa lalu. Sementara Yesaya 46 mengajak kita mengingat siapa Tuhan itu. Cara-Nya dapat berubah, tetapi karakter-Nya tidak pernah berubah. Ia tetap setia, baik, penuh kasih, dan sanggup melaksanakan kehendak-Nya.
Karena itu, iman tidak boleh dijangkarkan pada jawaban, waktu, atau metode tertentu. Iman harus dijangkarkan pada Pribadi Tuhan.
BACA JUGA: Katanya Ikuti Kata Hati, Tapi Alkitab Justru Bilang Sebaliknya
Belajar Berdoa Seperti Daud
Dalam Mazmur 86:11, Daud berdoa: “Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu.”
Daud tidak mendikte Tuhan. Ia tidak berkata, “Tuhan, inilah jalan yang harus Engkau pakai.” Sebaliknya, ia meminta agar Tuhan menunjukkan jalan-Nya.
Sikap seperti inilah yang perlu kita miliki dalam doa. Kita boleh menyampaikan keinginan dengan jujur, tetapi tetap memberi ruang bagi kehendak Tuhan. Doa yang dewasa bukan hanya berkata, “Tuhan, berikan apa yang aku mau,” melainkan, “Tuhan, ajari aku melihat apa yang sedang Engkau kerjakan.”
Mungkin jawaban Tuhan datang melalui orang yang tidak kita duga. Mungkin jalan keluar muncul melalui proses yang tidak kita sukai. Mungkin Tuhan tidak mengubah keadaan secepat yang kita harapkan, tetapi Ia sedang mengubah hati, karakter, dan cara pandang kita.
Jadi, apakah doa kita selama ini membatasi Tuhan? Jawabannya dapat terlihat dari seberapa keras kita memaksakan metode tertentu kepada-Nya. Mari belajar mengenal karakter Tuhan, mempercayai kesetiaan-Nya, dan membuka hati terhadap cara-cara baru yang sedang Ia kerjakan.
Pribadi Tuhan tidak pernah berubah, tetapi cara-Nya bekerja selalu dapat mengejutkan kita.
Sumber : Jeffrey Rachmat | Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!