Konflik dengan pasangan itu wajar. Yang tidak sehat adalah ketika masalah dibiarkan berlarut-larut, komunikasi terputus, lalu salah satu memilih silent treatment sebagai bentuk hukuman. Diam sejenak untuk menenangkan diri memang boleh, tetapi jika kamu dengan sengaja mengabaikan pasangan tanpa penjelasan justru bisa memperbesar luka satu sama lain.
Alkitab tidak mengajarkan kita untuk menghindari setiap konflik. Sebaliknya, orang percaya dipanggil untuk menyampaikan kebenaran dalam kasih, menguasai diri, dan mengejar perdamaian. Jadi, saat berbeda pendapat dengan pasangan, tujuan utamanya bukan memenangkan perdebatan, melainkan mencari penyelesaian bersama.
Lalu bagaimana cara yang ditunjukkan Alkitab untuk menyelesaikan masalah dengan pasangan?
Ambil Waktu Sejenak, Bukan Silent Treatment
Ketika emosi sedang tinggi, kita mudah mengatakan hal-hal yang nantinya disesali. Karena itu, ambillah waktu untuk berhenti, menarik napas, dan berdoa sebelum merespons.
BACA JUGA: Ternyata Silent Treatment Bukan Respon yang Tuhan Kehendaki Lho, Ini 4 Alasannya
Jeda bukan berarti menghilang tanpa kabar. Kamu tetap bisa berkata, “Sekarang kita sedang emosi. Boleh kita lanjutkan pembicaraan setelah aku lebih tenang?”
Cara ini jauh lebih sehat daripada mendiamkan pasangan berjam-jam atau berhari-hari. Penguasaan diri memberi ruang bagi kita untuk memilih kata-kata yang membangun, bukan melukai.
Fokus pada Masalah, Bukan Saling Menyerang
Hindari kalimat seperti, “Kamu selalu begini,” atau “Kamu memang tidak pernah mengerti.” Kalimat mutlak seperti itu biasanya muncul karena emosi dan membuat pasangan merasa diserang.
Cobalah menggantinya dengan kalimat yang lebih jujur dan spesifik, misalnya, “Ketika kamu melakukan hal itu, aku merasa tidak didengar.”
BACA JUGA: 5 Silent Treatment yang Bisa Menghancurkan Pernikahan
Dengan begitu, pembicaraan tetap berfokus pada persoalan yang sedang dihadapi. Ingatlah bahwa pasangan bukan musuh. Kalian berada dalam satu tim dan seharusnya bekerja sama mencari jalan keluar.
Utamakan Jalan Keluar, Bukan Keinginan untuk Menang
Memilih damai bukan berarti membiarkan diri diperlakukan sesuka hati atau mengabaikan masalah. Damai berarti berusaha menyelesaikan konflik tanpa merendahkan, mengontrol, atau memaksakan kehendak.
Tanyakan kepada diri sendiri, “Apakah aku sedang mencari pemulihan atau hanya ingin menjadi pihak yang benar?”
Nada bicara juga sama pentingnya dengan isi perkataan. Kebenaran tanpa kasih dapat terdengar kasar, sedangkan diam terus-menerus bisa menumbuhkan kepahitan.
Berdoa dan Punya Kerendahan Hati untuk Meminta Maaf
Sebelum memulai percakapan sulit, mintalah Tuhan memberikan hikmat, kerendahan hati, dan kata-kata yang tepat. Saat pasangan berbicara, berdoalah dalam hati agar kamu tidak cepat tersinggung atau sibuk membela diri.
Bersiaplah juga apabila Tuhan menunjukkan kesalahanmu. Meminta maaf lebih dahulu bukan tanda kelemahan. Itu menunjukkan bahwa kamu lebih menghargai hubungan daripada ego sendiri.
BACA JUGA: 11 Hal yang Bisa Merusak Pernikahan Meski Cinta Masih Ada
Pada akhirnya, konflik yang diselesaikan dengan jujur, kasih, doa, dan pengampunan justru dapat memperdalam kepercayaan. Jadi, no more silent treatment. Bicarakan masalah dengan tenang, dengarkan hati pasangan, dan izinkan Tuhan menolong kalian bertumbuh bersama.
Kalau konflik dengan pasangan terasa terlalu berat untuk dihadapi sendiri, kamu bisa berdiskusi dengan Layanan Doa Online Sahabat24. Ada tim yang siap mendengarkan, mendoakan, dan menemanimu menemukan langkah yang lebih tenang.
Klik Live Chat di pojok kanan bawah atau WhatsApp: 0822-1500-2424
Sumber : be-salt.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!