“Forgive, not forget, but remembering without pain.”
Kalimat sederhana dari Oma Cun, seorang konselor pernikahan dalam Podcast Wellspring Conversation, menyimpan pelajaran yang sangat dalam. Prinsip inilah yang ia terapkan dalam perjalanan pernikahannya hingga mampu bertahan selama 60 tahun. Baginya, mengampuni bukan berarti melupakan semua yang pernah terjadi, melainkan mampu mengingatnya tanpa lagi merasakan luka yang sama.
BACA JUGA: Kalimat “Terima Aku Apa Adanya” Bisa Merusak Pernikahan, Kamu Sering Bilang?
Dalam kehidupan pernikahan, konflik dan kekecewaan hampir tidak mungkin dihindari. Suami atau istri bisa mengucapkan perkataan yang melukai, mengabaikan perasaan pasangan, mengambil keputusan yang keliru, atau gagal memenuhi harapan. Meskipun masalahnya telah selesai, kenangan tentang kejadian tersebut terkadang masih tertinggal.
Di sinilah pengampunan dibutuhkan.
Alkitab berkata dalam Kolose 3:13, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
Mengampuni bukan berarti menganggap kesalahan pasangan tidak penting. Pengampunan juga bukan alasan untuk membiarkan perilaku yang salah terus berulang. Mengampuni adalah keputusan untuk tidak lagi menyimpan dendam, menghukum pasangan melalui sikap, atau menggunakan kesalahannya sebagai senjata setiap kali terjadi pertengkaran.
Seseorang mungkin masih mengingat peristiwa yang menyakitkan. Namun ketika luka itu benar-benar dipulihkan, ingatan tersebut tidak lagi membuatnya ingin membalas, marah, atau kembali menyalahkan. Ia dapat mengingatnya sebagai bagian dari perjalanan yang telah dilewati bersama, bukan sebagai luka yang terus dibuka kembali.
Efesus 4:31–32 juga mengingatkan, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
Pernikahan yang bertahan bukanlah pernikahan tanpa kesalahan. Pernikahan yang kuat dibangun oleh dua orang yang terus belajar mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan memberikan ruang bagi pasangannya untuk bertumbuh.
BACA JUGA: 11 Hal yang Bisa Merusak Pernikahan Meski Cinta Masih Ada
Pengampunan mungkin tidak langsung menghilangkan rasa sakit. Ada luka yang membutuhkan waktu, percakapan yang jujur, perubahan nyata, bahkan pendampingan dari orang yang tepat. Namun ketika suami dan istri sama-sama menyerahkan kepahitan kepada Tuhan, luka tersebut perlahan dapat kehilangan kuasanya.
Seperti yang dijalani Oma Cun, rahasia pernikahan yang awet bukanlah kemampuan untuk melupakan setiap konflik, melainkan kesediaan untuk terus mengampuni. Kenangannya mungkin tetap ada, tetapi rasa sakitnya tidak lagi menguasai hati.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!