11 Hal yang Bisa Merusak Pernikahan Meski Cinta Masih Ada

Marriage / 16 July 2026

11 Hal yang Bisa Merusak Pernikahan Meski Cinta Masih Ada
Sumber: ChatGPT
Aprita L Ekanaru Official Writer
1819

Tidak semua pernikahan hancur karena perselingkuhan, kekerasan, atau konflik besar. Ada rumah tangga yang perlahan kehilangan kehangatan karena masalah-masalah kecil yang terus dibiarkan. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut menjadi silent killer atau “pembunuh diam-diam” yang mengikis keintiman, kepercayaan, dan kasih di antara suami istri.

Konselor pernikahan Benny Siswanto, yang akrab dikenal sebagai Mr. Bi, mengungkapkan sejumlah hal yang dapat merusak pernikahan. Dari sudut pandang kekristenan, hal-hal tersebut juga mengingatkan pasangan bahwa pernikahan bukan sekadar hubungan romantis, melainkan sebuah perjanjian yang perlu dijaga dengan kasih, kerendahan hati, dan komitmen.

 

BACA JUGA: Tren Likes di Threads Bisa Jadi Racun Pernikahan, Jangan Permalukan Pasangamu

 

Berikut 11 hal yang dapat merusak pernikahan jika tidak segera disadari.

1. Menikah dengan Fantasi yang Tidak Realistis

Salah satu silent killer terbesar dalam pernikahan adalah menikahi gambaran ideal yang ada di dalam pikiran, bukan menerima pasangan sebagai manusia yang nyata.

Seseorang mungkin berharap pasangannya selalu romantis, peka, sabar, mapan, dan mampu memahami semua kebutuhannya. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kekecewaan pun muncul.

Padahal, kasih menurut Alkitab bukan hanya menerima hal-hal menyenangkan. Dalam 1 Korintus 13:7 disebutkan bahwa kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu.

Pernikahan membutuhkan penerimaan, bukan tuntutan agar pasangan menjadi tokoh sempurna dalam fantasi kita.

2. Menuntut Pasangan Memenuhi Semua Keinginan

Pasangan tidak akan mampu memenuhi seluruh kebutuhan emosional, kebahagiaan, dan keinginan kita. Ketika seseorang menggantungkan kebahagiaannya sepenuhnya kepada suami atau istri, pasangan akan menanggung beban yang terlalu berat.

Hanya Tuhan yang dapat mengisi ruang terdalam dalam kehidupan manusia. Mazmur 62:2 berkata, “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.”

Pasangan adalah rekan hidup, bukan sumber utama identitas dan kebahagiaan kita.

3. Membandingkan Pernikahan dengan Media Sosial

Unggahan liburan, hadiah, makan malam romantis, dan kemesraan pasangan lain dapat menciptakan standar pernikahan yang semu. Kita melihat potongan terbaik kehidupan orang lain, lalu membandingkannya dengan seluruh kenyataan rumah tangga sendiri.

Akibatnya, rasa syukur perlahan berubah menjadi iri hati dan ketidakpuasan.

Galatia 6:4 mengingatkan setiap orang untuk menguji pekerjaannya sendiri tanpa membandingkan diri dengan orang lain. Prinsip ini juga berlaku dalam pernikahan. Setiap pasangan memiliki perjalanan, tantangan, dan musim kehidupan yang berbeda.

4. Menganggap Cinta Romantis Dapat Menyelesaikan Semuanya

Perasaan jatuh cinta memang indah, tetapi cinta romantis saja tidak cukup untuk mempertahankan pernikahan. Ada persoalan karakter, keuangan, keluarga besar, komunikasi, kesehatan, pekerjaan, dan pola asuh yang membutuhkan kedewasaan.

Pernikahan Kristen tidak hanya dibangun di atas perasaan, tetapi juga keputusan untuk tetap mengasihi.

Kolose 3:14 berkata, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”

Kasih yang dimaksud bukan sekadar emosi, melainkan tindakan yang terus dipilih.

5. Hanya Mengandalkan Ketertarikan Fisik

Ketertarikan fisik dapat menjadi bagian dari hubungan suami istri, tetapi tidak cukup untuk menopang pernikahan jangka panjang. Penampilan akan berubah, usia akan bertambah, dan kondisi fisik tidak selalu sama.

Pernikahan membutuhkan persahabatan, keintiman emosional, kesatuan rohani, dan tujuan hidup bersama.

Amsal 31:30 mengingatkan bahwa kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi perempuan yang takut akan Tuhan dipuji-puji. Karakter dan kehidupan rohani akan memiliki pengaruh yang jauh lebih panjang daripada penampilan.

 

BACA JUGA: Banyak Pernikahan Retak Karena Menaruh Harapan Ini pada Pasangan

 

6. Memendam Kekecewaan

Banyak pasangan memilih diam karena takut pertengkaran. Namun, rasa kecewa yang terus dipendam dapat berubah menjadi kepahitan.

Masalah yang tidak pernah dibicarakan membuat seseorang mulai melihat semua tindakan pasangannya secara negatif.

Efesus 4:26 mengingatkan agar kemarahan tidak disimpan sampai matahari terbenam. Artinya, persoalan perlu diselesaikan dengan jujur, tenang, dan penuh kasih.

Mengomunikasikan kekecewaan bukan berarti menyerang. Tujuannya adalah agar pasangan saling memahami dan menemukan jalan keluar bersama.

 

BACA HALAMAN SELANJUTNYA>>

Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com
Halaman :
12Tampilkan Semua

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?