Ketika anak mulai mempertanyakan iman, banyak orang tua merasa cemas. Pertanyaan tentang keberadaan Tuhan, kebenaran Alkitab, ajaran gereja, atau alasan seseorang harus percaya kepada Yesus sering dianggap sebagai tanda bahwa anak mulai menjauh dari Tuhan.
Apalagi saat ini, anak-anak remaja dapat menemukan berbagai pandangan hanya melalui internet. Mereka bisa membaca tentang agnostisisme, ateisme, atau konsep spiritual but not religious. Dalam hitungan detik, anak mendapatkan banyak jawaban yang terkadang terdengar lebih logis dan meyakinkan daripada penjelasan yang mereka terima di rumah.
Lalu, apa respons terbaik orang tua ketika anak mempertanyakan iman?
BACA JUGA: Anak Mulai Kos? Ini Kesepakatan yang Perlu Dibuat Orang Tua
Jangan Langsung Menganggap Anak Sedang Melawan
Pertanyaan kritis tidak selalu berarti penolakan terhadap Tuhan. Bisa jadi anak sedang berusaha memahami iman secara pribadi, bukan sekadar mengikuti apa yang selama ini diajarkan oleh orang tua.
Di masa remaja, anak mulai membentuk cara berpikir, nilai, dan keyakinannya sendiri. Karena itu, pertanyaan seperti, “Mengapa kita percaya Alkitab?” atau “Bagaimana kita tahu Tuhan itu nyata?” merupakan bagian dari proses yang perlu didampingi.
Orang tua takut anak kehilangan iman, sementara anak takut pertanyaannya tidak dimengerti.
Saat rasa takut menguasai, orang tua bisa tergoda menjawab, “Pokoknya harus percaya,” atau, “Jangan terlalu banyak melihat internet.” Respons tersebut mungkin bertujuan melindungi anak, tetapi justru dapat menutup pintu komunikasi. Pertanyaan anak tidak akan hilang. Ia hanya akan berhenti membicarakannya di rumah.
Dengarkan Sebelum Memberikan Jawaban
Ketika anak mempertanyakan iman, langkah pertama bukan langsung berkhotbah atau mengoreksinya. Dengarkan terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan.
Orang tua dapat bertanya, “Apa yang membuat kamu memikirkan hal itu?” atau, “Kamu menemukan pandangan itu dari mana?”
Dengan mendengarkan, orang tua dapat memahami apakah anak sedang penasaran, kecewa terhadap gereja, terpengaruh konten internet, atau sedang mengalami pergumulan pribadi.
Mendengarkan bukan berarti menyetujui semua pendapat anak. Mendengarkan menunjukkan bahwa rumah tetap menjadi tempat aman untuk berbicara tentang iman.
Tidak Harus Mengetahui Semua Jawaban
Orang tua tidak harus mampu menjawab setiap pertanyaan teologis. Ketika belum mengetahui jawabannya, jangan memberikan penjelasan yang dibuat-buat.
Katakan dengan jujur, “Papa dan Mama belum tahu jawaban lengkapnya, tetapi kita bisa mencari tahu bersama.”
Sikap tersebut tidak mengurangi wibawa orang tua. Sebaliknya, anak belajar bahwa iman Kristen tidak takut diuji dan bahwa mencari kebenaran membutuhkan kerendahan hati.
Orang tua juga dapat mengajak anak membaca Alkitab, berdiskusi dengan pembimbing rohani yang dewasa, atau mencari sumber kekristenan yang dapat dipercaya.
Berikan Jawaban dengan Lemah Lembut
Dalam 1 Petrus 3:15, orang percaya diajak untuk siap memberi pertanggungjawaban tentang pengharapan yang dimiliki dengan lemah lembut dan hormat.
Prinsip ini juga berlaku ketika orang tua menjawab pertanyaan anak tentang iman. Kebenaran tidak perlu disampaikan dengan kemarahan, ancaman, atau rasa malu.
Anak mungkin tidak langsung menerima seluruh jawaban orang tuanya. Namun ia akan mengingat apakah dirinya dihargai selama proses pencarian tersebut.
BACA JUGA: Kenapa Parenting Sekarang Terasa Berat? Ini yang Sebenarnya Terjadi
Pada akhirnya, tujuan orang tua bukan hanya membuat anak mengulangi keyakinan keluarga. Tujuannya adalah menolong anak mengenal Kristus secara pribadi dan memiliki iman yang tumbuh dari kesadaran sendiri.
Ketika anak mempertanyakan iman, jangan buru-buru takut. Bisa jadi ia bukan sedang meninggalkan Tuhan, melainkan sedang mencari alasan yang lebih kuat untuk tetap percaya.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!