Tidak semua luka masa kecil disadari dengan mudah. Pak Yudo Sampurno tumbuh dalam keluarga yang mendidiknya dengan cara keras — seperti ala militer. Tanpa ia sadari, cara itu melekat dan terbawa hingga ke rumah tangganya sendiri.
"Didikan keluarga saya keras — seperti ala militer. Sifat itu terbawa dari lingkungan dan keadaan masa kecil," ujar Pak Yudo.
Akibatnya, Pak Yudo menjadi sosok ayah yang temperamental. Hal-hal kecil pun bisa memicu kemarahannya. Ketika anak laki-lakinya diberi tanggung jawab untuk menyapu namun malah bermain hingga sore hari, dan saat ditegur anak itu mengeyel — Pak Yudo marah lepas kendali. Ia memukul. Ia membentak. Dan itu terjadi di depan rumah, di depan mata orang-orang sekitar.
Lama-kelamaan, keluarga mereka pun dikenal di lingkungan sebagai keluarga yang keras.
Sementara itu, sang istri, Mulyaningsih, diam-diam mengimbangi keadaan. Ia lebih tenang, lebih sabar, dan lebih banyak memberikan pemahaman lewat kata-kata. Namun di balik semua itu, anak-anak tumbuh dalam jarak — mereka tidak dekat dengan ayahnya, mereka hanya takut.
"Dulu hubungan saya dengan anak hanya berjalan begitu saja — anak-anak cenderung takut kepada saya," akunya.
Baca Juga: "Mama Minta Maaf" Kalimat yang Memulihkan Hubungan Ibu Lastiar dan Putrinya
Teori Tanpa Akar
Sebenarnya, benih kesadaran sudah mulai muncul sejak Pak Yudo kuliah. Ia mulai mempertanyakan pola asuh yang ia bawa. Tapi saat itu semua masih sebatas teori — belum berakar dalam firman Tuhan, belum benar-benar mengubah cara ia bersikap.
Perubahan yang lebih nyata baru datang saat ia bergabung di Majelis Gereja, dan semakin dalam saat ia mengikuti The Parenting Project bersama istrinya melalui PKM (Persekutuan Keluarga Muda) di GITJ Jemaat Sumberjo. Program ini berlangsung dua kali setiap bulan — diawali dengan video singkat yang memperlihatkan gambaran nyata tentang menjadi orang tua, lalu dilanjutkan dengan diskusi bersama coach secara berkelompok.
"Teori dan praktik itu berbeda. Di sini, kami bisa saling berbagi pengalaman dalam menjalani rumah tangga," kenangnya.
Modul yang Paling Menegur
Dari seluruh sesi yang diikutinya — modul 1 hingga modul 7 — ada satu yang paling membekas di hati Pak Yudoyaitu Modul 5 "Menjadi Seorang Ayah."
Di situ, ia dipertemukan dengan firman Efesus 6:4, "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan."
Ayat itu bukan sekadar kata-kata. Ayat itu menohok.
"Firman itu menyadarkan saya bahwa orang tua memang punya kuasa, tetapi kita juga adalah wakil Tuhan di dunia. Anak adalah titipan. Kita diminta agar tidak membangkitkan amarah kepada anak supaya hati mereka tidak menjadi tawar," ungkap Pak Yudo.
Baca Juga: Puji Tuhan, Anak-anak Jadi Terbuka Setelah Ibu Bony Terapkan Pola Asuh Seperti di TPP
Perubahan yang Tidak Instan
Perubahan tidak datang seketika. Setiap kali sesi TPP selesai, Pak Yudo dan istrinya duduk bersama dan berdiskusi tentang apa yang baru saja mereka pelajari. Dari percakapan-percakapan itulah, ia mulai mengevaluasi dirinya sendiri — melihat dengan jujur hal-hal yang seharusnya tidak ia lakukan kepada anak-anaknya.
"Diskusi itulah yang menggerakkan hati saya untuk kemudian berdialog langsung dengan anak," katanya.
Meminta maaf pun bukan hal yang mudah. Ada egoisme yang masih harus ia taklukkan. Ia perlu mempersiapkan waktu, mempersiapkan kondisi psikologisnya, sebelum akhirnya bisa membuka percakapan itu bersama anak-anaknya.
"Tidak semudah itu. Perlu proses. Saya harus mempersiapkan waktu dan psikologi saya dulu, karena egoisme masih ada. Tidak bisa dibalik begitu saja," akunya jujur.
Baca Juga: Dulu Marah ke Anak Sampai Diikat, Kini Ibu Nuraifa Belajar Didik Anak Tak Perlu Kekerasan
Ketika Tetangga pun Merasakannya
Perubahan Pak Yudo bukan sesuatu yang hanya dirasakan di dalam rumah. Orang-orang di sekitar pun mulai melihatnya — termasuk para tetangga yang dulu mengenal keluarga mereka sebagai keluarga yang keras.
"Puji Tuhan, bahkan tetangga memberikan masukan kepada istri bahwa 'Pak Yudo sekarang sudah mulai berubah' — dalam kehidupan sehari-hari maupun saat rapat," ceritanya.
Amarah masih ada. Pak Yudo tidak mengklaim dirinya sudah sempurna. Tapi kini ada batas yang ia jaga. Ada kesadaran yang menahan langkahnya sebelum emosi itu meledak. Dan perlahan, anak-anak yang dulunya hanya takut, mulai membangun kedekatan yang sesungguhnya dengan ayah mereka.
Perubahan dalam keluarga memang tidak selalu dimulai dari momen yang dramatis. Kadang terjadi justru dari diskusi kecil bersama pasangan setelah satu sesi belajar, dan dari seorang ayah yang mau jujur pada dirinya sendiri.
Jika Anda rindu keluarga Anda dipulihkan, mari menjadi bagian dari The Parenting Project — program yang akan membekali Anda untuk membangun keluarga yang lebih sehat dengan menjadikan Kristus sebagai pusat.
Informasi lebih lanjut: www.theparentingproject.id atau hubungi via WhatsApp di 0811-1011-6556. Kami percaya setiap keluarga layak mengalami pemulihan.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!