Tren Likes di Threads Bisa Jadi Racun Pernikahan, Jangan Permalukan Pasangamu

Marriage / 13 July 2026

Tren Likes di Threads Bisa Jadi Racun Pernikahan, Jangan Permalukan Pasangamu
Sumber: ChatGPT
Aprita L Ekanaru Official Writer
1404

Tren “Kalau dapat sekian likes di Threads, Papa atau Ayang harus beliin…” belakangan menjadi hiburan baru di media sosial. Konsepnya sederhana: seseorang mengunggah tangkapan layar percakapan dengan pasangan yang berisi tantangan untuk mengumpulkan sejumlah likes. Apabila target tersebut tercapai, pasangan harus membelikan barang atau memenuhi keinginan tertentu.

Dalam hubungan yang sehat dan kondisi finansial yang memungkinkan, tren ini mungkin terasa lucu, romantis, dan menyenangkan. Namun, tren media sosial seperti ini dapat berubah menjadi persoalan serius apabila dilakukan tanpa kesepakatan, empati, dan pertimbangan terhadap keadaan pasangan.

Apa yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai candaan bisa berubah menjadi tekanan publik. Terlebih ketika pasangan sebenarnya sudah menyatakan tidak mampu, tetapi percakapan tersebut tetap diunggah agar warganet ikut mendesak atau menghakiminya.

 

Ketika Candaan Meruntuhkan Harga Diri Pasangan

Bagi banyak suami, kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga berkaitan erat dengan tanggung jawab dan harga dirinya. Karena itu, ketidakmampuan membeli sesuatu bukan selalu berarti suami tidak peduli, pelit, atau tidak mencintai istrinya.

Bisa jadi ia sedang memikirkan cicilan, biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, dana darurat, atau kondisi pekerjaan yang belum stabil. Ketika keterbatasan tersebut diumbar di media sosial dan dijadikan bahan hiburan, suami dapat merasa dipermalukan di hadapan banyak orang.

Alkitab mengajarkan bahwa kasih tidak mempermalukan atau mencari keuntungan bagi diri sendiri.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.” - 1 Korintus 13:4–5

Ayat ini mengingatkan bahwa kasih dalam pernikahan bukan sekadar perasaan romantis. Kasih juga terlihat melalui cara kita menjaga kehormatan, kelemahan, dan perasaan pasangan.

 

Pernikahan Bukan Kompetisi Media Sosial

Media sosial membuat pasangan mudah membandingkan kehidupan rumah tangganya dengan orang lain. Ketika melihat seorang istri mendapatkan hadiah mahal setelah unggahannya viral, orang lain mungkin merasa harus melakukan hal serupa agar tidak terlihat kurang dicintai.

Padahal, setiap keluarga memiliki keadaan keuangan, prioritas, dan pergumulan yang berbeda. Pernikahan yang sehat tidak dibangun berdasarkan jumlah likes, komentar warganet, atau standar keromantisan pasangan lain.

Ibrani 13:5 berkata, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.”

Rasa cukup bukan berarti pasangan tidak boleh memiliki keinginan atau membeli barang yang disukai. Namun, keinginan tersebut perlu dibicarakan dengan jujur dan disesuaikan dengan kemampuan bersama. Jangan sampai keinginan untuk mengikuti tren justru melahirkan tuntutan, pertengkaran, utang, atau rasa tidak bersyukur.

 

Membuka Pintu bagi Penghakiman Warganet

Mengunggah percakapan pribadi juga dapat membuka celah bagi cyberbullying. Warganet yang tidak mengetahui keadaan rumah tangga seseorang bisa dengan mudah menulis komentar seperti, “Suaminya pelit,” “Masa begitu saja tidak mampu?” atau “Cari pasangan lain saja.”

Komentar tersebut mungkin hanya dibaca dalam beberapa detik, tetapi dampaknya dapat tinggal lama dalam hati pasangan. Suami bisa merasa diserang, diremehkan, bahkan tidak aman di dalam rumah tangganya sendiri karena persoalan pribadi mereka telah menjadi konsumsi publik.

Amsal 12:18 mengingatkan, “Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.”

Prinsip ini juga berlaku di dunia digital. Sebelum mengunggah sesuatu tentang pasangan, pikirkan apakah konten tersebut akan membangun hubungan atau justru melukainya.

 

Bicarakan Keinginan Tanpa Mempermalukan

Tidak salah apabila istri menginginkan hadiah, liburan, makanan tertentu, atau barang yang sedang populer. Suami pun tidak selalu salah apabila belum mampu memenuhinya. Hal terpenting adalah bagaimana keinginan dan keterbatasan itu dikomunikasikan.

Filipi 2:4 berkata, “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”

Dalam pernikahan, empati berarti berusaha memahami keadaan pasangan sebelum menuntut sesuatu. Tanyakan apakah kondisi keuangan sedang memungkinkan, apakah ada kebutuhan yang lebih mendesak, dan apakah pasangan nyaman jika percakapan pribadi diunggah ke media sosial.

Tren boleh diikuti, tetapi jangan menjadikan pasangan sebagai bahan konten tanpa persetujuannya. Keseruan di media sosial seharusnya tidak dibayar dengan runtuhnya harga diri orang yang kita kasihi.

Pada akhirnya, pasangan hidup jauh lebih berharga daripada likes, hadiah, ataupun pengakuan warganet. Pernikahan Kristen dipanggil untuk menjadi tempat di mana suami dan istri saling melindungi, menghormati, dan membangun—bukan saling mempermalukan demi sebuah tren.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?