Di usia yang baru 6 tahun, Jose, atau yang akrab dipanggil Jos, sudah melewati perjalanan hidup yang tidak mudah. Setelah perpisahan orang tuanya, Jos sempat tinggal terpisah dari ibunya. Dalam masa itu, sang ibu, Widia Depari, melihat anaknya berada dalam kondisi yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang yang cukup. Meski tidak selalu berada di dekat Jos, ia tetap memantau keadaan anaknya dari jauh. “Walaupun saya tidak ada di sampingnya, saya tetap pantau,” ungkapnya.
BACA JUGA: Setelah Melihat Yesus Disalibkan, Aurel Belajar Berubah dan Minta Maaf kepada Mama
Ketika melihat keadaan Jos semakin memprihatinkan, Ibu Widia akhirnya mengambil keputusan besar. Ia membawa Jos kembali ke dalam pengasuhannya. Sebagai seorang ibu, ia ingin memastikan anaknya tumbuh di tempat yang aman, penuh perhatian, dan menerima kasih sayang yang selama ini sangat ia butuhkan.
Namun luka dan pengalaman masa kecil itu ternyata meninggalkan bekas dalam diri Jos. Ibu Widia melihat Jos tumbuh sebagai anak yang pendiam, tertutup, dan membangkang. Ia juga cenderung cuek terhadap orang lain, sulit berbagi, dan tidak mudah mengakui kesalahan ketika ditegur. “Dulu dia pendiam. Membangkang juga,” cerita ibunya.
Perubahan mulai terlihat ketika keluarga mereka beribadah di DGKB Sion Merek dan Jos mulai mengikuti Sekolah Minggu Superbook. Ibu Widia bahkan sempat menceritakan latar belakang Jos kepada guru sekolah minggu dan meminta agar anaknya didoakan serta diperhatikan. “Saya cerita, Mis, anak saya ini latar belakangnya seperti ini, tolong doakan ya,” katanya.
Tidak lama setelah itu, sesuatu yang berbeda mulai tampak di rumah. Jos yang dulu banyak diam, mulai suka bercerita. Ia menceritakan teman-temannya, perkataan gurunya, dan apa yang ia pelajari di sekolah minggu. Melalui Superbook, Jos mulai mengenal Tuhan dengan cara yang dekat dengan dunia anak-anak. Ia belajar berdoa, mendengar firman Tuhan, dan melihat teladan kasih yang perlahan membentuk hidupnya.
Salah satu perubahan yang paling dirasakan ibunya adalah kebiasaan Jos berdoa. Kini, sebelum makan, sebelum tidur, dan saat bangun tidur, Jos selalu berdoa. Bagi Ibu Widia, kebiasaan sederhana itu menjadi tanda bahwa nilai firman Tuhan mulai tertanam dalam hati anaknya.
Bukan hanya itu, hati Jos juga mulai berubah. Ia menjadi anak yang lebih peduli dan penuh kasih. Ketika memiliki makanan, ia tidak lagi hanya memikirkan dirinya sendiri. Bahkan saat makanannya sedikit, Jos tetap mengingat temannya dan menyisihkan sebagian untuk dibagikan. Jika ia diberi uang dua ribu rupiah, ia meminta dua lembar supaya bisa berbagi dengan temannya. “Kasihan dia, Mak,” ucap Jos kepada ibunya.
Ada satu momen yang sangat menyentuh hati Ibu Widia. Suatu hari, Jos melihat temannya tidak memakai sandal. Tanpa banyak berpikir, Jos memberikan sandalnya kepada temannya itu. Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal tersebut, Jos menjawab sederhana, “Karena banyakkan sandalku.” Jawaban polos itu justru menunjukkan kasih yang tulus dari hati seorang anak kecil.
Kini Jos tidak lagi dikenal sebagai anak yang pendiam dan membangkang. Ia menjadi lebih terbuka, lebih peduli, dan lebih mudah mengasihi. Ia juga mulai tidak suka melihat pertengkaran atau suara tinggi di rumah. Ketika ayah atau ibunya berbicara dengan nada keras, Jos berani menegur mereka dengan caranya sendiri.
Perubahan lain yang sangat disyukuri ibunya adalah kejujuran Jos. Dulu, Jos sulit mengakui kesalahan. Namun sekarang, ketika ia berbohong, ia bisa datang dan meminta maaf. “Iya, maaf, aku minta maaf, bohong aku,” begitu kata Jos ketika mengakui kesalahannya.
Bagi Ibu Widia, perubahan ini bukan sesuatu yang kecil. Anak yang dulu cuek kini belajar mengasihi. Anak yang dulu sulit berbagi kini justru memikirkan orang lain. Anak yang dulu sulit mengaku salah kini belajar jujur. Melalui Sekolah Minggu Superbook, Tuhan bekerja dalam hati Jos dengan cara yang sederhana, tetapi sangat nyata.
BACA JUGA: Anak 9 Tahun Ini Gak Takut Diejek Lagi Setelah Nonton Kisah Musa di Superbook
Kisah Jos mengingatkan kita bahwa firman Tuhan yang ditanam sejak kecil tidak pernah sia-sia. Di dalam hati seorang anak, Tuhan bisa menumbuhkan kasih, memulihkan luka, dan membentuk karakter yang indah. Superbook bukan hanya membuat anak senang datang ke sekolah minggu, tetapi juga menjadi sarana untuk menolong mereka mengenal Tuhan dan hidup dalam kasih-Nya.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!