Manjana Lano, atau yang akrab dipanggil Manja, adalah anak berusia 9 tahun dari Mandor, Kabupaten Landak. Seperti anak-anak seusianya, Manja punya keinginan sederhana yang membuat hatinya bahagia, ia ingin menjadi petugas upacara di sekolah dan membacakan UUD di depan teman-temannya.
Keinginan itu muncul ketika Manja melihat teman-teman dan kakak kelasnya tampil dengan percaya diri. Baginya, mereka terlihat hebat karena berani berdiri di depan banyak orang.
“Mereka hebat bisa bacanya, berani bisa baca di depan semua teman-teman,” kata Manja.
BACA JUGA: Bagaimana Perubahan Siona Setelah Pindah Rumah, Membuat Kakek dan Neneknya Terharu
Namun, keinginan itu tidak langsung berubah menjadi keberanian. Saat kesempatan menjadi petugas upacara datang, Manja justru memilih mundur. Bukan karena ia tidak mau, tetapi karena ia takut. Apalagi, ada teman yang berkata bahwa Manja tidak bisa membaca.
Padahal Manja sebenarnya bisa membaca. Tetapi perkataan itu melukai hatinya dan membuatnya semakin tidak percaya diri.
“Ada teman Manja bilang Manja itu enggak bisa baca UUD. Padahal Manja bisa membaca,” ceritanya.
Di tengah rasa sedih itu, Manja sempat mencoba menguatkan diri. Ia berkata kepada temannya bahwa Tuhan ada bersamanya. Jika ia belum bisa, Tuhan pasti menolongnya untuk memperbaiki. Namun respons yang ia terima tidak seperti yang diharapkan. Teman-temannya justru tertawa dan semakin mengejeknya.
“Manja bilang, Tuhan itu ada bersama Manja. Jadi kalau Manja tidak bisa, Manja ada Tuhan,” ujarnya.
Saat itu, Manja memilih diam. Di dalam hatinya, ia berdoa sederhana, “Tuhan Yesus, tolong kuatkan Manja.”
BACA JUGA: Dari Luka Penolakan, Menemukan Damai di Dalam Tuhan
Doa kecil itu menjadi awal keberanian yang perlahan tumbuh di hatinya. Terlebih ketika Manja menonton kisah Superbook “Bebaskan Umat-Ku”, yaitu kisah Musa yang dipakai Tuhan untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir.
Dari kisah itu, Manja melihat bahwa Musa pun awalnya ragu dan takut. Musa merasa tidak mampu, tetapi Tuhan tetap menolong dan memberi kekuatan kepadanya.
“Awalnya Musa ragu dan takut, tapi Tuhan menolong Musa dan memberi Musa kekuatan,” kata Manja.
Kisah itu sangat membekas dalam hati Manja. Ia mengingat bagaimana Tuhan memakai Musa, bagaimana Laut Merah terbelah, dan bagaimana bangsa Israel bisa menyeberang di tanah yang kering. Bagi Manja, jika Tuhan sanggup membelah laut, Tuhan juga sanggup menolongnya menghadapi rasa takut.
“Belah lautan aja bisa,” demikian kesan yang tertinggal di hatinya.
Melalui Superbook, Manja belajar bahwa ia tidak perlu terus meragukan dirinya sendiri. Keberanian bukan berarti tidak pernah takut, tetapi percaya bahwa Tuhan hadir dan memberi kekuatan ketika ia mau mencoba.
“Belajar kalau kita berdoa dan percaya Tuhan, Tuhan kasih kita kekuatan. Jadi kita tidak boleh takut,” ungkap Manja.
Kini, Manja mulai melihat dirinya dengan cara yang baru. Ia tidak mau terus dikuasai ketakutan karena ejekan teman-temannya. Jika suatu hari ia kembali diminta menjadi petugas upacara untuk membacakan UUD, Manja berkata ia mau mengambil kesempatan itu.
BACA JUGA: Jadi Pemalu dan Minder Karena Diejek, Gifani Sekarang Paham Dirinya Berharga Karena Tuhan
“Mau. Enggak takut lagi sama ejekan teman-teman. Manja sudah belajar menjadi berani,” katanya.
Kisah Manja menunjukkan bahwa firman Tuhan dapat bekerja dalam hati anak-anak lewat cara yang sederhana. Melalui Superbook, kisah Musa bukan hanya menjadi tontonan, tetapi menjadi pegangan iman bagi Manja untuk berani mencoba lagi. Sebab kini ia tahu, ia tidak sendiri. Tuhan ada bersama Manja dan sanggup menolongnya.
Mari dukung pelayanan Superbook agar semakin banyak anak seperti Manjana dapat mengenal firman Tuhan dengan cara yang menyenangkan, relevan, dan mudah dipahami. Melalui dukungan Anda, anak-anak di berbagai daerah dapat ditolong untuk bertumbuh dalam iman, menemukan keberanian, dan percaya bahwa Tuhan selalu menyertai mereka.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!