Ada Detail yang Jarang Dibahas dari Perumpamaan Anak yang Hilang

Fakta Alkitab / 6 July 2026

Ada Detail yang Jarang Dibahas dari Perumpamaan Anak yang Hilang
Sumber: Jawaban.com
Aprita L Ekanaru Official Writer
808

Bayangkan kamu sudah menghancurkan segalanya. Kamu sudah terlalu jauh melangkah, terlalu lama pergi, dan terlalu banyak membuat kesalahan. Akhirnya kamu memutuskan untuk pulang. Tapi bagaimana jika kepulangan itu bukanlah jalan yang aman? Bagaimana jika yang menunggumu bukan penerimaan, melainkan penolakan di depan banyak orang? Inilah salah satu fakta yang jarang dibahas dari perumpamaan anak yang hilang, sebuah kisah yang sangat terkenal, tetapi sering kali belum dipahami secara utuh.

 

BACA JUGA: Alkitab Sudah Membahas Masalah Uang Sejak 2000 Tahun Lalu

 

Kisah ini dicatat dalam Lukas 15. Seorang anak bungsu datang kepada ayahnya dan meminta bagian warisannya. Bagi pembaca masa kini, permintaan itu mungkin terdengar biasa. Namun dalam budaya Timur Tengah pada masa itu, tindakan tersebut merupakan penghinaan yang sangat besar. Warisan pada umumnya baru diberikan setelah sang ayah meninggal. Dengan meminta warisan saat ayahnya masih hidup, anak itu seolah berkata bahwa ia lebih menginginkan harta daripada keberadaan ayahnya sendiri.

Yang mengejutkan, sang ayah tidak menghukumnya atau mempermalukannya. Ia justru memberikan apa yang diminta. Anak itu kemudian pergi dan menghabiskan seluruh hartanya dalam kehidupan yang tidak bijaksana. Ketika kelaparan datang, ia kehilangan segalanya dan terpaksa bekerja menjaga babi.

Bagi orang Yahudi, keadaan ini sangat memalukan. Babi dianggap najis dan tidak boleh disentuh. Anak itu bukan hanya kehilangan uangnya, tetapi juga kehilangan kehormatan dan masa depannya.

Namun bagian paling dramatis dari kisah ini sering kali terlewat. Menurut adat Yahudi pada masa itu, ada sebuah upacara yang disebut Kezazah, yang berarti pemutusan. Jika seseorang menghamburkan warisan keluarganya di tengah bangsa asing lalu kembali ke kampung halamannya, masyarakat dapat menolaknya secara terbuka. Sebuah periuk dipecahkan di hadapannya sebagai tanda bahwa ia telah diputus dari komunitasnya.

Artinya, ketika anak ini memutuskan pulang, ia tidak sedang mengambil langkah yang nyaman. Ia sedang mengambil risiko ditolak oleh seluruh desanya.

Lalu terjadilah momen yang mengubah segalanya.

Alkitab mencatat bahwa ketika anak itu masih jauh, ayahnya sudah melihatnya dan berlari menyambutnya. Bagi kita, tindakan itu terasa biasa dan penuh kasih. Tetapi bagi masyarakat saat itu, seorang pria terhormat tidak berlari di depan umum. Untuk berlari, ia harus mengangkat jubahnya dan memperlihatkan kakinya, sesuatu yang dianggap memalukan.

Namun sang ayah rela menanggung rasa malu itu. Ia berlari mendahului kemungkinan penolakan yang akan diterima anaknya. Ia mencapai anaknya lebih dulu sebelum siapa pun sempat menghakiminya.

 

BACA JUGA: Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Loh Batu di Gunung Sinai?

 

Setelah itu, sang ayah memberikan jubah terbaik, cincin, dan sandal. Semua itu adalah tanda bahwa anak tersebut diterima sepenuhnya kembali sebagai anggota keluarga. Anak itu sudah menyiapkan permintaan maaf dan bahkan bersedia menjadi pelayan. Namun sang ayah tidak memberinya syarat-syarat. Ia memberinya pelukan.

Inilah inti dari kisah ini. Anak yang hilang tidak disambut dengan interogasi, melainkan dengan penerimaan. Ia datang membawa kegagalan, tetapi bertemu dengan kasih.

Mungkin ada saat-saat ketika seseorang merasa telah terlalu jauh dari Tuhan, terlalu banyak kesalahan, atau terlalu malu untuk kembali. Namun perumpamaan ini menunjukkan gambaran yang berbeda. Bukan tentang seorang ayah yang menunggu untuk menghukum, melainkan seorang ayah yang berlari untuk menyambut.

Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang seorang anak yang pulang. Ini adalah kisah tentang seorang ayah yang tidak berhenti menanti. Dan mungkin itulah bagian yang paling penting untuk direnungkan. 

Tonton video lengkapnya di bawah ini:

Sumber : Jawaban Channel
Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?