Isu Migrasi Meningkat, PGI Soroti Nasib Pekerja Migran di Konfrensi Internasional Ini

News / 25 June 2026

Isu Migrasi Meningkat, PGI Soroti Nasib Pekerja Migran di Konfrensi Internasional Ini
Sumber: PGI.or.id
Aprita L Ekanaru Official Writer
1364

Isu migrasi dan pekerja migran menjadi sorotan utama dalam Konferensi Internasional Society of Asian Biblical Studies (SABS) 2026 yang digelar di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta pada 23–27 Juni 2026. Pertemuan dua tahunan ini menghadirkan 119 peserta dari 17 negara yang terdiri dari teolog, akademisi Alkitab, peneliti, dosen, hingga mahasiswa dari berbagai wilayah Asia.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, turut hadir dalam pembukaan konferensi dan menekankan pentingnya gereja dalam merespons krisis migrasi yang semakin kompleks di kawasan Asia.

 

BACA JUGA: Fokus Pemuridan, Konferensi Gereja Asia Serukan Gereja Harus “Mulai dari Dalam”

 

Migrasi Jadi Krisis Nyata di Asia

Dalam sambutannya, Pdt. Jacklevyn mengatakan bahwa tema “Bible, Labour and Migration” yang diangkat dalam SABS 2026 sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Menurutnya, mobilitas tenaga kerja lintas negara di Asia semakin meningkat, namun tidak jarang diikuti berbagai persoalan kemanusiaan.

“Gereja-gereja di Indonesia dan Asia sedang menghadapi persoalan migrasi dan pekerja migran sebagai salah satu krisis serius,” ujarnya.

Asia sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan penyumbang pekerja migran terbesar di dunia, termasuk Indonesia yang menjadi salah satu negara pengirim utama. Di balik angka tersebut, terdapat berbagai kisah yang kompleks—mulai dari perjuangan ekonomi hingga pengalaman pahit yang dialami para pekerja.

 

Kisah Tragis di Balik Migrasi

Pdt. Jacklevyn menyoroti bahwa realitas pekerja migran tidak hanya berisi cerita keberhasilan. Banyak di antaranya menghadapi eksploitasi, diskriminasi, hingga kekerasan di negara tujuan.

Tidak sedikit pekerja migran yang harus hidup terpisah dari keluarga dalam waktu lama, bahkan mengalami perlakuan tidak adil. Dalam kasus yang lebih tragis, ada yang harus dipulangkan dalam kondisi meninggal dunia.

“Kisah migrasi bukan hanya tentang ketangguhan, tetapi juga penuh penderitaan yang perlu mendapat perhatian serius,” tambahnya.

Situasi ini menjadi tantangan besar bagi gereja untuk hadir sebagai suara yang memperjuangkan keadilan dan perlindungan bagi para pekerja migran.

 

Gereja Didorong Perkuat Advokasi

Melalui forum SABS 2026, PGI berharap lahir kajian-kajian teologis yang dapat memperkuat peran gereja dalam melakukan advokasi terhadap pekerja migran.

Menurut Pdt. Jacklevyn, tema migrasi sebenarnya bukan hal baru dalam Alkitab. Narasi tentang perpindahan manusia sudah muncul sejak kitab Kejadian hingga Wahyu.

Ia menilai studi Alkitab yang kontekstual sangat penting agar gereja dapat memahami isu migrasi bukan hanya secara spiritual, tetapi juga secara sosial dan kemanusiaan.

 

SABS Jadi Wadah Kolaborasi Akademik

Presiden SABS, Monica Jyotsna Melanchthon, menjelaskan bahwa konferensi ini menjadi ruang penting untuk memperkuat kerja sama antar akademisi di Asia.

SABS sejak awal didirikan untuk mendorong penafsiran Alkitab yang kontekstual, dengan mempertimbangkan realitas sosial di kawasan Asia yang sangat beragam, baik dari sisi budaya, agama, maupun ekonomi.

“Kami ingin membangun kolaborasi, pertumbuhan intelektual, serta dukungan bagi para sarjana Alkitab di Asia,” ujarnya.

 

Tekanan Migrasi Diprediksi Meningkat

Monica juga mengingatkan bahwa tekanan migrasi global diprediksi akan semakin meningkat dalam dekade mendatang. Berdasarkan proyeksi, sekitar 1,2 miliar anak muda di negara berkembang akan memasuki usia kerja dalam waktu 10 tahun ke depan.

Kondisi ini berpotensi memicu gelombang migrasi besar, khususnya di kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Sub-Sahara.

Meski demikian, Monica menegaskan bahwa migrasi tidak selalu harus dilihat sebagai masalah. Justru, migrasi dapat menjadi kesempatan untuk pertukaran budaya, solidaritas, serta membangun masyarakat yang lebih inklusif.

 

BACA JUGA: 7 Gerakan yang Disiapkan Evangelical Asia untuk Dorong Gereja Lakukan Pemuridan

 

Harapan bagi Gereja dan Masyarakat

Melalui Konferensi SABS 2026, diharapkan lahir pemikiran-pemikiran baru yang dapat membantu gereja merespons isu migrasi secara lebih bijak dan relevan.

Selain sebagai forum akademik, pertemuan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara dunia teologi dan realitas sosial masyarakat.

Dengan meningkatnya tantangan migrasi di Asia, peran gereja sebagai pembawa pesan keadilan, kasih, dan perlindungan bagi yang rentan menjadi semakin penting.

SABS 2026 di Jakarta pun diharapkan tidak hanya menghasilkan kajian ilmiah, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kehidupan pekerja migran dan masyarakat luas di masa depan.

Sumber : PGI.or.id
Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Peran Roh Kudus Kisah Nyata Mimpi Bertemu Yesus Devotional Jawaban Siapa Yesus

Artikel Populer

Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?