Di tengah banyaknya pelayanan gereja yang berfokus pada ibadah umum dan kegiatan orang dewasa, satu hal penting sering kali luput dari perhatian: pemuridan anak dimulai dari keluarga.
Ketua PGLII Pdt. Tommy Lengkong, M.Th menegaskan bahwa gereja-gereja di Indonesia perlu semakin serius melihat keluarga sebagai tempat lahirnya generasi pemimpin masa depan. Menurutnya, pemuridan tidak boleh hanya berhenti di mimbar, kelas sekolah minggu, atau program gereja, tetapi harus menyentuh rumah tangga secara langsung.

Ketua PGLII, Pdt Tommy Lengkong M.Th hadiri All Staff Chapel di Kantor CBN Indonesia
Ketika ditanya apakah gereja sudah cukup serius menjadikan keluarga sebagai tempat pembentukan pemimpin masa depan, Pdt. Tommy menjawab dengan jujur bahwa hal itu belum banyak dilakukan.
“Pemuridan keluarga itu penting. Ecclesia Domestica, pelayanan kepada rumah tangga, itu penting sekali sekarang,” ujarnya dalam wawancara bersama jawaban.com pada Jumat, 6 Juni 2026 lalu.
Baca Juga: The Parenting Project Siap Muridkan Orang Tua di Ribuan Gereja di Bawah Naungan Sinode GBI
Pernyataan ini menjadi penting karena tantangan generasi anak dan remaja saat ini tidak lagi sederhana. Mereka tumbuh di tengah dunia digital, banjir informasi, perubahan nilai, dan pengaruh media yang sangat masif. Anak-anak tidak hanya dibentuk oleh keluarga dan gereja, tetapi juga oleh konten yang mereka tonton, komunitas digital yang mereka ikuti, dan pesan-pesan dunia yang hadir setiap hari melalui layar.
Karena itu, gereja lokal tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara sinode, gereja, keluarga, dan lembaga pelayanan yang memiliki pengalaman dalam pemuridan anak serta penggunaan media.
Dalam konteks inilah PGLII melihat pentingnya kerja sama dengan lembaga seperti CBN Indonesia. Tommy menyebut bahwa CBN memiliki pengalaman dan kekuatan dalam pelayanan berbasis media, sebuah bidang yang kini sangat dibutuhkan gereja.
“Media itu penting. Tidak ada yang bisa menghindari untuk tidak menggunakan media,” jelas Pdt. Tommy.
Menurutnya, dalam lima tahun ke depan harus ada titik balik bagi gereja-gereja di Indonesia. Para pemimpin gereja perlu memikirkan ulang strategi pelayanan mereka di tengah dunia yang semakin digital. Media akan semakin masif, dan informasi yang diterima generasi muda tidak selalu membawa pengaruh positif.
Baca Juga: Tak Ingin Kehilangan Anak Muda, Ketua PGLII Ajak Gereja Rangkul Generasi Muda di Era ini
Di sinilah gereja perlu diperlengkapi. Banyak gereja mungkin sudah menyadari adanya tantangan besar, tetapi belum tahu harus mulai dari mana. Tommy melihat bahwa CBN Indonesia dapat berkontribusi karena sudah lebih dahulu bergerak dalam pelayanan media dan pengembangan program yang menjangkau anak serta keluarga.
“Saya lihat CBN sudah selangkah lebih maju, bahkan beberapa langkah lebih maju, karena basis pelayanannya CBN kan media. Saya berharap CBN berperan lebih banyak di sana,” ungkapnya.

Ketua Yayasan CBN Indonesia Mark McClendon doakan Pdt Tommy Lengkong
Kolaborasi ini dapat menjadi pintu penting bagi gereja-gereja lokal untuk semakin diperlengkapi dalam memuridkan generasi anak. Bukan hanya melalui program, tetapi juga melalui pendekatan yang relevan dengan kebutuhan keluarga masa kini.
Salah satu bentuk pelayanan yang disebut dalam percakapan ini adalah Super5, program yang berfokus pada pembentukan anak melalui gereja lokal. Bagi PGLII, pelayanan seperti ini sejalan dengan kebutuhan mendesak gereja untuk kembali memperhatikan pemuridan sejak usia dini.
Tommy menegaskan bahwa PGLII siap mendorong kesadaran ini di gereja-gereja. Bahkan ia menyebut bahwa percakapan ini membuka kembali pemikirannya tentang pentingnya mengkampanyekan pemuridan keluarga secara lebih luas.
Baca Juga: Ketum PGI Pdt. Jacky Manuputty Luruskan JK Soal 'Syahid' Kristen di Konflik Poso
Kolaborasi antara PGLII, CBN Indonesia, dan gereja-gereja lokal bukan sekadar kerja sama antar-lembaga. Ini adalah upaya bersama untuk menjawab Amanat Agung dalam konteks zaman yang berubah cepat.
Jika gereja ingin melihat generasi masa depan tetap berdiri dalam iman, maka pemuridan tidak bisa ditunda sampai anak-anak menjadi dewasa. Pemuridan harus dimulai sekarang, dari rumah, melalui gereja lokal, dan diperkuat oleh kolaborasi yang berdampak.
Sebab masa depan gereja tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berdiri di mimbar hari ini, tetapi oleh siapa yang sedang dibentuk di rumah-rumah, ruang kelas, sekolah minggu, dan komunitas gereja lokal saat ini.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!