Anaknya Selalu Minta Maaf Setelah Dipukul, Kisah Ibu Ini Bikin Tersentuh

CBN Impact / 11 June 2026

Anaknya Selalu Minta Maaf Setelah Dipukul, Kisah Ibu Ini Bikin Tersentuh
Sumber: Jawaban.com
Aprita L Ekanaru Official Writer
1659

Monika Purwita Sari tidak pernah menyangka bahwa luka masa kecilnya akan memengaruhi cara ia membesarkan anaknya sendiri. Tumbuh dalam keluarga broken home, Monika terbiasa hidup tanpa tempat untuk bercerita. Ia dibesarkan dengan pola asuh keras, penuh bentakan, dan minim kasih sayang emosional. Semua itu ia simpan rapat-rapat hingga dewasa, tanpa pernah benar-benar disembuhkan.

 

BACA JUGA: Dulu Marah ke Anak Sampai Diikat, Kini Ibu Nuraifa Belajar Didik Anak Tak Perlu Kekerasan

 

Ketika Monika menjadi seorang ibu dari Queenara Emmanuella Santoso, tanpa disadari ia mengulang pola yang sama. Baginya, bersikap keras kepada anak adalah hal normal, itulah satu-satunya cara yang pernah ia kenal. Saat anaknya rewel atau menolak makan, Monika mulai dengan teguran lembut, namun sering kali berakhir dengan teriakan, cubitan, bahkan pukulan.

Situasi ini terus berulang, hingga suatu hari Monika dihadapkan pada sebuah kenyataan yang menghancurkan hatinya. Setiap kali ia marah dan menyakiti anaknya, justru Queenara yang lebih dulu meminta maaf.

Momen itu menjadi titik terendah dalam hidupnya. Ia merasa sangat bersalah, hancur, dan gagal sebagai seorang ibu. Meski sering menangis bersama anaknya setelah kejadian itu, Monika mendapati dirinya kembali mengulang hal yang sama di hari berikutnya. Ia terjebak dalam lingkaran emosi yang tidak bisa ia kontrol.

Perubahan mulai terjadi ketika Monika mendengar tentang The Parenting Project dari gereja. Ada dorongan kuat dalam hatinya untuk ikut serta. Ia mulai menyadari bahwa akar dari semua emosinya bukanlah pada anaknya, melainkan luka lama yang belum pernah ia selesaikan.

Dalam proses belajar tersebut, Monika tersentak ketika memahami bahwa anak adalah cerminan orang tua. Ia sadar bahwa setiap perilakunya diam-diam ditiru oleh Queenara. Kesadaran ini membuka matanya bahwa ia sedang mewariskan luka yang sama kepada generasi berikutnya.

Transformasi Monika tidak terjadi secara instan. Ia memulainya dari langkah kecil, belajar mengendalikan emosi, memilih diam saat emosi memuncak, dan mencoba merespons anak dengan cara yang berbeda. Hasilnya mengejutkan. Ketika Monika tidak lagi berteriak, anaknya justru lebih cepat memahami dan menjadi lebih tenang.

Hal paling besar yang ia pelajari adalah keberanian untuk meminta maaf kepada anaknya sendiri. Sesuatu yang dulu ia anggap tidak perlu sebagai seorang ibu, kini menjadi kunci untuk memperbaiki hubungan mereka.

Perlahan namun pasti, perubahan itu terlihat. Queenara tidak lagi sering tantrum atau bereaksi berlebihan. Hubungan ibu dan anak ini menjadi lebih hangat, penuh kasih, dan saling memahami. Bahkan suaminya turut menyadari perubahan signifikan dalam diri Monika.

Kini, Monika masih berada dalam proses. Namun satu hal yang pasti, ia tidak lagi hidup dalam kebiasaannya yang lama. Ia memilih untuk memutus rantai luka generasi dan membangun masa depan yang lebih sehat bagi anaknya.

Kisah Monika menjadi pengingat kuat bahwa pola asuh yang kita terima di masa lalu tidak harus kita wariskan. Dengan kesadaran, kemauan untuk berubah, dan pertolongan Tuhan, setiap orang tua memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Bagi banyak orang tua di luar sana yang merasa gagal atau kehilangan kendali, kisah ini adalah bukti bahwa perubahan itu mungkin. Karena pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang mau belajar dan bertumbuh.

BACA JUGA: "Kami Pukul Anak Saat Belajar, Sampai Kami Sadar Kami Salah Besar sebagai Orang Tua.."

 

Jika Anda rindu keluarga Anda dipulihkan, mari menjadi bagian dari The Parenting Project – Anda akan diperlengkapi untuk membangun keluarga yang lebih sehat dengan menjadikan Kristus sebagai pusat.

Informasi lebih lanjut tentang The Parenting Project bisa kunjungi https://theparentingproject.id/ atau hubungi langsung via Whatsapp di 0811-1011-6556, kami percaya setiap keluarga layak mengalami pemulihan.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?