Berani Memberi di Tengah Kekurangan

Renungan Harian / 31 May 2026

Berani Memberi di Tengah Kekurangan
Aprita L Ekanaru Official Writer
      65

“Tetapi Elia berkata kepadanya: Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil...”

1 Raja-raja 17:13

 

Saudaraku, coba bayangkan sejenak berada di posisi janda di Sarfat. Hidupnya sudah berada di ujung batas, hanya tersisa segenggam tepung dan sedikit minyak, cukup untuk satu kali makan terakhir bersama anaknya. Setelah itu tidak ada rencana, tidak ada harapan secara manusia, hanya penantian akan akhir. Lalu di tengah keadaan yang begitu genting, datanglah Elia dengan sebuah permintaan yang terasa hampir tidak masuk akal: “buatlah lebih dahulu bagiku.” Jika kita jujur, mungkin kita akan merasa permintaan itu tidak adil. Bukankah lebih masuk akal jika janda itu mengutamakan dirinya dan anaknya terlebih dahulu?

Namun justru di titik inilah iman berbicara. Tuhan tidak meminta dari kelebihan, tetapi dari kekurangan. Ia tidak menunggu sampai hidup kita mapan, tetapi sering kali datang ketika semuanya terasa kurang dan tidak ideal. Dan yang lebih mengejutkan, janda Sarfat memilih untuk taat. Ia mendahulukan Tuhan di atas kebutuhan paling mendesak dalam hidupnya. Ia tidak memberi dari sisa, melainkan dari seluruh yang ia miliki hari itu.

Saudaraku, jika direnungkan, seringkali kita berada di posisi yang sama, walaupun dalam bentuk yang berbeda. Kita berkata dalam hati, “Nanti saja kalau sudah cukup,” entah itu cukup uang, cukup waktu, atau cukup tenaga. Kita terbiasa memberikan sisa-sisa dari hari yang melelahkan, sisa dari penghasilan, sisa dari perhatian kita. 

Janda itu mengajarkan sesuatu yang sederhana bahwa iman tidak menunggu kondisi yang ideal. Iman justru bertumbuh ketika kita berani melangkah dalam keterbatasan. Ketika ia menyerahkan apa yang sedikit di tangannya, ia sedang menyatakan bahwa yang menjadi sumber hidupnya bukanlah tepung atau minyak itu, melainkan Tuhan. Dan dari tindakan ketaatan kecil itu, mujizat mulai terjadi, tepung tidak habis, minyak tidak berkurang. Itulah bukti pemeliharaan Tuhan yang nyata.

Jadi, hari ini mungkin kamu juga merasa sedang “tidak cukup”, tidak cukup kuat, tidak cukup punya waktu, tidak cukup secara finansial, atau bahkan tidak cukup secara emosional. Firman ini mengajak kita melihat dengan sudut pandang yang berbeda, justru di tengah kekurangan itulah Tuhan mengundang kita untuk percaya. Apa yang ada di tanganmu sekarang, sekecil apa pun, itu cukup untuk Tuhan bekerja.

 

Refleksi Diri:

1. Apa yang saat ini terasa “terlalu berharga” untuk kamu berikan kepada Tuhan, dan mengapa kamu masih menahannya?

2. Jika kamu benar-benar percaya Tuhan adalah sumber hidupmu, langkah iman apa yang bisa kamu ambil hari ini meskipun keadaanmu belum cukup?

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?