Noah pernah berpikir bahwa ikut menertawakan orang lain bisa membuatnya diterima oleh teman-temannya.
Setiap kali ada teman yang salah menjawab pertanyaan guru, ia ikut mengejek dan menjadikannya bahan olok-olok. Bukan karena ia benar-benar ingin menyakiti orang tersebut, tetapi karena ia takut.
Noah takut kalau ia tidak mengikuti temannya, ia jadi tidak memiliki teman dan berakhir sendirian.
Noah Rante Limbongan, duduk di kelas 5 SD dan tinggal bersama mama serta kakaknya, karena papa sedang merantau untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Noah juga mengikuti Sekolah Minggu di SoL GBI Nafiri Sion, Tanete.
Dulu, ketika teman-temannya mengajak untuk mengejek, Noah sering ikut-ikutan supaya diterima. Tapi tanpa sadar, perkataannya menyakiti hati teman-temannya.
Bahkan ketika ada teman yang marah atau membalas, Noah justru ikut marah dan merasa dirinya tidak bersalah. Padahal, ia yang memulai lebih dulu.
Kisah Alkitab yang Membuka Mata Noah
Suatu hari, Noah mengikuti kegiatan layar tancap di gereja dan menonton kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego melalui Superbook.
Ia melihat bagaimana ketiga tokoh itu tetap setia kepada Tuhan meskipun harus menghadapi dapur api yang sangat panas. Mereka tidak ikut-ikutan orang lain menyembah patung, karena mereka tahu itu bukan hal yang benar.
Dari kisah Alkitab itu, Noah mulai sadar kalau selama ini, ia juga sering ikut-ikutan melakukan hal buruk hanya supaya diterima. Ia belajar bahwa mengikuti banyak orang tidak selalu berarti melakukan hal yang benar.
Noah juga mulai mengerti bahwa Tuhan melihat setiap hal yang ia lakukan, termasuk perkataan kecil yang keluar dari mulutnya dan kesadaran itu membuat Noah ingin berubah.
Belajar Tidak Ikut-ikutan Hal Buruk
Sejak saat itu, Noah mulai belajar untuk tidak ikut mengejek lagi. Ketika ada teman yang mengajaknya mengolok-olok orang lain, ia berusaha untuk tidak ikut-ikutan. Memang awalnya tidak mudah, tetapi Noah ingin belajar memilih yang benar.
Ia juga mulai menahan diri untuk tidak menertawakan teman yang salah menjawab. Noah sadar bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan, termasuk dirinya sendiri. Karena itu, ia ingin lebih menghargai teman-temannya.
Ternyata, perubahan itu tidak membuat Noah kehilangan teman. Justru Noah belajar bahwa ia tidak perlu mengejek orang lain supaya bisa diterima. Ia tetap bisa punya teman dengan menjadi baik dan menghargai mereka.
Kini Noah Mau Memilih yang Benar
Sekarang, Noah sering berdoa dan meminta ampun kepada Tuhan atas sikapnya yang dulu. Ia percaya bahwa Tuhan melihat hidupnya, bukan hanya dalam hal besar, tetapi juga dalam perkataan dan sikap sehari-hari.
Dari kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, Noah belajar bahwa berani melakukan yang benar kadang berarti tidak ikut-ikutan.
Ada banyak anak seperti Noah yang sedang belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah di tengah pengaruh lingkungan sekitarnya. Melalui kisah-kisah Alkitab yang relevan dan mudah dipahami, anak-anak bisa belajar membangun karakter, keberanian, dan hati yang takut akan Tuhan.
Lewat dukungan donasi yang kamu berikan, lebih banyak anak dapat mengalami perubahan hidup seperti Noah dan bertumbuh menjadi generasi yang memilih melakukan yang benar.
Sumber : Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”