Dulu Marah ke Anak Sampai Diikat, Kini Ibu Nuraifa Belajar Didik Anak Tak Perlu Kekerasan

Impact Story / 26 May 2026

Dulu Marah ke Anak Sampai Diikat, Kini Ibu Nuraifa Belajar Didik Anak Tak Perlu Kekerasan
Sumber: Jawaban.com
Lori Official Writer
370

Ibu Nuraifa adalah seorang ibu rumah tangga yang dikaruniai tiga orang anak. Dua anak pertamanya kini sudah dewasa, satu bekerja di Lampung dan satu lagi sedang menempuh pendidikan di Jatinangor, sementara anak ketiganya masih tinggal bersama mereka di rumah. Namun di balik kehidupan keluarganya, Ibu Nuraifa menyimpan penyesalan tentang cara dirinya mendidik anak-anak di masa lalu.

Saat anak-anaknya masih kecil, Ibu Nuraifa dikenal sebagai sosok ibu yang keras dan mudah marah. Ketika anak-anak sulit makan, ia pernah mengikat kaki mereka menggunakan karet agar mau makan. Saat mereka kesulitan memahami pelajaran atau menolak minum obat, tangannya kerap terangkat.

“Tidak pernah ngadu, mereka orangnya pendiam semua. Bapaknya jarang di rumah – polisi bagian reskrim.”

Anak-anaknya biasanya hanya menangis sambil menahan rasa sakit dan takut kepada ibunya. Mereka tidak pernah mengadu kepada ayah mereka yang bekerja sebagai polisi bagian reserse dan jarang berada di rumah karena tugas. Sang ayah sering pulang dini hari, sehingga komunikasi dengan anak-anak pun sangat terbatas. Kadang, ketika suaminya mulai curiga dan bertanya tentang keadaan anak-anak, Ibu Nuraifa memilih berbohong dan menutupi apa yang sebenarnya terjadi di rumah.

Lambat laun, Ibu Nuraifa mulai menyadari bahwa hubungan dirinya dengan anak-anak menjadi renggang. Ia sadar bahwa sikap keras dan emosional yang selama ini dilakukan dapat berdampak buruk terhadap pertumbuhan anak-anak serta keharmonisan keluarganya. Karena merasa dirinya kurang sabar dan terlalu keras, ia akhirnya mengambil keputusan untuk memasukkan anak-anaknya ke tempat les agar ada orang lain yang membantu proses belajar mereka.

Perjalanan perubahan Ibu Nuraifa sebenarnya sudah dimulai sebelum ia mengikuti The Parenting Project. Ketika pindah gereja dan mulai bergabung dalam komunitas kaum ibu di GPDI, ia mulai banyak belajar tentang forman Tuhan dam memahami bahwa mendidik anak tidak harus dengan kekerasan. Namun melalui The Parenting Project, semua pelajaran itu semakiin diteguhkan dan diperjelas di dalam hidupnya.

“Saya sempat merasa: Kenapa tidak dari dulu program ini datang, waktu anak-anak masih kecil?”

Salah satu momen yang paling membekas bagi Ibu Nuraifa dalah ketika ia dan suaminya menonton ulang sesi The Parenting Project bersama-sama saat sedang menjaga orang tua yang sakit di Siantar. Dalam momen itu, mereka mengenang kembali masa-masa ketika anak-anak masih kecil. Suaminya pun menyadari bahwa terlalu banyak waktu bersama anak-anak yang terlewat karena kesibukan pekerjaan. Sementara itu, Ibu Nuraifa sadar bahwa dirinya selama ini kurang sabar dan kurang memahami hati anak-anaknya. Dari situ, mereka mulai saling terbuka, berdoa bersama, dan meminta Tuhan memulihkan keluarga mereka.

Ibu Nuraifa juga merasa diingatkan bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah. Sedikit demi sedikit, ia mulai belajar menunjukkan kasih kepada anak-anaknya dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi mudah marah dan mulai lebih banyak mendengarkan mereka. Bahkan, ia memberanikan diri meminta maaf kepada kedua anak pertamanya atas cara didikan keras yang pernah ia lakukan dahulu.

“Mereka pun memahami dan bilang: ‘kami menyadarinya, ma. Kalau Mama tidak buat seperti itu, mungkin kami tidak akan mampu menjalani pendidikan yang lebih dari itu’ mereka menerimanya.”

Respon anak-anaknya ternyata di luar dugaan. Mereka memaafkan ibunya dan bahkan mengakui bahwa didikan keras itu turut membentuk mereka menjadi probadi yang kuat dalam menjalani pendidikan dan kehidupan. Mendengar hal itu, Ibu Nuraifa merasa sangat terharu. Kini hubungan mereka menjadi lebih terbuka dan hangat, termasuk hubungannya dengan sang suami. Dari perjalanan hidup ini, Ibu Nuraifa belajar bahwa perubahan kecil yang dimulai dari kasih, kesabaran, dan kerendahan hati dapat membawa pemulihan besar bagi sebuah keluarga.

Jika Anda rindu keluarga Anda dipulihkan, mari menjadi bagian dari The Parenting Project – Anda akan diperlengkapi untuk membangun keluarga yang lebih sehat dengan menjadikan Kristus sebagai pusat.

Informasi lebih lanjut tentang The Parenting Project bisa kunjungi https://theparentingproject.id/ atau hubungi langsung via Whatsapp di 0811-1011-6556, kami percaya setiap keluarga layak mengalami pemulihan.

Halaman :
1

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?