Anak Ini Memilih Jujur daripada Mempertahankan Nilai Tinggi

Impact Story / 25 May 2026

Anak Ini Memilih Jujur daripada Mempertahankan Nilai Tinggi
Sumber: Jawaban.com
Lori Official Writer
474

Berkata jujur mungkin terdengar sederhana, tetapi pada kenyataannya tidak semua orang berani untuk melakukannya, apalagi ketika kejujuran itu membuat seseorang harus kehilangan keuntungan yang sudah ada di depan matanya. Banyak orang lebih memilih untuk diam demi mempertahankan kenyamanan atau pengakuan dari orang lain. Namun bagi Theo, sebuah pengalaman kecil di sekolah justru menjadi momen penting yang mengajarkannya tentang keberanian untuk berkata benar. 

Semua bermula saat Theo mengikuti ulangan PPKN di sekolahnya. Ketika hasil ulangan dibagikan, Theo melihat nilainya hampir sempurna, yaitu 98. Bagi sebagian anak, nilai itu tentu menjadi sesuatu yang membanggakan. Namun saat mengoreksi kembali jawabnya sendiri, Theo menyadari bahwa ada jawaban yang sebenarnya salah tetapi dibenarkan oleh gurunya.

Di saat itulah konflik batin mulai muncul di dalam dirinya. Theo tahu bahwa nilai tersebut bukan hasil yang sebenarnya, ia bisa saja membiarkan semuanya begitu saja dan menikmati nilai tingginya. Bahkan teman-temannya pun mengetahui bahwa ada kesalahan dalam penilaian tersebut, namun hati Theo merasa tidak senang.

“Saya ingat kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang bercerita tentang kejujuran.”

 

Baca Juga: Dari Anak yang Pemurung Kini Berubah Ceria

 

Di tengah pergumulan itu, Theo teringat pada kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang pernah ia pelajari melalui Superbook. Ia mengingat bagaimana ketiga tokoh Alkitab itu tetap berdiri teguh melakukan yang benar meskipun menghadapi tekanan dan konsekuensi besar. Theo juga teringat firman Tuhan dalam Matius 5:37 yang berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”

Pelajaran itulah yang akhirnya menguatkan Theo untuk mengambil keputusan. Dengan keberanian yang dimilikinya, Theo memilih berbicara langsung kepada gurunya dan mengakui bahwa ada jawaban salah yang keliru dikoreksi menjadi benar. Setelah diperbaiki, nilainya pun turun menjadi sekitar 90-an. Meski kehilangan nilai hampir sempurna, Theo merasa lebih lega karena telah memilih untuk jujur.

Sesampainya di rumah, Theo langsung menceritakan kejadian itu kepada Ayahnya. Mendengar cerita tersebut, sang ayah justru merasa bangga dengan keputusan anaknya. Ia mendukung Theo untuk tetap berkata benar dan tidak mempertahankan nilai yang bukan hasil sebenarnya.

“Saya memang sengaja ingin Theo bersikap jujur.”

Bagi Ayahnya, kejujuran jauh lebih penting daripada sekadar angka di atas kertas. Dukungan dari ayahnya membuat Theo semakin yakin bahwa keputusan yang ia ambil adalah hal yang benar. Dari pengalaman sederhana itu, Theo belajar bahwa berkata benar memang terkadang membutuhkan keberanian, tetapi kejujuran akan selalu membawa damai di hati.

 

Baca Juga: Belajar dari Rut dan Boas, Eunike Tak Lagi Minder Karena Keluarganya Miskin

 

Kini pengalaman itu menjadi pelajaran berhaga bagi Theo untuk terus hidup dalam kejujuran. Melalui kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang ia pelajari di Superbook, Theo memahami bahwa Tuhan ingin setiap anak berani berdiri di pihak yang benar, sekalipun harus menghadapi konsekuensi dari pilihannya.

Ada banyak kisah anak lainnya yang mengalami transformasi yang sama seperti Theo. Temukan kisah-kisah lainnya di website Superbook Indonesia di Super Story Superbook

Halaman :
1

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?