Respon Sukarela dan Hati yang Terpanggil

Renungan Harian / 22 May 2026

Respon Sukarela dan Hati yang Terpanggil
Lori Official Writer
      44

Yesaya 6: 8-9

"Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" Kemudian Firman-Nya: "Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan!"

 

Dalam kehidupan pekerjaan kita, mungkin kita akan berhadapan dengan satu situasi dimana satu kantor sedang mengerjakan satu proyek besar yang harus selesai di hari itu juga. Sehingga sang bos meminta supaya staff bekerja lembur untuk menyelesaikannya sampai malam. Yang artinya harus kerja lembur. Mendengar itu, mungkin sebagian staff akan meresponi dengan perasaan keberatan, pura-pura sibuk atau mencoba mencari-cari alasan untuk tidak terlibat. Dalam situasi ini, hanya orang-orang yang peduli yang akan berani berkata: "Baik pak. Saya bisa bantu untuk menyelesaikannya pak!"

Kondisi serupalah yang sedang dialami Yesaya. Walaupun Tuhan tidak secara spesifik menyebutkan namanya, tetapi dia tergerak untuk meresponi dengan sukarela dan perasaan terpanggil.

"Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6: 8)

Yesaya berani angkat tangan bukan karena dia merasa paling suci atau paling hebat. Tetapi saat itu, dia baru saja mengalami pengampunan dan penyucian dosa secara radikal dari Tuhan. Ketika beban dosanya diangkat, seketika itu juga lahirlah sebuah beban baru di hatinya: beban untuk misi dan pekerjaan Tuhan. Dia menjadi satu dari banyak pekerja yang Tuhan panggil untuk menuai ladang-Nya (Matius 9: 37).

Seringkali dalam perjalanan kekristenan kita, kita sebenarnya pura-pura menyibukkan diri atau melempar panggilan yang kita dengar dari Tuhan kepada orang lain. Padahal sebenarnya Tuhan menaruhkan panggilan yang sama kepada semua orang supaya menjadi pekerja-Nya. Seperti saat Dia memanggil para murid di tepi Danau, sekalipun mereka sudah nyaman dengan kehidupan yang mereka jalani. Tetapi waktu Yesus berkata, "Ikutlah Aku..." (Matius 4: 19), maka mereka pergi. 

Panggilan ini bersifat undangan! Setiap orang mendapatkan bagian yang sama - karena Tuhan tidak tebang pilih. Ya, tidak semua orang bersedia menerimanya, karena hanya orang yang bersedia taatlah yang akan meresponinya dengan sukacita dan hati yang terbeban.

 

Action Praktis:

Ambil waktu lima menit hari ini untuk merenung dan berdoa: "Tuhan Yesus, ini aku, pakailah seluruh keberadaanku untuk menjadi saksi dan saluran kasih-Mu di tempat kerja, keluarga, serta komunitas dimana aku berada hari ini. Amin."

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?