Persoalan gizi anak masih menjadi tantangan serius di sejumlah wilayah pedesaan Papua Barat. Banyak keluarga hidup dengan mengandalkan hasil alam sekitar seperti sayur-sayuran yang ditanam sendiri. Namun, keterbatasan ekonomi membuat asupan protein hewani seperti telur dan ayam belum menjadi prioritas dalam menu harian keluarga.
Penghasilan yang tidak menentu memaksa orang tua lebih memfokuskan pengeluaran pada kebutuhan pokok seperti beras dan mie instan. Akibatnya, sarapan anak-anak kerap hanya berupa teh manis dan umbi-umbian rebus. Kondisi ini berdampak langsung pada tumbuh kembang anak, bahkan tidak sedikit yang menunjukkan tanda kekurangan gizi kronis.
BACA JUGA: Help and Hope Framework Hadir di 84 Lokasi, Hadirkan Transformasi Holistik bagi Keluarga
Melihat kondisi tersebut, Tim Kemanusiaan CBN melalui Obor Berkat Indonesia menghadirkan solusi berbasis pendidikan dan kemandirian melalui program Garden in School. Program ini menjadikan sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga ruang tumbuh bagi kebiasaan hidup sehat dan berkelanjutan.
Bantuan Disalurkan ke 4 PAUD Super5 Papua Barat
Setelah melalui proses pendampingan yang cukup panjang, pada 21–22 April 2026, bantuan Garden in School resmi diserahkan kepada empat PAUD Super5 di Papua Barat, yakni PAUD Dock Prafi, PAUD Imanuel Mbrey Uly, PAUD Makarismos, dan PAUD Wampasi.
Setiap PAUD menerima paket bantuan yang dirancang untuk mendukung pemenuhan gizi anak secara berkelanjutan, meliputi:
Melalui kebun sekolah dan pemeliharaan ayam petelur, anak-anak PAUD kini dapat menikmati tambahan asupan gizi berupa sayur segar dan telur. Asupan ini diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan nutrisi penting bagi pertumbuhan mereka.
BACA JUGA: Sekolah Sementara SD Alur Jambu Aceh Tamiang Resmi Digunakan, Pendidikan Mulai Pulih
Edukasi Gizi hingga Kemandirian Keluarga
Tak hanya berdampak pada anak, program Garden in School juga melibatkan orang tua dan komunitas sekitar. Mereka diajak belajar cara sederhana menanam sayuran dan beternak ayam dalam skala rumah tangga.
Pendekatan ini dinilai efektif karena memberi pengetahuan praktis yang bisa langsung diterapkan di rumah. Dengan begitu, keluarga tidak hanya bergantung pada bantuan, tetapi mulai membangun ketahanan pangan secara mandiri.
Sekolah Lebih Mandiri dan Berkelanjutan
Program ini juga dirancang untuk mendukung kemandirian sekolah. Hasil panen kebun dan telur ayam tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan gizi anak, tetapi juga memiliki potensi sebagai sumber tambahan pemasukan bagi operasional PAUD.
Dengan pengelolaan yang baik, sekolah perlahan dapat mengurangi ketergantungan pada bantuan eksternal. Model ini menunjukkan bahwa solusi gizi anak tidak harus selalu datang dari luar, melainkan bisa dibangun dari lingkungan sekolah sendiri.

BACA JUGA: Ketika Gereja Menabur Harapan Bagi Anak, Orangtua dan Komunitas Sekitarnya
Harapan dari Halaman Sekolah
Tim Kemanusiaan CBN berharap Garden in School menjadi langkah kecil yang membawa perubahan besar. Dari halaman sekolah, kebiasaan hidup sehat mulai ditanamkan sejak dini, lalu bertumbuh bersama komunitas.
Program ini menjadi bukti bahwa upaya peningkatan gizi anak dapat berjalan seiring dengan pendidikan karakter, kemandirian, dan pemberdayaan keluarga. Di tengah keterbatasan, harapan tetap bisa tumbuh, dimulai dari kebun kecil, kandang ayam sederhana, dan komitmen bersama untuk masa depan anak-anak Papua Barat yang lebih sehat.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!