Kalau Tuhan Itu Kasih, Kenapa Yesus Harus Mati di Kayu Salib Dengan Tragis?
Sumber: YouTube Jawaban Channel

Milenial / 8 April 2026

Kalangan Sendiri

Kalau Tuhan Itu Kasih, Kenapa Yesus Harus Mati di Kayu Salib Dengan Tragis?

Claudia Jessica Official Writer
862

“Kalau Tuhan itu kasih, kenapa Yesus harus mati di kayu salib dengan cara yang begitu tragis?”

Banyak orang yang belum percaya, melontarkan pertanyaan di atas. Menariknya, topik ini terasa semakin relevan ketika menjelang Paskah. Apalagi di tengah banyaknya sudut pandang dan keraguan yang muncul di era sekarang.

Menurut Ps. Michael Widjaja dalam podcast Cahaya Bagi Negeri, salib bukan sekadar peristiwa sejarah yang terjadi ribuan tahun lalu. Salib adalah bukti nyata karakter Tuhan.

“Salib Kristus adalah bukti bahwa Tuhan yang enggak kelihatan adalah Tuhan yang menepati janjinya,” ucapnya dengan tegas.

 

BACA JUGA: Salib Bukan Tanda Kekalahan, Justru Kemenangan Sejati

 

Kalimat ini langsung menegaskan bahwa inti dari salib bukan pada penderitaan semata, tapi terletak pada kasih terhadap manusia.

Tuhan yang Lebih Dulu Mengasihi Manusia

Ia juga menjelaskan sesuatu yang sering terbalik dalam cara pandang manusia. Banyak orang berpikir bahwa manusia harus terlebih dahulu berbuat sesuatu untuk mendekat kepada Tuhan. Padahal justru sebaliknya.

“Tuhan tidak meminta manusia untuk melakukan sesuatu terlebih dahulu untuk boleh datang kepada Dia, tapi Dia yang terlebih dahulu mengasihi kita,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Inilah keunikan iman Kristen. Bukan manusia yang mengejar Tuhan, tetapi Tuhan yang datang menghampiri manusia.

 

BACA JUGA: Kalau Yesus Tuhan, Kenapa Dia Membasuh Kaki Para Murid?

 

Menariknya, pembahasan tidak berhenti pada makna pengampunan dosa saja. Ps. Michael mengajak kita untuk melihat salib sebagai sesuatu yang lebih luas.

“Salib bukan hanya sekadar sebuah peristiwa, tapi salib adalah sebuah gaya hidup,” ucapnya.

Artinya, apa yang dilakukan Yesus bukan hanya untuk dipercaya, tetapi juga untuk diteladani oleh para pengikut-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, apakah mengikuti Yesus berarti harus menderita seperti Dia?

Yesus memang menderita, tetapi bukan berarti hidup orang percaya harus identik dengan kesengsaraan. Fokusnya bukan pada penderitaan, melainkan pada nilai kekekalan yang sering kali diabaikan.

 

BACA JUGA: Makna Salib Yesus dan Kasih yang Mengubah Hidupmu Selamanya

 

“Apakah kita hanya tahu Yesus atau kita mengalami Yesus?” tanya Ps. Michael.

Banyak orang meyakini bahwa iman adalah pengetahuan, tetapi menurut Ps. Michael, ketika kita belum mengalami Tuhan, kita akan sering bertanya-tanya dan merasa ragu.

Bagi orang percaya, kita tidak hidup hanya untuk menunggu akhir zaman, melainkan apakah hidup kita sudah mencerminkan siapa yang kita percaya?

 

BACA JUGA: Di Manakah Yesus Selama Tiga Hari Setelah Bangkit dari Kubur, Sebelum Naik ke Surga?

 

Masih banyak perbincangan menarik lainnya yang belum sempat dibahas di sini. Kalau kamu penasaran dengan penjelasan lengkapnya dan ingin menggali lebih dalam, langsung tonton video full episode-nya di YouTube Jawaban berikut ini:

Sumber : YouTube Jawaban Channel
Halaman :
1

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Layanan Doa dan Bimbingan Rohani CBN Indonesia
Shalom 🙏
Terima kasih sudah mengunjungi kami.
Kami ada untuk mendengarkan, mendoakan, dan mendampingi perjalanan Anda.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?