Memperbaiki Tanggul: Biaya dari Kasih yang Proaktif
Sumber: Canva.com/Freepik

Parenting / 26 March 2026

Kalangan Sendiri

Memperbaiki Tanggul: Biaya dari Kasih yang Proaktif

Harry Lee Contributor
241

Kita sering memperlakukan kesehatan mental layaknya alarm kebakaran—kita mengabaikan alat tersebut sampai ia berteriak nyaring, dan pada saat itu, dapur sudah dilalap api. Namun, jika menyangkut kaum muda dalam hidup kita, pendekatan “tunggu dan lihat” adalah sebuah pertaruhan dengan risiko yang terlampau tinggi.

Jika kita TIDAK mengulurkan tangan untuk memperbaiki retakan-retakan kecil dalam jiwa mereka hari ini, pada akhirnya mereka akan kembali kepada kita dengan jiwa yang hancur berkeping-keping, meminta kita membantu mereka memunguti serpihan-serpihan yang telah lumat menjadi debu.

Amsal 27:23-24 (TB) berkata, “Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikanlah kawanan hewanmu. Karena harta benda tidaklah abadi. Apakah mahkota tetap turun-temurun?”

Bayangkan sebuah komunitas yang tinggal di lembah indah yang dilindungi oleh sebuah tanggul besar. Seorang pemimpin yang proaktif berjalan menyusuri dinding tanggul itu setiap hari, mencari titik-titik lembap atau rembesan air yang sangat kecil. Ia tahu bahwa secangkir adukan semen hari ini dapat mencegah bencana besar di hari esok.

Sebaliknya, seorang pemimpin yang reaktif tetap tinggal di desa, menunggu seseorang berteriak memberi kabar bahwa dinding tanggul telah jebol. Pada saat air bah sudah sampai di depan pintu rumah, upaya yang dibutuhkan untuk menyelamatkan kota itu menjadi seribu kali lipat lebih besar, dan trauma akibat banjir tersebut meninggalkan bekas luka yang tak kunjung sembuh sepenuhnya.

 

Baca Juga: Kesepian, Ancaman Kesehatan yang Mengintai di Tengah Kesibukan

 

Kaum muda kita hidup di balik tanggul-tanggul yang terbentuk dari tekanan sosial, hiruk-pikuk dunia digital, dan gejolak kimiawi dalam diri mereka. Jika kita tidak berjalan menyusuri dinding tanggul itu bersama mereka, kita bukan sekadar bersikap “lepas tangan”—kita sedang bersikap tidak siap.

 

Kemenangan di Dunia Nyata: Model Islandia

Pada akhir tahun 1990-an, Islandia mencatat salah satu tingkat penyalahgunaan zat dan masalah kesehatan mental remaja tertinggi di Eropa. Mereka tidak menunggu hingga “banjir” itu memburuk. Sebaliknya, para peneliti seperti Dr. Inga Dóra Sigfúsdóttir beserta timnya memelopori model yang disebut “Planet Youth.” (https://www.eurekalert.org/news-releases/545805)

Alih-alih sekadar menyuruh anak-anak untuk “katakan tidak pada narkoba” (sebuah tindakan reaktif), mereka mengambil langkah proaktif.

Mereka meningkatkan pendanaan untuk kegiatan olahraga dan seni yang terorganisir guna memberikan anak-anak rasa “euforia alami” (natural high) serta rasa memiliki (sense of belonging). Mengesahkan undang-undang untuk menambah waktu yang dihabiskan bersama orang tua.

Mengalihkan beban tanggung jawab dari sang anak kepada lingkungannya.

Hasilnya? Islandia berubah dari negara dengan kaum muda paling bermasalah di Eropa menjadi negara dengan kaum muda paling sehat. Dengan menjawab pertanyaan “mengapa” sebelum masalah tersebut memuncak menjadi sebuah “krisis,” mereka menyelamatkan satu generasi utuh dari gerogotan adiksi dan depresi.

 

Baca Juga: Mengapa Kasus Bunuh Diri di Indonesia Didominasi oleh Remaja?

 

Solusinya: Membangun Pelabuhan Aman

Agar dapat bersikap proaktif, kita harus berhenti bertanya, “Apa yang salah denganmu?” setelah kerusakan terjadi, dan mulai bertanya, “Bagaimana keadaan hatimu?” selagi segalanya masih tampak baik-baik saja.

Jangan menunggu krisis terjadi untuk melakukan percakapan yang mendalam. Jadwalkan waktu khusus yang “tanpa agenda” tertentu – artinya hadirlah dalam kehidupan anak-anakmu dan hadirlah dalam kehidupan para remaja.

Ajarkan kaum muda untuk mengenali dan menyebutkan nama perasaan mereka artinya ajarkan mereka untuk bisa mengkomunikasikan apa yang mereka rasakan. Kita tidak pernah akan dapat mengalahkan raksasa yang tidak dapat kita beri nama.

Bicarakan kesehatan mental sebagai “kesehatan otak”. Jika kita tidak menganggap lengan yang patah sebagai kegagalan moral, kita pun seharusnya tidak menganggap hati yang sedang terbebani sebagai kegagalan moral. Ini adalah tindakan pro-aktif karena kita sedang melakukan “Destigmatisasi.”

Perhatikan adanya “titik-titik basah” seperti pada tanggul sebelum tanggul jebol artinya kita mencari “Peringatan Dini” yang disampaikan anak-anak kita atau para remaja diluar sana.Peringatan dini dapat berupa: sikap menarik diri, hilangnya minat, atau sifat mudah tersinggung. Atasi hal-hal tersebut dengan kelembutan yang disertai dengan empati, bukan dengan kekerasan, bukan dengan makian atau melecehkan apalagi dengan membandingkan dengan anak-anak remaja lain yang tidak bermasalah.

 

Baca Juga: 7 Pesan Tentang Kesehatan Mental dari Drama Korea “Doctor Slump”

 

Apakah kita sedang menunggu datangnya “banjir”, ataukah kita sedang menyusuri tanggul penahannya? Jauh lebih mudah untuk menuntun seekor anak domba yang tersesat kembali ke jalannya, daripada menyelamatkan anak domba yang sudah terperosok jauh ke dalam jurang. Marilah kita menjadi gembala yang senantiasa mengetahui keadaan kawanan domba kita.

 

Doa

"Bapa Surgawi, karuniakanlah kepada kami kepekaan untuk melihat “titik-titik lembap” di dalam hati kaum muda kami, sebelum banjir kehidupan mulai meninggi. Tolonglah kami untuk menjadi gembala yang proaktif, memulihkan keretakan-keretakan itu dengan kasih karunia-Mu, agar tiada satu jiwa pun yang hancur menjadi debu. Lindungilah pikiran mereka, dan kuatkanlah tangan kami untuk membangun pelabuhan-pelabuhan kasih yang aman. Dalam Nama Yesus, Amin."

 

Artikel ini adalah hasil karya dari kontributor kami dan segala isi artikel ini adalah tanggung jawab kontributor.

Halaman :
1

Ikuti Kami