Akhirnya, perayaan Natal di Bethlehem kembali digelar setelah dua tahun terhenti akibat perang Gaza. Momen ini ditandai dengan penyalaan pohon Natal raksasa di Lapangan Manger, tepat di depan Gereja Kelahiran Yesus, tempat yang diyakini umat Kristen sebagai lokasi kelahiran Kristus.
Penyalaan pohon Natal ini menjadi simbol kembalinya harapan bagi warga kota yang selama dua tahun terakhir hidup dalam keheningan tanpa perayaan.
Dua Tahun Tanpa Natal dan Pariwisata
Selama dua tahun perang berlangsung, seluruh perayaan Natal di ruang publik Bethlehem selalu dibatalkan. Padahal, kota yang berada di wilayah Tepi Barat ini sangat bergantung pada sektor pariwisata, terutama pada musim Natal. Dampaknya, kehidupan ekonomi warga nyaris berhenti total.
“Dua tahun terakhir adalah masa yang sangat berat dan sunyi. Tidak ada Natal, tidak ada pekerjaan, tidak ada penghasilan,” kata Wali Kota Bethlehem, Maher Canawati sebagaimana dikutip dari bbc.
Canawati mengungkapkan bahwa sebagian besar warga Bethlehem hidup dari pariwisata, tapi selama konflik berlangsung, sektor tersebut benar-benar terhenti. “Kami hidup dari pariwisata, dan selama ini pariwisata benar-benar nol.”
Keputusan yang Tidak Mudah di Tengah Luka Perang
Canawati mengakui bahwa keputusan untuk kembali menggelar perayaan Natal bukanlah keputusan yang mudah karena penderitaan masih terus dirasakan di Gaza, termasuk oleh komunitas Kristen kecil di wilayah tersebut yang banyak memiliki keluarga di Bethlehem.
“Ada yang bilang ini tidak pantas, ada juga yang bilang pantas,” ujar Canawati.
“Tapi di dalam hati saya, saya merasa ini adalah keputusan yang benar. Natal seharusnya tidak pernah dihentikan atau dibatalkan. Ini adalah terang pengharapan bagi kami,” lanjutnya.
Kota Kembali Bercahaya Menyambut Natal
Suasana perayaan Natal akhirnya mulai terasa di berbagai sudut kota. Lampu-lampu warna-warni menghiasi jalanan Bethlehem, sementara spanduk bazar Natal dan acara anak-anak mulai dipasang.
Warga setempat, baik umat Kristen maupun Muslim, tampak berkumpul dan berfoto di depan pohon Natal yang dihiasi ornamen merah dan emas. Beberapa wisatawan asing juga terlihat hadir, meskipun jumlahnya masih terbatas.
“Kami sangat senang pohon Natal akhirnya kembali menyala, melihat orang asing datang ke Bethlehem, dan bisa merayakan Natal dengan semangat yang sesungguhnya,” kata Nadya Hazboun, salah satu perancang perhiasan lokal.
Bethlehem Ingin Menyampaikan Pesan Damai ke Dunia
Hazboun meyakini bahwa Bethlehem memiliki makna khusus bagi umat Kristen di seluruh dunia. “Di sinilah semuanya bermula. Dari sini kami ingin menyampaikan pesan kepada dunia tentang makna Natal yang sebenarnya,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan harapannya agar suasana Natal tahun ini membawa dampak yang lebih luas. “Jika Natal tahun ini berlangsung damai, saya berharap pesan damai itu bisa dirasakan oleh seluruh dunia,” katanya lagi.
Harapan akan Kembalinya Wisatawan
Kota-kota di sekitar Bethlehem, seperti Beit Jala dan Beit Sahour, juga berencana menyalakan pohon Natal mereka dalam beberapa hari ke depan. Hotel-hotel yang sebelumnya hampir kosong, akhirnya mulai menerima pemesanan, terutama dari warga Palestina yang tinggal di Israel dan sejumlah wisatawan asing.
Namun, kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih. Banyak toko suvenir masih sepi, dan para pemandu wisata terlihat menunggu tanpa aktivitas.
Hamza, seorang pemandu wisata lokal, mengungkapkan bahwa kota ini sangat bergantung pada pariwisata. “Bethlehem adalah kota wisata. Tanpa pariwisata, tidak ada kehidupan,” katanya.
Ia berharap penyalaan pohon Natal ini menjadi awal kembalinya para peziarah. “Kami mulai dengan menyalakan pohon Natal, lalu kami menunggu,” ucapnya.
Perayaan Natal di Bethlehem tahun ini mungkin berlangsung lebih sederhana dibandingkan tahun-tahun sebelum konflik.
Namun bagi warga setempat, kembalinya perayaan ini menjadi tanda bahwa harapan belum padam, dan doa akan damai terus dinaikkan dari kota tempat Natal diyakini bermula.
Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com