Kisah Maria dan Yusuf bukan sekadar bagian dari sejarah Natal, ini adalah kisah tentang iman, ketaatan, dan penyerahan diri yang mendalam kepada Tuhan. Mereka menerima rencana ilahi yang tidak mudah dimengerti, bahkan membawa mereka pada penderitaan dan ketidakpastian. Namun, dari ketaatan mereka, kita belajar bagaimana penyerahan diri dapat membuka jalan bagi kemuliaan Tuhan. Berikut tiga pelajaran penting yang bisa kita petik dari penyerahan diri Maria dan Yusuf.
1. Penderitaan Adalah Bagian dari Rencana Tuhan
Mengikut Yesus tidak selalu berarti hidup tanpa masalah. Seperti Maria dan Yusuf yang harus menghadapi pandangan buruk masyarakat dan perjalanan berat ke Betlehem, kita pun bisa mengalami hal serupa. Namun, penderitaan bukan berarti Tuhan absen, justru di dalamnya, Tuhan sedang bekerja.
“Dan kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia...”
— Roma 8:28
Tuhan memakai setiap kesulitan untuk membentuk karakter kita dan menyiapkan kita bagi rencana-Nya yang lebih besar. Dalam penderitaan, iman kita dimurnikan seperti emas yang diuji oleh api.
2. Penderitaan Memiliki Tujuan
Setiap penderitaan memiliki maksud rohani. Seperti kursi yang menemukan maknanya saat menahan beban, demikian juga hidup kita menjadi berarti ketika menanggung beban bagi Tuhan. Maria menanggung rasa malu dan ketakutan, tetapi di balik itu lahirlah Sang Juruselamat dunia.
“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang jauh lebih besar dari pada semuanya itu.”
— 2 Korintus 4:17
Rasa sakit bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju kemuliaan. Tuhan tidak pernah membiarkan penderitaan kita sia-sia, semuanya dipakai untuk membawa kita lebih dekat pada rencana-Nya yang sempurna.
3. Penyerahan Membuka Jalan bagi Kemuliaan Tuhan
Maria dan Yusuf bisa saja menolak, namun mereka memilih untuk percaya walau tidak mengerti semua rencana Tuhan. Penyerahan diri sejati tidak menuntut kepastian, tetapi mempercayakan diri pada kasih karunia Tuhan.
“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
— Lukas 1:38
“Ketika Yusuf bangun dari tidurnya, ia berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya...”
— Matius 1:24
Ketaatan mereka membuka jalan bagi lahirnya Yesus, sumber keselamatan bagi dunia. Mukjizat sering kali tidak datang melalui kekuatan kita, tetapi melalui penyerahan diri yang penuh iman.
Penyerahan diri Maria dan Yusuf mengajarkan bahwa iman sejati bukan sekadar percaya, tetapi juga berani taat meski tidak tahu hasil akhirnya. Dalam penderitaan, ada maksud Tuhan. Dalam penyerahan, ada kemuliaan Tuhan. Mari belajar untuk menyerahkan hidup sepenuhnya kepada-Nya, sebab di dalam penyerahan itulah kita menemukan damai dan mukjizat sejati.
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
— Amsal 3:5
BACA JUGA:
Berhenti Menghakimi, Mulailah Melayani Seperti Yesus
Ketika Allah Hadir, Keluarga Diselamatkan dan Dikuatkan
Sumber : Jawaban.com